Surabaya, awal abad ke-20. Di sebuah gang sempit bernama Peneleh, suara langkah kaki menyentuh tanah yang masih basah setelah hujan. Sementara kota masih tidur, di rumah sederhana itu masa depan Indonesia justru sedang tumbuh diam-diam di antara lampu redup, kasur tipis, dan percakapan yang menolak selesai. Malam di Gang Peneleh nyaris tak pernah benar-benar sunyi. Dari balik jendela kayu rumah kos milik H.O.S. Tjokroaminoto, suara diskusi kerap memanjang hingga larut. Kata-kata tentang keadilan, harga diri, penjajahan, dan kemerdekaan terus berputar di ruang sempit itu. Rumah tersebut bukan istana. Bahkan, tempat itu juga bukan gedung parlemen atau markas militer. Namun justru dari ruang sederhana itulah gagasan besar mulai mencari bentuk Belanda menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota. Julukan itu muncul karena pengaruh Tjokroaminoto begitu besar di tengah rakyat bumiputra. Melalui Sarekat Islam, ia menyalakan keberanian pada masa ketika banyak orang dipaksa tunduk. Ia pernah meninggalkan kalimat yang terus hidup sampai sekarang “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepandai-pandai siasat.” Sekilas kalimat itu terdengar sederhana. Akan tetapi, di dalamnya tersimpan peta jalan belajar setinggi mungkin, memegang nilai sekuat mungkin, lalu bergerak secermat mungkin.
Tabooo.id: Vibes – Di rumah kos itu, beberapa anak muda datang dengan kepala penuh tanya dan dada penuh gelisah.
Salah satunya ialah Soekarno. Saat itu ia masih muda, haus ilmu, dan sedang belajar merakit kata menjadi tenaga politik. Di bawah atap Peneleh, ia menyerap pidato, keberanian, serta cara memimpin massa. Kelak, pada 17/08/1945, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Sementara itu, Semaoen melihat ketimpangan sosial dan memilih jalan sosialisme.
Di sisi lain, Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo menempuh jalur Islam politik radikal. Kemudian, pada 07/08/1949, ia memproklamasikan Negara Islam Indonesia.
Mereka belajar dari sumber yang sama. Meski begitu, mereka berjalan ke arah yang sangat berbeda.
Sejarawan M.C. Ricklefs menulis bahwa Indonesia modern dibentuk oleh tarik-menarik nasionalisme, Islam politik, dan sosialisme. Menariknya, tiga arus besar itu pernah duduk di meja yang sama.
Rumah Kecil, Ledakan Besar
Di sinilah ironi sejarah terasa begitu tajam. Sang guru melahirkan murid-murid raksasa. Namun pada akhirnya, sejarah membuat para raksasa itu saling berbenturan.
Karena itu, Gang Peneleh memberi pelajaran jujur pendidikan tidak mencetak salinan. Pendidikan melahirkan tafsir.
Sejarawan Sartono Kartodirdjo pernah menilai Tjokroaminoto sebagai tokoh yang mengubah rakyat dari sekadar tunduk menjadi sadar hak politik. Jadi, ia bukan hanya mengajar, melainkan membangunkan kesadaran. Dan bagi penjajah, kesadaran semacam itu jauh lebih berbahaya.
Kalau Peneleh Ada Hari Ini
Bayangkan jika rumah itu berdiri di zaman sekarang.
Mungkin kamar kosnya berisi anak muda dengan laptop murah, kopi sachet, dan Wi-Fi yang putus-putus. Lalu mereka berdebat soal demokrasi, lingkungan, korupsi, atau masa depan kerja. Setelah ribut panjang, mereka mungkin tertawa lagi.
Masalahnya, hari ini kita punya banyak ruang bicara, tetapi semakin sedikit ruang berpikir.
Media sosial memang penuh suara. Sayangnya, tidak selalu penuh makna. Perbedaan kerap berubah menjadi makian. Debat berubah menjadi konten. Bahkan, algoritma sering lebih menyukai kemarahan daripada kedalaman.
Karena itulah, Gang Peneleh mengingatkan sesuatu yang mulai langka bangsa besar lahir dari percakapan panjang, bukan dari komentar pendek.
Jangan Remehkan Tempat Kecil
Rumah kos itu sederhana. Gang itu sempit. Kamarnya mungkin pengap.
Meskipun begitu, sejarah berkali-kali membuktikan bahwa ide besar sering lahir dari tempat yang tidak dianggap.
Ia bukan muncul dari ruangan ber-AC.
Ia bukan lahir dari panggung megah.
Ia juga bukan datang dari orang yang paling ramai bicara.
Sebaliknya, gagasan besar tumbuh dari mereka yang tekun belajar, berani berbeda, dan sabar menyusun masa depan.
Budayawan Emha Ainun Nadjib kerap mengingatkan bahwa bangsa yang lupa pada guru-gurunya akan kehilangan akar moral. Dalam konteks ini, Tjokroaminoto bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa peradaban selalu dimulai dari orang yang mau membimbing.
Penutup
Gang Peneleh hari ini mungkin hanya jalan biasa bagi sebagian orang. Rumah tua itu mungkin tampak sederhana di tengah kota yang terus berlari.
Namun jika dindingnya bisa bicara, mungkin ia akan berbisik “Indonesia pernah bermimpi di sini.”
Lalu, siapa tahu, malam ini di sebuah kamar kos lain yang jauh dari sorotan, mimpi besar berikutnya sedang tumbuh diam-diam. @teguh





