Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kalau Bumi Makin Rusak, Apakah Itu Masih Bisa Disebut Pembangunan?

by dimas
April 23, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Selama ini krisis iklim kita bicarakan sebagai isu lingkungan yang jauh dari rutinitas sehari-hari. Namun di balik setiap kebijakan yang tertunda, ada generasi yang sudah memikul risiko yang tidak pernah mereka pilih sendiri sejak awal.

Tabooo.id: Talk – Pada peringatan Hari Bumi tahun ini, dorongan untuk segera membahas dan mengesahkan RUU Keadilan Iklim kembali menguat. Pertanyaan pun bergeser. Bukan lagi sebatas komitmen lingkungan di atas kertas, tetapi apakah negara benar-benar mengakui bahwa krisis iklim juga melanggar hak asasi manusia, terutama bagi generasi yang belum lahir.

Kita sering berbicara tentang masa depan. Namun kita jarang benar-benar menyiapkan bumi untuk mereka yang akan hidup setelah kita. Di Hari Bumi ini, pertanyaan yang mengganggu itu kembali muncul: apakah negara sedang merawat planet ini, atau justru sedang mewariskan kerusakan yang sudah terlanjur dianggap biasa?

Bumi yang Tak Lagi Netral

Pada 2022, seorang ibu bersama 12 warga negara lainnya mengajukan pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Mereka tidak mencari panggung. Mereka membawa tuduhan serius: krisis iklim telah berubah menjadi pelanggaran HAM.

Argumennya sederhana, tetapi tegas. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM menegaskan bahwa negara memegang kewajiban untuk melindungi hak hidup warganya. Artinya, negara tidak boleh diam ketika krisis mengancam hak tersebut, termasuk krisis iklim yang terus memburuk.

Namun setelah lebih dari tiga tahun, pengaduan itu belum menghasilkan langkah besar. Komnas HAM belum menjadikannya dasar kebijakan nasional yang kuat.

Ini Belum Selesai

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

Situasi ini memunculkan satu pertanyaan penting: apakah negara menganggap krisis ini belum cukup mendesak untuk ditangani secara serius?

Anak-Anak yang Sudah Kalah Sebelum Tumbuh

UNICEF pada 2023 mencatat lebih dari 43 juta anak terdampak bencana iklim dan terpaksa mengungsi di 44 negara. Lembaga itu juga memproyeksikan angka tersebut bisa melonjak hingga 96 juta di masa depan.

Indonesia masuk dalam kelompok negara dengan risiko tinggi bagi anak-anak akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

Namun di ruang kebijakan, banyak pihak masih mempersempit isu ini hanya pada transisi energi.

Sementara itu, pembahasan tentang adaptasi, kerugian ekologis, dan kehilangan permanen masih berjalan di pinggir meja kebijakan.

Pembangunan yang Tidak Pernah Bertanya

Di sisi lain, agenda pembangunan terus berjalan tanpa jeda. Pemerintah menjalankan Proyek Strategis Nasional, sementara deforestasi terus terjadi dengan dalih legal. Kritik dari masyarakat adat sering diposisikan sebagai hambatan.

Negara mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi jarang mengajukan pertanyaan mendasar: pembangunan ini menguntungkan siapa, dan siapa yang justru menanggung dampaknya?

Generasi yang belum lahir tidak pernah hadir dalam ruang perencanaan. Namun kebijakan hari ini tetap menentukan hidup mereka di masa depan.

Keadilan Antargenerasi yang Sering Berhenti di Wacana

Konsep keadilan antargenerasi menegaskan bahwa setiap generasi wajib menjaga bumi agar tidak lebih buruk dari kondisi saat mereka menerimanya. Prinsip ini sudah tercantum dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Artinya jelas bumi bukan hanya warisan, tetapi juga tanggung jawab.

