Jalan Gading Surabaya, muncul pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar arsitektur apakah Masjid Cheng Ho dipahami sebagai ruang iman, atau hanya diperlakukan sebagai latar estetika? Simbol akulturasi, sejarah pelayaran, dan identitas Tionghoa-Muslim perlahan bergeser menjadi dekorasi visual di tengah derasnya budaya digital yang serba cepat dan serba dangkal.
Tabooo.id: Vibes – Masjid Cheng Ho Surabaya yang komunitas Tionghoa-Muslim di bawah PITI Surabaya resmikan pada 2002, kini berdiri bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang tafsir identitas yang terus diperdebatkan antara warisan sejarah yang dalam dan konsumsi visual yang instan di era media sosial.
Di Jalan Gading No. 2 Surabaya, bangunan itu terus menarik langkah orang yang melintas. Mereka berhenti sebentar, mengamati, lalu mengangkat kamera. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Namun, bangunan itu tetap menyimpan cerita yang tidak ikut berpindah bersama foto.
Dari kejauhan, pagoda merah langsung mencuri perhatian. Saat orang mendekat, lapisan maknanya justru semakin terasa. Lafaz Allah berdiri di puncak struktur yang menyerupai kelenteng. Ornamen naga melingkar di sisi bangunan tanpa menegasikan identitas Islam yang menguat di dalamnya. Bangunan ini tidak memilih satu wajah; ia merangkai keduanya dalam satu kesatuan yang utuh.
Karena itu, satu pertanyaan sederhana terus muncul: ini masjid atau kelenteng?
Namun semakin orang mencoba memahaminya, jawaban itu tidak pernah mengarah pada satu sisi. Masjid Cheng Ho justru menunjukkan bahwa identitas tidak selalu bekerja dalam bentuk tunggal.
Lahir dari pertemuan, bukan penghapusan
Komunitas Tionghoa-Muslim yang tergabung dalam PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Surabaya menggagas Masjid Cheng Ho sebagai ruang ibadah sekaligus ruang identitas. Mereka tidak memilih antara budaya dan iman. Mereka justru menyatukannya dalam satu ruang yang bisa hidup berdampingan.
Pada 15 Oktober 2001, panitia memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama yang bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj. Mereka memilih momen itu sebagai simbol perjalanan spiritual yang melampaui batas ruang dan identitas.
Setahun kemudian, pada Oktober 2002, bangunan berukuran 11 x 9 meter itu berdiri. Angka 11 merujuk pada dimensi awal Ka’bah. Angka 9 mengingatkan pada Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa. Atap segi delapan mengadopsi filosofi Tionghoa tentang harmoni, sekaligus dipahami sebagai representasi lapisan spiritual Islam: Islam, Iman, dan Ihsan.
Nama Cheng Ho merujuk pada Laksamana Zheng He, pelaut Muslim dari Dinasti Ming. Ia melayari Nusantara melalui jalur perdagangan dan diplomasi, bukan konfrontasi. Sosok ini menegaskan bahwa Islam di wilayah ini tumbuh melalui perjumpaan, bukan penyeragaman.
Ketika gambar lebih cepat dari makna
Masjid ini terus berfungsi sebagai ruang ibadah dan kegiatan sosial. Pengurus menggelar donor darah secara rutin. Mereka juga menyalurkan bantuan kepada warga sekitar. Jamaah tetap hadir untuk beribadah setiap hari.
Namun cara orang melihatnya berubah seiring waktu. Banyak pengunjung datang hanya untuk melihat bangunan itu. Mereka berhenti, mengambil gambar, lalu pergi tanpa menanyakan lebih jauh tentang maknanya. Foto lebih cepat bergerak daripada pengetahuan.
Di media sosial, pagoda merah menjadi simbol visual. Ornamen naga berubah menjadi estetika konten. Warna dan bentuknya menyebar luas tanpa membawa cerita yang menyertainya. Akibatnya, akulturasi yang seharusnya dipahami sebagai proses, berubah menjadi sekadar latar visual.
Akulturasi yang terus bekerja tanpa suara
Meski begitu, Masjid Cheng Ho tetap menjalankan fungsinya sebagai ruang pertemuan budaya dan iman. Setiap elemen bangunan berbicara dalam bahasa yang berbeda, tetapi tidak saling meniadakan. Islam dan budaya Tionghoa bergerak dalam satu struktur yang sama tanpa harus saling menghapus.
Takmir Hariono Ong menegaskan bahwa masjid ini tidak pernah mereka bangun sebagai objek wisata. Ia lahir sebagai ruang ibadah dan simbol perjumpaan identitas yang lama dianggap terpisah.
Namun publik tetap memegang peran besar dalam membentuk maknanya. Cara orang membaca bangunan ini menentukan apakah ia dipahami sebagai warisan, atau sekadar latar foto.
Cermin tentang cara kita melihat perbedaan
Masjid Cheng Ho Surabaya akhirnya tidak hanya berbicara tentang arsitektur. Ia berbicara tentang cara manusia membaca perbedaan.
Ia menunjukkan bahwa identitas bisa hidup dalam banyak lapisan tanpa harus disederhanakan. Namun di era ketika gambar menyebar lebih cepat daripada pemahaman, tantangan itu semakin nyata.
Apakah kita masih datang untuk memahami, atau hanya untuk mengabadikan?
Karena pada akhirnya, Masjid Cheng Ho tidak hanya berdiri sebagai bangunan.
Ia berdiri sebagai pertanyaan yang terus menguji cara kita memandang dunia. @Sabrina Fidhi – Surabaya





