Tabooo.id: Edge – Kalau politik diibaratkan kelas matematika, DPR mungkin jadi tempat di mana “1 + 1 = kompromi.”
Dan kalau kamu tanya siapa gurunya? Ya jelas, Bu Puan.
Ketua DPR RI itu baru saja berbagi cerita soal betapa ribetnya jadi pimpinan DPR. Katanya, ia harus mengatur delapan fraksi agar tetap sejalan “demi bangsa.”
Tapi ya gitu, kadang jalannya ke arah bangsa, kadang malah ke arah masing-masing.

Puan Maharani dan Rumus Politik Tak Pasti
Dalam acara Parlemen Remaja di Senayan, Puan tampil bak political mom friend bijak, sabar, tapi tetap realistis.
“Namanya politik itu nggak bisa mau-maunya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa politik bukanlah “hitungan satu tambah satu.”
Masuk akal, sih. Soalnya di DPR, satu tambah satu bisa berarti sembilan kursi tambahan.
Puan menegaskan bahwa perbedaan di DPR harus selesai lewat musyawarah, bukan drama.
Menurutnya, perdebatan keras tetap boleh terjadi, asalkan jangan ditonton publik.
Wah, berarti yang sering kita lihat di siaran rapat itu cuma latihan akting ya?
Oscar perlu bikin kategori baru: Best Kompromi Kolektif.
Gen Z, Saatnya Turun ke Arena Politik
Tapi bagian paling menarik bukan soal dramanya, melainkan ajakan Puan untuk generasi muda.
Ia mengajak anak muda supaya tidak antipolitik.
“Kalau mau membangun bangsa, harus lewat lembaga politik,” tegasnya.
Pernyataannya masuk akal. Kalau Gen Z cuma nonton dan komentar di Twitter, siapa yang bakal duduk di kursi rapat nanti?
Masalahnya, banyak anak muda sekarang lebih percaya sama AI daripada parpol, lebih nyaman debat di Discord ketimbang di ruang sidang.
Wajar sih, soalnya rapat online teman kampus aja sering lebih produktif daripada sidang resmi.
Politik Kita, Logika yang Sering Diskon
Tapi di balik semua guyonan itu, ada sindiran serius buat kita.
Kita sering menertawakan politik seolah itu hiburan mingguan, padahal yang sedang dimainkan adalah masa depan kita sendiri.
Kalau generasi muda terus cuek, kursi-kursi DPR bakal diisi lagi oleh orang-orang yang menganggap kompromi itu bagi-bagi jatah, bukan bagi-bagi ide.
Jadi, Puan mungkin benar. Politik memang bukan hitungan 1 tambah 1.
Kadang hasilnya 3, kadang malah minus satu tergantung siapa yang pegang kalkulator.
Tapi kalau generasi muda mulai ikut main, mungkin hasilnya bisa lebih masuk akal.
Bukan karena rumusnya berubah, tapi karena pemainnya ganti.
Punchline:
Di negeri ini, yang sering salah bukan logikanya… tapi siapa yang ngitung. @dimas





