Selasa, April 21, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Tan Malaka Tolak Renville: Ini Isi Sambutan Murba 1948

by Tabooo
April 20, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Tan Malaka menolak Perjanjian Renville. Tapi ini bukan sekadar penolakan politik biasa. Dalam Sambutan Murba 1948, ia justru membongkar sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana diplomasi bisa berubah jadi jalan kehilangan negara. Pertanyaannya sekarang, apakah ini cuma sejarah atau pola yang terus berulang?
Tan Malaka Tolak Renville: Ini Isi Sambutan Murba 1948

Tabooo.id: Vibes – Sambutan Murba 1948 bukan sekadar pidato politik. Ini lebih mirip alarm keras, tentang arah republik yang, menurut Tan Malaka, mulai melenceng dari cita-cita kemerdekaan.

Dokumen Sambutan Murba – Tan Malaka (1948), berisikan tulisan yang tajam, emosional, dan tanpa kompromi. Ia tidak hanya mengkritik Belanda. Bahkan, ia juga mengkritik cara Indonesia sendiri bertahan.

Dunia Tidak Netral, Semuanya Punya Kepentingan

Tan Malaka membuka dengan gambaran global yang keras.

Ia menulis:

“Lebih kurang 20 dari anggota UNO terdiri dari para wakilnya negara Kapitalis.”

“Hampir semua dari wakil-wakil itu ialah tuan atau kaki tangan imperialisme Amerika.”

Menurutnya, dunia internasional bukan ruang netral.

Ini Belum Selesai

Batik Indonesia Lahir di Sini, Tapi Identitasnya Tidak Sesederhana Itu

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

Bahkan ketika negara sosialis mencoba menahan, hasilnya tetap timpang:

“Sosialis Rusia dengan kawan-kawannya selalu saja kalah suara oleh kapitalis-imperialis Amerika dan kaki tangannya.”

Artinya jelas, Indonesia masuk ke arena yang sejak awal tidak adil.

KTN: Penengah atau Penyokong Belanda?

Tan Malaka lalu menyorot Komisi Tiga Negara (KTN).

Di atas kertas, mereka mediator. Tapi di lapangan, ia melihat hal lain:

“Dalam prakteknya wakil tiga negara itu… kadang-kadang sebagai sahabat, sering sebagai penipu dan acapkali sebagai penggertak, tetapi senantiasa sebagai penyokong Belanda.”

Ia bahkan membaca motif ekonomi di baliknya:

“Tetapi matanya selalu ditujukan kepada minyak, karet dan timah Indonesia.”

Yang terlihat sebagai diplomasi damai, menurutnya, punya agenda tersembunyi.

Inferiority Complex: Luka dari Dalam

Bagian paling pedas justru diarahkan ke Indonesia sendiri.

Tan Malaka menulis:

“Mereka mempunyai inferiority complex (rasa kurang) yang amat mendalam terhadap diplomat berkulit putih.”

Akibatnya, elite politik menjadi terlalu patuh:

“Mereka taati kata diplomat asing itu seperti murid Indonesia… mentaati gurunya Belanda!”

Namun yang lebih ironis, sikap ini berubah saat menghadapi rakyat:

“Terhadap bangsa sendirilah mereka menumpahkan superiority complex (rasa lebihnya).”

Ini bukan sekadar kritik.

Ini tuduhan langsung.

Dari 100% ke 1%: Narasi Kehilangan

Tan Malaka kemudian menggambarkan dampak nyata diplomasi.

Ia menyebut hasil perjanjian:

“Republik Indonesia pada tahun 1947 mendapat Linggarjati, tetapi kehilangan Maluku, Sulawesi, Sunda Kecil dan Borneo.”

Lalu berlanjut:

“Pada permulaan tahun 1948 ini… mendapatkan Renville-Principles, tetapi kehilangan Jawa Barat, Jawa Timur, Madura…”

Kesimpulannya brutal:

“Republik Indonesia… sesudah berdiplomasi 2 tahun, kehilangan daerah kurang lebih 99%.”

Bukan kalah perang.

