Dulu orang datang membawa keris, pasukan, dan cap kerajaan. Kini banyak orang cukup membawa jabatan, akses, dan ego. Wajahnya berubah, tetapi hasrat menguasai orang lain tetap hidup.
Tabooo.id: Edge – Di tengah riuh media sosial dan debat soal kesetaraan, unggahan Historia.id pada Minggu (27/04/2026) kembali mengangkat nama Roro Mendut. Kisah perempuan Jawa yang menolak pejabat istana itu terasa dekat dengan situasi sekarang.
Legenda menyebut Tumenggung Wiraguna jatuh hati pada Roro Mendut. Ia datang dengan status tinggi dan keyakinan bahwa kuasa bisa membeli hati seseorang. Namun Roro Mendut menolak.
Wiraguna lalu menekan hidupnya. Ia memasang pajak tinggi dan berharap penolakan itu runtuh. Dari titik ini, cerita berubah dari kisah asmara menjadi drama kekuasaan.
Jabatan Modern, Mental Lama
Pola lama itu masih berjalan sampai sekarang. Hanya alatnya yang berganti.
Sebagian orang merasa posisi kantor bisa membeli perhatian. Sebagian lain mengira koneksi politik dapat memaksa hormat. Ada juga yang yakin gelar otomatis membuat semua orang patuh.
Saat kritik datang, mereka tersinggung. Ketika penolakan muncul, mereka marah. Begitu pujian berhenti, mereka merasa terhina.
Dulu orang memakai ancaman pajak. Sekarang orang memakai mutasi, intimidasi, pengucilan, atau permainan akses.
Saat Dominasi Dianggap Biasa
Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata, “Dominasi paling kuat adalah dominasi yang dianggap wajar.”
Ucapan itu terasa tajam untuk membaca zaman ini. Bahaya terbesar bukan hanya pelaku kuasa, melainkan budaya yang memaklumi perilaku mereka.
Atasan menggoda bawahan lalu menganggapnya candaan. Pejabat menuntut layanan ekstra lalu menyebutnya tradisi. Orang menuduh perempuan sombong karena berani menolak.
Semua itu terlihat kecil. Namun kebiasaan kecil sering menjaga ketimpangan besar.
Feodalisme Ganti Kostum
Budayawan Y.B. Mangunwijaya melalui trilogi Rara Mendut membaca tokoh ini sebagai simbol manusia kecil yang menjaga harga diri.
Ironisnya, masyarakat modern sering merasa maju, tetapi tetap memelihara feodalisme baru.
Hari ini orang tak butuh singgasana untuk pamer kuasa. Kursi empuk sudah cukup. Centang biru sering terasa cukup. Kartu nama mentereng kadang dianggap cukup.
Keris berubah jadi profil LinkedIn. Tahta berubah jadi title. Ancaman berubah jadi tekanan halus.
Kuasa Bisa Dipelihara Siapa Saja
Penulis feminis bell hooks pernah menulis, “Patriarki tidak punya gender.”
Maknanya jelas. Sistem timpang bisa hidup karena banyak orang menjaganya. Laki-laki bisa menjaga. Perempuan pun bisa menjaga. Siapa saja dapat ikut melestarikan struktur yang menguntungkan dirinya.
Karena itu, persoalan utamanya bukan jenis kelamin. Persoalan utamanya adalah mental merasa berhak atas pilihan hidup orang lain.
Pelajaran dari Roro Mendut
1. Penolakan Adalah Hak
Setiap orang berhak berkata tidak tanpa takut balasan.
2. Jabatan Bukan Magnet Cinta
Posisi memberi wewenang kerja, bukan kuasa atas hati orang lain.
3. Harga Diri Sering Lebih Mahal
Roro Mendut memilih jalan sulit demi kebebasan.
4. Kuasa Tanpa Etika Selalu Rakus
Mental ingin memiliki orang lain terus muncul di banyak zaman.
Tabooo Twist
Ini bukan sekadar legenda lama. Ini cermin yang berdiri di depan kita. Masih banyak Wiraguna modern berkeliaran. Mereka tidak membawa keris. Mereka membawa akses, jaringan, dan posisi.
Jabatan mungkin bisa membuat orang berdiri saat kamu datang. Namun hanya karakter yang membuat orang tetap hormat saat kamu pergi. @teguh





