Tragedi Bekasi bukan yang pertama. Namun, jika pola ini terus berulang, besar kemungkinan bukan yang terakhir.
Tabooo.id: Deep – Tabrakan kereta yang menewaskan 14 orang langsung membuka luka lama. Kita sebenarnya sudah lama melihat risikonya. Tetapi, kita terlalu lambat mengatasinya.
Jadi, pertanyaannya tidak lagi sederhana:
kenapa infrastruktur selalu datang setelah tragedi?
Risiko Sudah Lama Terlihat
Di Indonesia terutama di Pulau Jawa perlintasan sebidang bukan hal baru. Bahkan, masyarakat sudah menganggapnya bagian dari rutinitas.
Namun di balik kebiasaan itu, risiko besar terus mengintai.
Data pemerintah mencatat sekitar 1.800 perlintasan kereta berbahaya di Indonesia. Banyak titik masih minim penjagaan. Bahkan, sebagian tidak memiliki sistem pengamanan sama sekali.
Artinya, kecelakaan bukan kejadian acak.
Sebaliknya, ini adalah risiko yang bisa diprediksi.
Sayangnya, meski risikonya jelas, tindakan sering kali tidak mengikuti.
Pola Nasional: Menunggu Sampai Terjadi
Kasus Bekasi memperlihatkan pola yang sama seperti daerah lain.
Sebenarnya, pemerintah daerah sudah lebih dulu mengusulkan pembangunan flyover. Alasannya juga jelas: kepadatan tinggi, mobilitas cepat, dan jalur rel aktif.
Namun, realisasi tidak berjalan cepat.
Sebaliknya, keputusan baru bergerak setelah tragedi terjadi.
Akibatnya, pola lama terus berulang:
risiko diketahui → usulan diajukan → eksekusi tertunda → tragedi terjadi → solusi dipercepat.
Ini bukan kebetulan. Ini pola kebijakan.
Budaya “Reaktif” dalam Pengambilan Keputusan
Masalahnya tidak berhenti di anggaran atau teknis. Justru, akar persoalan ada pada cara kita merespons risiko.
Selama ini, kebijakan cenderung reaktif. Pemerintah bergerak setelah kejadian, bukan sebelum.
Padahal, fungsi utama infrastruktur adalah mencegah, bukan menambal.
Ketika sistem hanya bergerak setelah korban jatuh, maka keselamatan berubah menjadi reaksi bukan prioritas.
Dan di titik itu, risiko justru semakin besar.
Antara Prioritas dan Kecepatan
Saat ini, pemerintah menyiapkan hampir Rp4 triliun untuk membangun flyover, underpass, serta sistem pengamanan tambahan.
Langkah ini jelas penting. Bahkan, sangat mendesak.
Namun, persoalannya bukan hanya soal jumlah anggaran.
Yang lebih krusial adalah waktu.
Kenapa proyek yang sudah jelas kebutuhannya justru menunggu momentum tragis?
Apakah keselamatan harus terlihat “mahal” dulu sebelum dianggap penting?
Ini Bukan Sekadar Bekasi
Bekasi hanya satu titik dalam peta yang jauh lebih besar.
Selama ratusan bahkan ribuan perlintasan masih tanpa pengamanan maksimal, potensi tragedi tetap terbuka.
Selain itu, selama pendekatan kebijakan masih reaktif, pola ini akan terus terulang.
Ini Soal Sistem, Bukan Sekadar Kejadian
Tragedi Bekasi bukan sekadar kecelakaan.
Sebaliknya, peristiwa ini menunjukkan bagaimana sistem bekerja atau justru lambat bekerja.
Kita tidak kekurangan data.
Kita juga tidak kekurangan peringatan.
Namun, kita sering kekurangan satu hal penting:
kecepatan untuk mengambil keputusan.@eko





