Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

by teguh
April 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik membeli pengaruh, memecah persatuan, dan menyusup lewat sosok yang tampak saleh. Jadi, pola lama itu benar-benar mati atau hanya berganti kostum?.

Tabooo.id: Edge – Pada 1873–1904, Aceh menjadi mimpi buruk bagi Belanda. Perang berjalan panjang, mahal, dan menguras tenaga. Meski pasukan kolonial membawa senapan modern, rakyat Aceh tetap menjawab dengan keberanian, keyakinan, dan daya tahan.

Belanda lalu membaca kenyataan pahit: mereka sulit menang jika rakyat tetap kompak. Karena itu, mereka mengubah arah. Jika benteng tak bisa ditembus dari luar, maka celah harus dicari dari dalam.

Masuklah Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang datang bukan sebagai tentara, melainkan sebagai peneliti. Ia memakai nama Abdul Ghaffar, mempelajari Islam, membaca kultur lokal, lalu mengirim peta sosial Aceh kepada pemerintah kolonial.

Ia tidak membawa meriam. Sebaliknya, ia membawa data. Sering kali, data justru lebih mematikan.

Resep Lama Penjajah: Rangkul Elite, Pukul Persatuan

Dalam banyak catatan sejarah, Snouck mendorong Belanda berhenti mengejar simbol kekuasaan. Setelah itu, ia meminta mereka memecah struktur sosial Aceh.

Ini Belum Selesai

Reformasi TNI atau Kembalinya Dwifungsi dalam Wajah Baru?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Strateginya terkenal keras:

“Berhenti mengejar Sultan. Rangkul para bangsawannya dengan jabatan, dan hancurkan ulama yang menjadi motor perlawanan.” Kalimat itu dingin, tetapi berhasil.

Belanda memberi posisi kepada bangsawan. Sementara itu, mereka memburu ulama. Pada saat yang sama, mereka menanam curiga di tengah rakyat. Akhirnya, persatuan mulai retak sedikit demi sedikit.

Apa yang gagal dilakukan peluru, ambisi justru menyelesaikannya.

Sejarawan Anthony Reid menilai kolonialisme sering menang bukan hanya karena senjata, melainkan karena kecakapan membaca konflik lokal. Artinya jelas penjajah jarang bekerja sendirian.

Jabatan Kerap Mengalahkan Harga Diri

Belanda membayar Snouck mahal. Namun biaya terbesar bukan gaji seorang agen. Justru kerugian terbesar muncul ketika elite rela menjual pengaruhnya.

Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengingatkan:

“Bangsa ini jarang kalah oleh musuh luar. Kita lebih sering kalah oleh pengkhianatan dari dalam.”

Ucapan itu terdengar pedas, tetapi sejarah berkali-kali mengiyakan.

Tokoh bangsa Mohammad Hatta juga pernah berkata:

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Tetapi tidak jujur sulit diperbaiki.”

Masalah bangsa ini sering bukan kurang pintar. Sebaliknya, sebagian orang terlalu pintar mencari untung pribadi.

Kini Penjajah Tak Perlu Datang Naik Kapal

Hari ini kolonialisme jarang membawa meriam. Kini ia masuk lewat kontrak, propaganda, polarisasi, utang, dan elite yang lebih mencintai kursi daripada rakyat.

Dulu Aceh terbelah antara bangsawan dan ulama. Sekarang masyarakat bisa pecah karena agama, suku, partai, kelas sosial, bahkan isi media sosial.

Mantan Presiden Soekarno pernah berkata:

“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Ucapan itu terasa relevan ketika rakyat sibuk bertengkar, sedangkan sebagian elite duduk nyaman di meja yang sama.

Siapa Pengkhianat Modern?

Mereka tidak selalu hadir sebagai mata-mata asing. Kadang mereka muncul sebagai:

  • penjual kebijakan demi sponsor
  • pengadu rakyat demi suara
  • penukar sumber daya demi komisi
  • penyebar takut demi kuasa
  • pengibar nasionalisme sambil menggadaikan masa depan

Mereka tak selalu memakai seragam. Kadang cukup memakai jas. Ada pula yang datang dengan senyum. Bahkan sebagian tampil lewat slogan.

Pesan Keras dari Aceh

Aceh memberi pelajaran penting: negeri kuat bukan karena pagar besi, tetapi karena integritas manusianya.

Saat rakyat mudah terpecah, negeri melemah. Ketika elite gampang dibeli, bangsa menjadi murah. Jika sejarah dilupakan, maka pengkhianatan akan kembali dijual sebagai strategi baru.

Sebab kehancuran negara sering tidak dimulai dari ledakan besar. Kadang semuanya berawal dari satu kalimat kecil “Apa untungnya buat saya?”

Closing

Belanda gagal menaklukkan Aceh dengan meriam. Namun mereka menang ketika menemukan orang dalam.

Sekarang pertanyaannya sederhana Jika pola itu datang lagi hari ini, siapa yang sedang membukakan pintu?. @teguh

Tags: BangsaBudayawanEliteModernpresidensejarawanTokoh

Kamu Melewatkan Ini

Saat Budaya Tunduk Menjadi Kearifan Lokal

Saat Budaya Tunduk Menjadi Kearifan Lokal

by Tabooo
Juni 11, 2026

Kritik feodalisme bukan berarti membenci budaya. Yang digugat adalah cara elite memakai tradisi untuk membuat orang kecil tetap menunduk.

Tan Jin Sing: Nama yang Hilang di Balik Kebangkitan Borobudur

Tan Jin Sing: Nama yang Hilang di Balik Kebangkitan Borobudur

by teguh
Juni 1, 2026

Saat ribuan lampion membubung ke langit Borobudur setiap perayaan Waisak, jutaan mata menatap salah satu warisan budaya paling megah di...

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

by teguh
Juni 2, 2026

Ledakan dahsyat yang mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/05/2026) sore, awalnya terlihat sebagai...

Next Post
Amir Syarifuddin: Dari Perdana Menteri ke Regu Tembak

Amir Syarifuddin: Dari Perdana Menteri ke Regu Tembak

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id