Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tukang Parkir Itu Gangguan atau Penjaga yang Kita Abaikan?

by eko
April 25, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Kita sering bilang tukang parkir “cuma minta uang”. Tapi kalau suatu hari mereka berhenti jaga, kamu yakin masih nyaman ninggalin motor?

Tabooo.id: Talk – Kalau kamu pernah kesel bayar parkir, kamu nggak sendirian. Tapi sebelum menyimpulkan mereka cuma “minta uang”, coba tanya dulu: apa yang sebenarnya mereka lakukan saat kamu tidak melihat?

Kita jujur aja. Berapa kali kamu ngedumel tiap bayar parkir?

“Lah, cuma berdiri doang kok minta uang.”
“Ini mah pungli kecil-kecilan.”
“Atur parkir juga enggak.”

Narasi itu udah jadi kebiasaan. Bahkan mungkin refleks.

Tapi coba bayangin satu momen ini.

Ini Belum Selesai

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

Kamu lagi makan di dalam. Hujan deras. Kamu aman, kering. Tapi di luar, ada tukang parkir yang tetap berdiri ngelapin jok motor kamu pakai kanebo, nutup helm pakai plastik, mindahin motor biar gak kena hujan.

Pertanyaannya: kalau itu kejadian ke kamu, masih mau bilang mereka “cuma berdiri”?

Kita Marah ke Orang yang Paling Terlihat

Masalahnya mungkin bukan sekadar tukang parkir.

Masalahnya: mereka adalah “wajah paling dekat” dari sistem yang berantakan.

Parkir liar? Mereka yang disalahkan.
Tarif gak jelas? Mereka yang disalahkan.
Tidak ada standar? Mereka juga yang kena.

Padahal, mereka sering cuma berada di posisi paling bawah.

Mereka bukan pembuat aturan.
Mereka bukan penentu sistem.

Tapi mereka yang paling sering menerima keluhan.

Antara Realita dan Persepsi

Di kepala kita, tukang parkir = orang yang minta uang.

Di lapangan, banyak dari mereka = orang yang bantu, jaga, dan kadang melakukan lebih dari yang kita lihat.

Masalahnya, kita jarang benar-benar memperhatikan.

Kita datang → parkir → pergi.
Selesai.

Padahal, ada aktivitas yang terjadi di sela-sela itu.

Dan justru di situ nilai kerjanya muncul.

Jadi Ini Soal Siapa?

Apakah semua tukang parkir baik? Jelas tidak.

Apakah semua sistem parkir rapi? Juga tidak.

Tapi menyederhanakan semuanya jadi “mereka cuma minta uang” mungkin terlalu malas untuk berpikir.

Karena realitanya lebih rumit dari itu.

Ada sistem informal, Ada ekonomi kecil yang hidup dari sana dan orang-orang yang menggantungkan hidup di ruang abu-abu.

Dan kita sebagai pengguna ada di tengah semua itu.

Kita Mau Nyaman, Tapi Gak Mau Melihat

Lucunya, kita ingin motor aman.
Kita ingin parkiran rapi.
Kita ingin ada yang bantu.

Tapi kita juga tidak ingin membayar dengan ikhlas.

Di titik ini, kita mulai kontradiktif.

Kita ingin layanan, tapi menolak keberadaan orang yang memberi layanan itu.

Lalu, Harus Gimana?

Ini bukan soal membela atau menyalahkan.

Ini soal jujur melihat realita.

Kalau sistem parkir memang bermasalah, ya kritik sistemnya.
Kalau ada tukang parkir yang tidak bekerja dengan benar, ya itu juga valid untuk dikritik.

Tapi kalau ada yang bekerja dengan niat dan tanggung jawab, apakah masih adil kalau kita tetap menyamaratakan?

Pertanyaan yang Gak Enak

Mungkin pertanyaan paling jujur bukan tentang mereka.

Tapi tentang kita.

Apakah kita benar-benar melihat?
Atau kita cuma melihat apa yang kita mau lihat?

Karena bisa jadi, masalahnya bukan di tukang parkir.

Tapi di cara kita memandang mereka.@eko

Tags: Fenomena Sosialkritik sosialOpini PublikOpini Tabooopekerja informalrealita sosialSoloSurakartaTabooo Talk

Kamu Melewatkan Ini

Bangsawan Turun ke Rakyat, Memangnya Kenapa?

Bangsawan Turun ke Rakyat, Memangnya Kenapa?

by Tabooo
Juni 13, 2026

Ketika bangsawan turun ke rakyat, sebagian orang justru gelisah. Mungkin yang mereka lindungi bukan martabat, melainkan hierarki yang selama ini...

Saat Budaya Tunduk Menjadi Kearifan Lokal

Saat Budaya Tunduk Menjadi Kearifan Lokal

by Tabooo
Juni 11, 2026

Kritik feodalisme bukan berarti membenci budaya. Yang digugat adalah cara elite memakai tradisi untuk membuat orang kecil tetap menunduk.

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Next Post
9 to 5 tapi Hidup Nggak Naik?

9 to 5 tapi Hidup Nggak Naik?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id