Di pasar yang riuh, seorang perempuan menjual rokok sambil menjaga harga dirinya. Asapnya tipis, tetapi pesannya tebal tubuh perempuan bukan barang milik kuasa.
Tabooo.id: Vibes – Di tengah arus konten cepat dan debat soal posisi perempuan di ruang publik, unggahan Historia.id pada Minggu, 27/04/2026, membawa kembali nama Roro Mendut. Legenda Jawa itu hidup lagi bukan karena parasnya, melainkan karena keberaniannya menolak tunduk.
Karena itu, Roro Mendut mengingatkan kita bahwa sejak dulu selalu ada perempuan yang memilih harga diri di atas rasa aman.
Satu Kata yang Mengguncang Kuasa
Dalam kisah dari era Mataram abad ke-17, Tumenggung Wiraguna ingin mempersunting Roro Mendut. Pada masa feodal, banyak orang menganggap keinginan penguasa sebagai perintah. Namun, Roro Mendut berkata tidak.
Satu penolakan sering lebih mengguncang kuasa daripada seribu teriakan. Sebab, penguasa terbiasa menerima hormat, bukan bantahan.
Pasar Menjadi Arena Perlawanan
Setelah penolakan itu, pihak istana memberi beban pajak tinggi kepadanya. Dengan begitu, tekanan datang lewat aturan dan ancaman hadir lewat kekuasaan.
Meski begitu, Roro Mendut tidak menyerah. Ia turun ke pasar dan menjual rokok. Dalam cerita populer, dagangannya laris karena kecerdikan dan pesonanya.
Akibatnya, banyak lelaki datang membeli, sementara istana melihat perempuan yang tetap berdiri sendiri.
Ia tidak sekadar menjual tembakau. Sebaliknya, ia menunjukkan cara bertahan tanpa menjual martabat.
Perempuan Kecil yang Membuat Kuasa Gelisah
Budayawan Y.B. Mangunwijaya, lewat trilogi Rara Mendut, melihat tokoh ini sebagai lambang manusia kecil yang berani menantang struktur besar. Karena itu, ia menjadikan Roro Mendut simbol harga diri.
Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata, “Dominasi paling kuat adalah dominasi yang dianggap wajar.”
Kalimat itu terasa dekat dengan kisah ini. Dulu, banyak orang menganggap wajar jika laki-laki berkuasa mengatur hidup perempuan. Namun, Roro Mendut mematahkan anggapan itu.
Istana Kini Berganti Wajah
Hari ini, istana mungkin tidak berdiri dalam bentuk kerajaan. Akan tetapi, kuasa tetap hadir dalam kantor, birokrasi, panggung politik, industri hiburan, dan media sosial.
Karena itu, banyak perempuan masih menghadapi tekanan serupa. Orang menilai tubuh mereka, meremehkan suara mereka, dan menyerang pilihan mereka saat mereka menolak.
Jika dulu kuasa memakai pajak, kini kuasa sering memakai stigma.
Penulis feminis bell hooks pernah menulis, “Patriarki tidak punya gender.” Artinya, sistem timpang bisa bertahan selama orang terus menganggapnya biasa.
Perlawanan Tidak Selalu Berteriak
Tidak semua perlawanan lahir dari pidato. Selain itu, tidak semua keberanian membutuhkan panggung besar.
Kadang, seseorang melawan dengan bekerja mandiri, menolak relasi yang merendahkan, bertahan saat ditekan, dan berkata tidak ketika dunia menuntut iya.
Jadi, Roro Mendut menunjukkan bahwa keberanian sering tumbuh dari sikap tenang yang tak bisa dibeli.
Closing
Beberapa perempuan tidak perlu berteriak untuk mengguncang zaman. Mereka cukup berdiri tegak, menatap kuasa, lalu menolak tunduk. @teguh





