Tidak semua keramaian terasa sama. Namun sore itu di Solo, ribuan orang tidak hanya datang untuk menonton. Mereka datang untuk merasakan bagaimana sebuah tradisi bisa hidup, bergerak, dan menyentuh tanpa perlu banyak kata.
Tabooo,id: Vibes – Sore itu, Solo tidak terasa seperti kota biasa. Jalanan yang biasanya padat kendaraan berubah menjadi ruang napas bersama. Orang-orang berdiri rapat di trotoar, sementara sebagian lainnya duduk di pinggir jalan, menunggu sesuatu yang bukan sekadar tontonan.
Lalu, musik itu datang.
Dari tiga arah berbeda, ratusan penari mulai bergerak. Awalnya perlahan, kemudian semakin teratur, seolah mereka mengikuti ritme yang sudah lama mereka hafal. Kipas terbuka serempak, warna-warna menyatu, dan gerakan yang semula terpisah akhirnya bertemu di satu titik.
Jadi, ini bukan cuma tari. Ini seperti kota yang ikut bergerak.
Di Balik Gerakan, Ada Cerita
Di antara 1.700 penari, ada Raras (28), warga Solo yang ikut ambil bagian. Baginya, momen ini bukan sekadar tampil di depan ribuan orang.
“Latihannya capek, jujur. Tapi pas hari H, rasanya beda. Kayak bukan cuma nari, tapi lagi bawa sesuatu yang lebih besar,” ujarnya.
Sejak kecil, Raras sudah mengenal tari. Namun, baru kali ini ia merasakan pengalaman yang benar-benar kolektif.
“Biasanya tampil di panggung. Sekarang di jalan. Orang-orang lihat dari dekat, jadi energinya kerasa banget,” katanya.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Ini bukan soal aku. Ini soal kita.”
Penonton yang Tidak Sekadar Menonton
Sementara itu, di sisi lain jalan, Budi (38) datang dari Semarang bersama keluarganya. Ia bahkan sudah berdiri sejak sebelum acara dimulai.
“Awalnya cuma penasaran. Tapi pas lihat langsung, merinding sih,” katanya.
Menurutnya, yang membuat acara ini terasa berbeda bukan hanya jumlah penari, melainkan suasana yang tercipta.
“Biasanya orang nonton sambil main HP. Tapi di sini enggak. Semua fokus ke depan. Jadi, kayak semua orang ada di momen yang sama,” ujarnya.
Karena itu, ia tidak merasa sedang menonton pertunjukan biasa.
“Ini bukan event. Ini pengalaman.”
Antara Rekor dan Rasa
Secara angka, Solo Menari 2026 mencatatkan rekor dunia. Ribuan penari, koordinasi besar, serta pengakuan resmi menjadi pencapaian yang tidak kecil.
Namun, yang terasa di lapangan justru bukan angka.
Yang terasa adalah bagaimana ribuan orang bergerak dalam satu ritme. Selain itu, penonton rela berdiri lama tanpa merasa bosan. Bahkan, tradisi pun tampil segar tanpa kehilangan identitasnya.
Di balik semua itu, ada satu hal yang kuat: rasa memiliki.
Budaya yang Tidak Diam
Banyak orang bilang budaya tradisional mulai ditinggalkan. Terlalu kalah cepat dengan dunia digital, atau terlalu sunyi dibanding hiburan modern.
Namun, hari itu Solo memberi jawaban berbeda.
Budaya tidak hilang. Ia hanya menunggu ruang.
Dan ketika ruang itu terbuka, yang muncul bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman bersama. Sesuatu yang tidak bisa di-skip atau di-scroll.
Hanya bisa dirasakan.
Lebih dari Sekadar Satu Hari
Euforia memang terasa kuat. Namun setelah semuanya selesai, muncul pertanyaan yang diam-diam mengendap.
Apakah budaya hanya hidup saat dirayakan besar-besaran?
Atau justru hidup di momen kecil, ketika orang masih mau belajar, menjaga, dan meneruskan?
Kini, Raras kembali ke rutinitasnya. Budi pun pulang ke Semarang. Jalanan kembali normal.
Namun, ada satu hal yang tertinggal.
Ingatan bahwa kota pernah bergerak bersama.
Dan rasa itu tidak mudah hilang. @jeje





