Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Cuma Tarik Uang: Saat Hujan, Tukang Parkir Ini Bekerja Lebih

by eko
April 24, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Kita sering menganggap tukang parkir hanya berdiri, meniup peluit, lalu meminta uang. Tapi bagaimana jika, di saat kita berteduh dari hujan, justru mereka yang menjaga barang kita tetap kering?

Tabooo.id: Regional – Hujan turun deras sore itu. Jalanan basah, langit menggelap, dan orang-orang bergegas mencari tempat berteduh. Sebagian berlari masuk ke rumah makan, sebagian lagi menepi di bawah kanopi.

Tapi di sudut parkiran itu, satu orang tetap berdiri. Seorang tukang parkir. Tanpa tempat berlindung yang layak. Tanpa perlindungan dari hujan yang makin deras. Ia tetap di sana, bukan untuk berteduh, melainkan untuk menjaga.

Motor-motor yang ditinggalkan pemiliknya satu per satu ia perhatikan. Air mulai menggenang di jok. Helm-helm perlahan basah. Dan tanpa ada yang meminta, ia mulai bergerak.

Bukan Berteduh, Tapi Bertahan

Ia mengambil kanebo, lalu mengelap jok motor satu per satu.

Gerakannya sederhana, tapi berulang.

Ini Belum Selesai

Kemasan Diseragamkan: Pemerintah Persempit Ruang Promosi Industri Rokok

77 Ribu Calon Siswa Belum Tertampung Sekolah Negeri Jabar Cari Solusi

Helm yang tertinggal ia tutup dengan plastik. Posisi kendaraan ia geser sedikit demi sedikit agar tidak terkena tampias hujan.

Tidak ada fasilitas khusus. Hanya inisiatif.

Di tengah hujan yang makin deras, ia justru bekerja lebih keras.

Lebih dari Sekadar “Tarik Uang”

Selama ini, profesi tukang parkir sering dipersempit dalam satu persepsi: orang yang berdiri, memberi isyarat, lalu meminta uang.

Sebagian orang bahkan melihatnya sebagai gangguan kecil yang “terpaksa” dibayar.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Mereka mengatur kendaraan agar tidak semrawut. Mengawasi dari risiko pencurian. Membantu keluar masuk kendaraan di ruang sempit. Dan dalam kondisi tertentu, seperti hujan, mereka menjadi penjaga yang bahkan lebih peduli daripada pemiliknya sendiri.

Masalahnya, kerja-kerja seperti ini jarang terlihat.

Yang Kita Lihat vs Yang Sebenarnya Terjadi

Kita datang, parkir, lalu pergi. Interaksi kita dengan tukang parkir sering hanya beberapa detik. Setelah itu, kita tidak tahu apa yang terjadi.

Kita tidak tahu bagaimana mereka berdiri berjam-jam di bawah panas atau hujan.
Kita tidak tahu bagaimana mereka menjaga barang milik orang lain tanpa jaminan apa pun.

Dan karena kita tidak melihat, kita cenderung meremehkan.

“Saya sempat kaget. Waktu balik, jok motor saya sudah kering, helm juga ditutupin plastik. Padahal hujan deras banget tadi,” kata Putra (23), pengunjung rumah makan asal Wonogiri.

“Jujur, biasanya saya mikir tukang parkir ya cuma bantu arah parkir. Tapi ini beda. Dia benar-benar jagain. Jadi ngerasa oh, ternyata kerja mereka gak sesederhana yang saya kira.” tambahnya.

Kerja Nyata, Penghargaan Minim

Di balik dedikasi itu, ada realitas yang jarang dibahas.

Sebagian besar tukang parkir bekerja dalam sistem informal. Tanpa kontrak jelas, jaminan kesehatan dan perlindungan.

Penghasilan mereka pun tidak menentu. Bergantung pada jumlah kendaraan, lokasi, bahkan cuaca.

Ironisnya, di tengah ketidakpastian itu, banyak dari mereka tetap memilih bekerja dengan tanggung jawab penuh.

Bukan karena diawasi. Bukan karena aturan.

Tapi karena ada kesadaran: kalau orang sudah menitipkan, berarti harus dijaga.

Ini Bukan Cuma Soal Parkir

Cerita ini bukan sekadar tentang tukang parkir.

Ini tentang bagaimana kita melihat pekerjaan orang lain. Tentang bagaimana kita memberi label tanpa memahami proses di baliknya.

Banyak pekerjaan yang terlihat sederhana, tapi menyimpan tanggung jawab besar.

Siapa yang Sebenarnya Kurang?

Kita mungkin pernah merasa keberatan saat harus membayar parkir.

Tapi setelah melihat satu adegan sederhana seorang tukang parkir mengeringkan jok motor di tengah hujan pertanyaan itu berubah.

Apakah benar mereka tidak bekerja?

Atau justru kita yang tidak pernah benar-benar melihat?

Karena bisa jadi, selama ini bukan mereka yang kurang.

Tapi kita yang kurang peduli.@eko

Tags: Berita ViralHujan derasHuman InterestKisah NyataKota SoloNasionalparkirpekerja informalrealita sosialRefleksi SosialSoloSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Next Post
Guru Honorer Tak Digaji Berbulan-bulan, Saat Birokrasi Lebih Cepat dari Keadilan?

Guru Honorer Tak Digaji Berbulan-bulan, Saat Birokrasi Lebih Cepat dari Keadilan?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id