Di balik kemegahan nama Raden Ajeng Kartini sebagai ikon emansipasi perempuan Indonesia, sejarah juga menyimpan kisah lain yang jarang disentuh perjalanan intelektual kakaknya, Raden Mas Panji Sosrokartono. Ia adalah jenius Jawa yang menembus panggung dunia sebagai wartawan perang internasional sekaligus penerjemah diplomasi global.
Tabooo.id: Vibes – Dunia mengenal Sosrokartono sebagai poliglot yang menguasai puluhan bahasa. Ia menyaksikan langsung perundingan rahasia menjelang akhir World War I dan bekerja sebagai penerjemah di League of Nations. Namun tanah airnya sendiri justru jarang menyebut namanya dalam sejarah nasional. Mengapa sosok dengan capaian global seperti Sosrokartono hampir tak hadir dalam ingatan publik Indonesia dan bagaimana mungkin seorang Jawa yang pernah berdiri di jantung diplomasi dunia justru pulang dalam kesunyian sejarah?
Saat Dunia Mengenal Sosrokartoni, Tanah Air Hampir Melupakannya
Nama Raden Ajeng Kartini hampir selalu muncul ketika sejarah Indonesia membahas emansipasi perempuan. Ia menjadi simbol perubahan dan membuka jalan pendidikan bagi perempuan Nusantara yang selama berabad-abad hidup dalam batasan sosial.
Namun keluarga Kartini juga melahirkan sosok lain yang tak kalah luar biasa: Raden Mas Panji Sosrokartono. Meski dunia internasional pernah mengenalnya sebagai intelektual besar dari Timur, sejarah nasional jarang menempatkan namanya di panggung utama.
Sosrokartono lahir pada 10 April 1877 di Pelemkerep, Mayong, Jepara. Desa kecil di pesisir Jawa itu pada akhir abad ke-19 masih jauh dari pusat peradaban global. Namun lingkungan sederhana itu justru melahirkan salah satu intelektual paling mengagumkan dari Nusantara.
Sebagai putra bangsawan Jawa, ia memperoleh pendidikan Barat sejak kecil. Keluarganya mendorongnya melanjutkan studi ke Eropa. Ia kemudian belajar bahasa dan kesusastraan Timur di Leiden University, Belanda.
Di sana, kecerdasannya segera menonjol.
Sosrokartono menunjukkan bakat linguistik yang luar biasa. Ia mempelajari dan menguasai sembilan bahasa Timur serta tujuh belas bahasa Barat. Ia juga memahami bahasa klasik seperti Yunani dan Latin. Kemampuan itu membuat banyak intelektual Eropa memandangnya sebagai sarjana Timur yang langka.
Wartawan Jawa di Tengah Perang Dunia
Kemampuan bahasa membuka jalan bagi Sosrokartono memasuki dunia jurnalistik internasional. Ia bekerja sebagai wartawan perang untuk surat kabar Amerika, The New York Herald Tribune.
Pada masa kolonial, media Barat jarang memberi ruang kepada jurnalis Asia. Namun Sosrokartono berhasil menembus batas itu. Ia menulis laporan perang dalam empat bahasa sekaligus: Inggris, Spanyol, Rusia, dan Prancis.
Laporannya membawa pembaca Eropa dan Amerika ke jantung konflik global. Ia mengikuti berbagai peristiwa penting menjelang berakhirnya World War I. Bahkan ia berhasil meliput perundingan rahasia antara Sekutu dan Jerman mengenai gencatan senjata.
Perundingan tersebut berlangsung dengan pengamanan sangat ketat. Banyak jurnalis Eropa kesulitan mengaksesnya. Namun Sosrokartono berhasil memperoleh informasi dari lingkaran diplomasi itu.
Seorang wartawan dari Jawa berdiri di tengah percakapan besar dunia.
Karier internasionalnya terus berkembang. Pada 1919, organisasi internasional League of Nations menunjuknya sebagai penerjemah resmi. Lembaga itu kemudian berkembang menjadi United Nations.
Di ruang diplomasi internasional, Sosrokartono tidak sekadar menerjemahkan kata. Ia membaca konteks politik, budaya, dan psikologi para diplomat. Kemampuan itu membuatnya sangat dihargai dalam perundingan internasional.
Dunia Menghargai, Tanah Air Terdiam
Kontribusinya selama masa perang menarik perhatian militer Amerika Serikat. Mereka memberinya pangkat mayor kehormatan. Pada masa itu, gajinya sebagai wartawan perang mencapai sekitar 1.250 dolar per bulan jumlah yang sangat besar pada awal abad ke-20.
Namun kisah gemilang itu berubah ketika ia kembali ke Hindia Belanda.
Koloni itu tidak menyambutnya sebagai intelektual kelas dunia. Ia kesulitan memperoleh pekerjaan. Ia juga menolak beberapa tawaran dari pemerintah kolonial karena tidak ingin bekerja dalam struktur kekuasaan tersebut.
Situasi itu membuatnya memilih jalan berbeda.
Ia kemudian mengajar di Taman Siswa Bandung bersama tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Melalui pendidikan, ia ingin membantu membangun kesadaran bangsa yang masih berada di bawah penjajahan.
Seiring waktu, ia semakin menjauh dari kehidupan publik.
Ia menjalani kehidupan spiritual dan membantu masyarakat sebagai mantri kesehatan. Banyak orang percaya bahwa ia memiliki kemampuan penyembuhan. Masyarakat sekitar menghormatinya, tetapi kehidupan yang sunyi itu membuat namanya semakin jarang muncul dalam catatan sejarah.
Jejak Seorang Jenius yang Sunyi
Raden Mas Panji Sosrokartono meninggal dunia pada 8 Februari 1952 di Bandung. Keluarganya kemudian memakamkannya di Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah.
Di nisannya tertulis kalimat Jawa yang sederhana tetapi sarat makna:
“Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, tan ngasorake.”
Kaya tanpa harta.
Sakti tanpa kesaktian.
Menyerbu tanpa pasukan.
Menang tanpa merendahkan.
Kalimat itu menggambarkan jalan hidup Sosrokartono.
Ia pernah berdiri di panggung dunia. Ia menguasai puluhan bahasa, meliput perang terbesar abad ke-20, dan menerjemahkan diplomasi antarbangsa. Namun sejarah nasional jarang mengangkat kisahnya.
Barangkali karena Sosrokartono tidak membangun citra kepahlawanan yang dramatis. Ia tidak memimpin perang, tidak mengejar jabatan politik, dan tidak meninggalkan manifesto besar.
Ia memilih berjalan melintasi dunia dengan ilmu lalu pulang ke tanah air dalam kesunyian. @dimas





