Peringatan 28 tahun Tragedi Mei 1998 dan Trisakti kembali membuka satu pertanyaan yang belum selesai: apakah kita benar-benar memahami akar kegagalannya, atau hanya menyimpannya sebagai luka tanpa pembacaan ulang terhadap sistem yang melahirkannya?
Tabooo.id: Deep – Selama ini kita membaca 13-15 Mei 1998 sebagai potongan sejarah Trisakti, kerusuhan, lalu reformasi. Namun jika kita tarik lebih dalam, peristiwa itu tidak berdiri sendiri. Krisis ekonomi menghantam fondasi negara, ketegangan sosial menumpuk tanpa saluran, dan kekuasaan kehilangan kendali saat tekanan mencapai titik balik.
Akibatnya, peluru menembus mahasiswa, api merambat ke kota, dan ketakutan menyebar lebih cepat daripada informasi. Dalam tiga hari itu, negara bukan hanya menghadapi kerusuhan tetapi juga runtuhnya rasa aman sebagai pengalaman kolektif.
Hari Ketika Mahasiswa Menjadi Alarm
12 Mei 1998, mahasiswa Universitas Trisakti turun ke jalan dengan satu tuntutan reformasi. Mereka bergerak tanpa senjata, tetapi membawa tekanan publik yang sudah lama menumpuk.
Namun situasi berubah cepat. Aparat menghadang massa. Empat mahasiswa akhirnya tewas tertembak:
- Elang Mulia Lesmana
- Heri Hertanto
- Hafidin Royan
- Hendriawan Sie
Sejak saat itu, Trisakti tidak lagi sekadar aksi demonstrasi. Peristiwa ini berubah menjadi titik ledak yang memicu kemarahan lebih luas di seluruh kota.
Jakarta yang Kehilangan Rem
Sehari setelah tragedi itu, Jakarta memasuki fase yang berbeda. Suasana duka bergeser menjadi kemarahan yang sulit dikendalikan.
Di Grogol, massa membakar truk sampah. Mereka mencabut rambu jalan dan merusak fasilitas umum. Selain itu, beberapa pusat perbelanjaan ikut terdampak. Aksi itu menyebar cepat, sementara aparat kehilangan ritme pengendalian situasi.
Pada titik ini, kota tidak lagi bergerak dalam satu arah. Ia bergerak dalam ledakan emosi yang terfragmentasi.
Ketika Amarah Menyasar Identitas
Memasuki 14 Mei 1998, pola kekerasan berubah bentuk. Bukan hanya soal kerusuhan, tetapi juga soal target sosial.
Etnis Tionghoa menjadi sasaran dalam berbagai penjarahan dan pembakaran. Toko, rumah, dan usaha dirusak secara sistematis di banyak lokasi. Di sisi lain, kekerasan seksual terhadap perempuan juga terjadi dan meninggalkan trauma yang panjang serta jarang dibahas secara utuh di ruang publik.
Sementara itu, rumor menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Kebencian menemukan jalannya sendiri, tanpa filter informasi yang memadai.
Hari Kota Menjadi Ruang Terbakar
Pada 15 Mei 1998, situasi mencapai puncaknya. Mall Klender dan Ciledug Plaza berubah menjadi ruang tragedi. Ratusan orang dilaporkan tewas, banyak di antaranya terjebak saat api membesar di tengah penjarahan.
Di berbagai kota lain seperti Solo, Medan, Surabaya, hingga Palembang, pola serupa terjadi. Pabrik dibakar, rumah dirusak, dan jalan diblokir. Negara tampak tidak hadir di tengah warganya sendiri.
Akibatnya, angka korban jiwa dalam rangkaian kerusuhan ini diperkirakan mencapai lebih dari seribu orang di berbagai wilayah.
Bukan Ledakan, Tapi Akumulasi
Meski terlihat seperti letupan spontan, Mei 1998 sebenarnya tumbuh dari proses panjang.
Krisis ekonomi melemahkan daya hidup masyarakat. Ketegangan sosial tidak pernah dikelola secara tuntas. Di saat yang sama, kepercayaan terhadap institusi terus menurun.
Ketika ketiga elemen itu bertemu, yang runtuh bukan hanya kontrol keamanan. Yang ikut runtuh adalah batas moral di ruang publik.
Yang Tidak Pernah Pulih
Di balik statistik, ada kehidupan yang tidak kembali seperti semula.
Banyak keluarga kehilangan anggota tanpa kesempatan perpisahan yang layak. Sementara itu, para penyintas membawa trauma yang jarang mendapat ruang pemulihan yang memadai. Bahkan hingga hari ini, sebagian ingatan itu tetap hidup dalam diam.
Di sisi lain, generasi setelahnya tumbuh dengan satu pertanyaan yang terus berulang, mengapa negara bisa begitu jauh ketika warganya paling membutuhkan perlindungan?
Sejarah yang Dirapikan
Mei 1998 sering ditempatkan sebagai pintu masuk reformasi. Namun narasi itu kerap merapikan kekerasan yang terjadi di belakangnya.
Padahal, di lapangan, situasinya jauh lebih kompleks. Ketakutan menyebar luas. Informasi terputus. Dan kontrol sosial melemah di banyak titik sekaligus.
Lebih jauh lagi, peristiwa ini menunjukkan satu pola penting: ketika institusi kehilangan legitimasi, masyarakat tidak lagi bergerak dengan arah yang jelas. Dalam kondisi seperti itu, kelompok paling rentan selalu menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya.
Penutup
Lebih dari dua dekade berlalu, Mei 1998 tetap tidak sepenuhnya selesai sebagai ingatan kolektif.
Ia masih hadir dalam diskusi publik, dalam trauma yang diwariskan, dan dalam cara kita memahami relasi antara negara dan warga.
Pada akhirnya, satu pertanyaan tetap menggantung tanpa jawaban yang benar-benar nyaman, apa yang sebenarnya sudah kita pelajari dari peristiwa ini dan apa yang masih kita biarkan tetap berpotensi terulang? @dimas





