Diskusi tentang kejujuran sering terdengar indah dalam pertemuan sosial. Orang bersalaman, menjaga kata-kata, dan merawat harmoni bersama. Namun di balik suasana yang tampak rapi itu muncul satu pertanyaan yang jarang diucapkan apakah masyarakat benar-benar hidup dalam kejujuran, atau hanya mempertahankan kenyamanan yang tidak pernah diuji oleh kenyataan?
Tabooo.id: Deep – Ada satu kebiasaan yang sering luput dari perhatian dalam kehidupan sosial masyarakat: terlalu sopan untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya penting.
Pertemuan warga biasanya berlangsung hangat. Orang tersenyum, berjabat tangan, dan memilih kata-kata yang aman agar tidak melukai siapa pun. Banyak budaya melihat sikap seperti itu sebagai tanda kedewasaan sosial. Warga menjaga harmoni, menghindari konflik, dan mengarahkan percakapan agar tetap nyaman.
Namun di balik kesopanan itu muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah masyarakat benar-benar hidup dalam kejujuran, atau mereka hanya sepakat menutup pembicaraan tentang hal-hal yang bisa mengganggu ketenangan bersama?
Pertanyaan tersebut muncul dalam screening film Unseen, Unannounced: Story of Winongo yang Tabooo Network Indonesia selenggarakan di Kelurahan Winongo pada Rabu (22/4/2026). Kegiatan yang awalnya tampak seperti pemutaran film komunitas itu perlahan berubah menjadi percakapan tentang satu fenomena sosial yang jarang muncul dalam ruang publik: budaya diam dalam masyarakat.
Budaya Diam yang Terlihat Harmonis
Banyak komunitas menempatkan keharmonisan sebagai prioritas utama. Warga sering memilih menjaga hubungan sosial daripada mengungkapkan ketidaknyamanan.
Masyarakat sebenarnya mengenal berbagai persoalan di sekitarnya. Mereka melihat masalah lingkungan, memahami potensi ekonomi lokal, dan menyadari persoalan kecil yang bisa mereka selesaikan bersama. Namun mereka jarang membuka percakapan tentang hal-hal tersebut secara terbuka.
Fenomena ini tidak muncul karena masyarakat tidak peduli.
Sebaliknya, banyak orang justru sangat peduli pada hubungan sosial di sekitarnya. Mereka khawatir kritik akan merusak keharmonisan atau memicu ketegangan.
Ketika masyarakat terlalu berhati-hati menjaga hubungan sosial, percakapan penting sering berhenti sebelum benar-benar dimulai.
Akibatnya, komunitas tampak rukun dari luar. Namun kerukunan itu sering berdiri di atas kesepakatan tidak tertulis: lebih baik diam daripada memicu konflik.
Film sebagai Cermin Sosial
Film Unseen, Unannounced tidak berusaha menampilkan drama besar atau konflik heroik. Tim pembuat film justru menyoroti hal-hal sederhana yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita dalam film memperlihatkan kebiasaan masyarakat, persoalan kecil di lingkungan sekitar, serta berbagai situasi yang selama ini terasa biasa.
Karena kedekatan itu, film tersebut bekerja seperti cermin sosial.
Penonton tidak melihat cerita yang jauh dari kehidupan mereka. Mereka melihat potongan realitas yang mereka kenal dengan sangat baik.
Ketika layar menampilkan kebiasaan masyarakat yang jarang mereka pertanyakan, sebagian warga mulai menyadari sesuatu: banyak persoalan di sekitar mereka sebenarnya bukan hal baru.
Masalah-masalah itu sudah lama ada. Namun masyarakat jarang membuka percakapan tentangnya secara terbuka.
Mengapa Kejujuran Sering Ditunda
Dalam diskusi setelah pemutaran film, CEO Tabooo Network Indonesia Jeje menyampaikan gagasan yang langsung mengubah arah percakapan.
Ia menilai masyarakat sering membangun kesopanan sosial yang terlihat rapi, tetapi tidak selalu disertai keberanian untuk berbicara jujur.
Menurutnya, masyarakat sering memilih kenyamanan kolektif.
Kenyamanan tersebut membuat kehidupan sosial terasa stabil. Namun stabilitas itu sering menuntut satu harga: keberanian untuk mengakui masalah.
Ketika masyarakat terlalu lama bertahan dalam kenyamanan semacam ini, perubahan menjadi sulit terjadi.
Kesulitan itu muncul bukan karena masyarakat tidak mampu berubah, melainkan karena mereka jarang membuka percakapan tentang apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Komunitas dan Cara Pandang terhadap Diri Sendiri
Diskusi di Winongo juga memperlihatkan dinamika menarik dalam kehidupan komunitas.
Banyak warga menyadari potensi lingkungannya. Mereka melihat peluang ekonomi lokal, mengenal kekuatan budaya setempat, dan memiliki jaringan sosial yang kuat.
Namun potensi tersebut sering tidak berkembang karena masyarakat memandang lingkungannya dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
Cara pandang yang tidak berubah membuat banyak peluang terasa tidak terlihat.
Padahal perubahan tidak selalu memerlukan sumber daya baru. Perubahan sering berawal dari cara masyarakat membaca realitas yang sudah ada di depan mereka.
Saat masyarakat mulai mempertanyakan kebiasaan lama, kemungkinan baru pun mulai muncul.
Dari Forum Warga ke Ruang Refleksi
Kegiatan di Winongo menunjukkan bahwa refleksi sosial tidak selalu lahir dari forum resmi atau seminar besar.
Pertemuan sederhana pun bisa membuka percakapan yang penting.
Warga datang untuk menonton film. Namun setelah pemutaran selesai, percakapan berkembang jauh melampaui film itu sendiri.
Beberapa warga mulai berbagi pengalaman tentang persoalan lingkungan di sekitar mereka. Ada pula yang membicarakan peluang usaha lokal serta tantangan membangun kesadaran kolektif.
Diskusi itu tidak selalu berjalan mulus.
Namun justru melalui percakapan yang tidak sepenuhnya nyaman itulah masyarakat mulai melihat realitas mereka dengan cara yang berbeda.
Kejujuran sebagai Awal Perubahan
Di akhir acara, suasana kembali santai. Warga makan bersama, berbincang ringan, dan menikmati kebersamaan seperti dalam banyak pertemuan lainnya.
Namun bagi sebagian peserta, percakapan sore itu meninggalkan pertanyaan yang sulit mereka abaikan.
Apakah masyarakat selama ini benar-benar hidup dalam harmoni?
Ataukah harmoni itu berdiri di atas kebiasaan untuk tidak mengatakan sesuatu yang sebenarnya penting?
Pertanyaan itu mungkin tidak langsung mengubah keadaan. Namun ia membuka langkah awal yang sering terlupakan dalam proses perubahan sosial.
Kejujuran.
Sebuah komunitas sering tidak kekurangan ide, potensi, atau sumber daya.
Yang sering kurang hanyalah keberanian untuk melihat kenyataan dan mengatakannya apa adanya. @dimas