Tapi kalah arah.

Program Pemerintah yang Dipertanyakan

Ia lalu membedah program pemerintah satu per satu.

Tentang Renville:

“Menyelenggarakan Renville… berarti membenarkan semua negara boneka dan pecah belahnya Republik Indonesia.”

Terkait negara federal:

“Melaksanakan terbentuknya NIS berarti mengembalikan Indonesia Merdeka 100% kepada penjajahan 100%.”

Masalah rasionalisasi tentara:

“Melucuti para prajurit yang sudah berjasa… dan menggiring mereka… dijadikan kuli.”

Tentang pembangunan:

“Membangunkan kembali kapitalisme asing yang akan memeras dan menindas kaum buruh Indonesia.”

Semua yang terlihat sebagai “program negara” justru ia anggap sebagai ancaman.

Sambutan Murba: Seruan, Bukan Sekadar Kritik

Di bagian akhir, Tan Malaka tidak lagi sekadar mengkritik.

Ia mengajak.

“Tolak dan batalkan Renville dan hentikan perundingan…”

“Tolak dan batalkan pembentukan NIS…”

“Bangunkan ekonomi perang atas dasar koperasi rakyat…”

Dan puncaknya:

“Murba bangkit; Murba berpikir; Murba bergerak…”

Ini bukan lagi tulisan.

Ini seruan mobilisasi.

Bukan Sekadar Sejarah

Kalau kamu baca ini hari ini, rasanya tidak jauh.

Tentang kekuatan global, elite yang ragu, dan rakyat yang selalu jadi taruhan.

Dan mungkin, tentang pola yang belum selesai. @tabooo

Tags: 1948Diplomasi IndonesiaNasionalismePerjanjian RenvillePolitik IndonesiaRenvilleSambutan MurbaSejarah IndonesiaTabooo VibesTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965: Siapa Sebenarnya Sukarno?

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965: Siapa Sebenarnya Sukarno?

by Tabooo
April 21, 2026

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965 bukan buku yang datang untuk menenangkan. Buku ini justru membuka luka lama yang...

Ki Hajar Dewantara: Saat Sekolah Jadi Medan Perang Melawan Kolonialisme

Ki Hajar Dewantara: Saat Sekolah Jadi Medan Perang Melawan Kolonialisme

by dimas
April 20, 2026

Di tengah dunia yang diam-diam menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mengarahkan cara manusia berpikir, satu pertanyaan besar terus menggantung di...

Batik Indonesia Lahir di Sini, Tapi Identitasnya Tidak Sesederhana Itu

Batik Indonesia Lahir di Sini, Tapi Identitasnya Tidak Sesederhana Itu

by eko
April 20, 2026

Sebuah rumah bisa menyimpan banyak hal: kenangan, sejarah, bahkan kebanggaan. Namun di Ndalem Hardjonegaran, ia menyimpan sesuatu yang lebih sunyi...

Next Post
Kisah Icha Ungkap Realita Emansipasi Saat Ini

Kisah Icha Ungkap Realita Emansipasi Saat Ini

Recommended

Gas Tidak Meledak, Tapi Harganya Bikin Rumah Tangga Diam-Diam Panik

Gas Tidak Meledak, Tapi Harganya Bikin Rumah Tangga Diam-Diam Panik

April 19, 2026
Kenapa Riset Kampus Sering Mati di Rak? ITS Coba Mengubah Nasibnya

Kenapa Riset Kampus Sering Mati di Rak? ITS Coba Mengubah Nasibnya

April 17, 2026

Popular

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

April 20, 2026

Harga BBM Non-Subsidi Melonjak, Transparansi Pemerintah Dipertanyakan

April 20, 2026

Beasiswa Dian Sastro 2026 Dibuka, Ini Syaratnya

April 20, 2026

Cadangan Gas Raksasa di Indonesia: Siap Jadi Kekuatan Dunia atau Cuma Wacana?

April 20, 2026

Tan Malaka Bongkar Diplomasi RI: Dari Merdeka 100% Jadi Tinggal 1%?

April 20, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id