Namun dalam praktiknya, banyak kebijakan masih mengutamakan pertumbuhan jangka pendek. Hutan dibuka, lahan dieksploitasi, selama angka ekonomi terus naik.

Di titik ini, krisis iklim tidak lagi berdiri sebagai isu lingkungan. Ia berubah menjadi soal pilihan politik.

RUU Keadilan Iklim: Antara Harapan dan Penundaan

RUU Keadilan Iklim sebenarnya sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional 2026. Sejumlah kelompok masyarakat sipil, termasuk Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI), terus mendorong agar kebijakan ini tidak berhenti pada pengurangan emisi, tetapi juga melindungi hak asasi manusia.

Namun proses politiknya berjalan lambat. Diskusi sering terjebak pada aspek teknis, sementara dimensi keadilan sosial belum menjadi pusat perhatian.

Komnas HAM memang telah merilis policy brief tentang iklim dan HAM. Tetapi dokumen itu masih berfokus pada mitigasi energi, bukan pada perlindungan menyeluruh terhadap dampak ekologis yang sudah terjadi.

Ini Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Jika kita melihat lebih dalam, krisis ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan.

Ini berbicara tentang siapa yang kita anggap berhak hidup dengan masa depan yang aman.

Karena ketika hutan hilang dan iklim berubah, kelompok yang paling lama menanggung akibatnya bukan generasi hari ini. Mereka adalah generasi yang bahkan belum lahir dan tidak memiliki suara dalam keputusan apa pun.

Human Impact

Bayangkan anak-anak yang lahir hari ini. Mereka akan tumbuh di dunia yang lebih panas, lebih kering, dan lebih tidak stabil secara ekologis dibanding dunia saat ini.

Mereka tidak memilih krisis ini. Namun mereka akan hidup di dalamnya sepenuhnya.

Dan pertanyaan paling sederhana tetap tidak berubah, kalau kita sudah tahu dampaknya, mengapa kita masih menunda tindakan?

Analisis Tabooo

Krisis iklim sering dipersempit menjadi persoalan teknis seperti emisi, energi, dan regulasi.

Padahal di balik itu, terjadi konflik yang lebih besar benturan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan hak hidup generasi yang belum lahir.

Data sebenarnya sudah tersedia. Tetapi keberanian untuk menjadikan data itu sebagai dasar moral kebijakan masih sangat terbatas.

Closing

Hari Bumi selalu datang dengan pesan yang sama jaga bumi.

Namun pertanyaannya sudah berubah.

Bukan lagi apakah kita memahami pesannya, tetapi apakah kita berani bertindak sebelum generasi setelah kita yang menanggung seluruh akibatnya. @dimas

Tags: ekologiKrisis IklimLingkungan Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Bom Waktu TPA Randegan: Kota Mojokerto Kalah oleh Sampahnya Sendiri

Bom Waktu TPA Randegan: Kota Mojokerto Kalah oleh Sampahnya Sendiri

by teguh
Juni 3, 2026

"TPA Randegan membutuhkan revitalisasi secara komprehensif. Beban sampah harian yang masif tanpa dukungan infrastruktur memadai adalah bom waktu ekologis." Tabooo.id...

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

by Waras
Mei 11, 2026

Dulu banjir datang setahun sekali. Sekarang, banyak kota di Indonesia terasa seperti tinggal menunggu giliran tenggelam. Hujan memang makin ekstrem....

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Alarm Gagalnya Tata Kota Kendari

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Alarm Gagalnya Tata Kota Kendari

by Waras
Mei 11, 2026

Hujan turun seperti tidak ingin berhenti. Selama tiga hari, Kendari berubah dari kota pesisir menjadi cekungan air raksasa. Rumah tenggelam,...

Next Post
Subsidi untuk Rakyat, Untung untuk Mafia: 41 Ton Biosolar Disita di Riau

Subsidi untuk Rakyat, Untung untuk Mafia: 41 Ton Biosolar Disita di Riau

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id