Tan Malaka menolak Perjanjian Renville. Tapi ini bukan sekadar penolakan politik biasa. Dalam Sambutan Murba 1948, ia justru membongkar sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana diplomasi bisa berubah jadi jalan kehilangan negara. Pertanyaannya sekarang, apakah ini cuma sejarah atau pola yang terus berulang?

Tabooo.id: Vibes – Sambutan Murba 1948 bukan sekadar pidato politik. Ini lebih mirip alarm keras, tentang arah republik yang, menurut Tan Malaka, mulai melenceng dari cita-cita kemerdekaan.
Dokumen Sambutan Murba – Tan Malaka (1948), berisikan tulisan yang tajam, emosional, dan tanpa kompromi. Ia tidak hanya mengkritik Belanda. Bahkan, ia juga mengkritik cara Indonesia sendiri bertahan.
Dunia Tidak Netral, Semuanya Punya Kepentingan
Tan Malaka membuka dengan gambaran global yang keras.
Ia menulis:
“Lebih kurang 20 dari anggota UNO terdiri dari para wakilnya negara Kapitalis.”
“Hampir semua dari wakil-wakil itu ialah tuan atau kaki tangan imperialisme Amerika.”
Menurutnya, dunia internasional bukan ruang netral.
Bahkan ketika negara sosialis mencoba menahan, hasilnya tetap timpang:
“Sosialis Rusia dengan kawan-kawannya selalu saja kalah suara oleh kapitalis-imperialis Amerika dan kaki tangannya.”
Artinya jelas, Indonesia masuk ke arena yang sejak awal tidak adil.
KTN: Penengah atau Penyokong Belanda?
Tan Malaka lalu menyorot Komisi Tiga Negara (KTN).
Di atas kertas, mereka mediator. Tapi di lapangan, ia melihat hal lain:
“Dalam prakteknya wakil tiga negara itu… kadang-kadang sebagai sahabat, sering sebagai penipu dan acapkali sebagai penggertak, tetapi senantiasa sebagai penyokong Belanda.”
Ia bahkan membaca motif ekonomi di baliknya:
“Tetapi matanya selalu ditujukan kepada minyak, karet dan timah Indonesia.”
Yang terlihat sebagai diplomasi damai, menurutnya, punya agenda tersembunyi.
Inferiority Complex: Luka dari Dalam
Bagian paling pedas justru diarahkan ke Indonesia sendiri.
Tan Malaka menulis:
“Mereka mempunyai inferiority complex (rasa kurang) yang amat mendalam terhadap diplomat berkulit putih.”
Akibatnya, elite politik menjadi terlalu patuh:
“Mereka taati kata diplomat asing itu seperti murid Indonesia… mentaati gurunya Belanda!”
Namun yang lebih ironis, sikap ini berubah saat menghadapi rakyat:
“Terhadap bangsa sendirilah mereka menumpahkan superiority complex (rasa lebihnya).”
Ini bukan sekadar kritik.
Ini tuduhan langsung.
Dari 100% ke 1%: Narasi Kehilangan
Tan Malaka kemudian menggambarkan dampak nyata diplomasi.
Ia menyebut hasil perjanjian:
“Republik Indonesia pada tahun 1947 mendapat Linggarjati, tetapi kehilangan Maluku, Sulawesi, Sunda Kecil dan Borneo.”
Lalu berlanjut:
“Pada permulaan tahun 1948 ini… mendapatkan Renville-Principles, tetapi kehilangan Jawa Barat, Jawa Timur, Madura…”
Kesimpulannya brutal:
“Republik Indonesia… sesudah berdiplomasi 2 tahun, kehilangan daerah kurang lebih 99%.”
Bukan kalah perang.
Tapi kalah arah.
Program Pemerintah yang Dipertanyakan
Ia lalu membedah program pemerintah satu per satu.
Tentang Renville:
“Menyelenggarakan Renville… berarti membenarkan semua negara boneka dan pecah belahnya Republik Indonesia.”
Terkait negara federal:
“Melaksanakan terbentuknya NIS berarti mengembalikan Indonesia Merdeka 100% kepada penjajahan 100%.”
Masalah rasionalisasi tentara:
“Melucuti para prajurit yang sudah berjasa… dan menggiring mereka… dijadikan kuli.”
Tentang pembangunan:
“Membangunkan kembali kapitalisme asing yang akan memeras dan menindas kaum buruh Indonesia.”
Semua yang terlihat sebagai “program negara” justru ia anggap sebagai ancaman.
Sambutan Murba: Seruan, Bukan Sekadar Kritik
Di bagian akhir, Tan Malaka tidak lagi sekadar mengkritik.
Ia mengajak.
“Tolak dan batalkan Renville dan hentikan perundingan…”
“Tolak dan batalkan pembentukan NIS…”
“Bangunkan ekonomi perang atas dasar koperasi rakyat…”
Dan puncaknya:
“Murba bangkit; Murba berpikir; Murba bergerak…”
Ini bukan lagi tulisan.
Ini seruan mobilisasi.
Bukan Sekadar Sejarah
Kalau kamu baca ini hari ini, rasanya tidak jauh.
Tentang kekuatan global, elite yang ragu, dan rakyat yang selalu jadi taruhan.
Dan mungkin, tentang pola yang belum selesai. @tabooo






