Malam di Monumen Arek Lancor, Pamekasan, terasa berbeda. Saat Tembang Macapat dan semangat kebersamaan mengalun, para kepala desa, pengusaha, dan kiai berkumpul membawa satu harapan lama petani tembakau harus hidup lebih layak, bukan sekadar bertahan tiap musim panen.
Tabooo.id: Vibes – Malam turun pelan di Monumen Arek Lancor, Pamekasan. Sementara itu, lampu kota menyala, angin berembus tipis, dan orang-orang datang membawa niat yang sama menjaga harapan petani tembakau.
Di tanah Madura, tembakau bukan sekadar daun kering. Namun, ia juga cerita tentang musim, doa, dan dapur yang ingin tetap mengepul.
Pada Jumat malam, 17/04/2026, kepala desa, pengusaha, dan kiai berkumpul dalam satu forum silaturahmi. Di tengah suasana itu, Khairul Umam atau Haji Her menyampaikan pesan yang langsung menyentuh akar persoalan.
“Ini harus dipertahankan. Mereka harus sejahtera, salah satunya tembakau tetap harus terbeli mahal,” kata Haji Her, Sabtu, 18/04/2026.
Kalimat itu sederhana. Namun, bagi petani, harga yang baik bisa berarti uang sekolah anak, cicilan yang lunas, atau beras yang cukup sampai musim berikutnya.
Tembakau dan Nafas Rumah Tangga
Di banyak desa Madura, musim tembakau mengubah ritme hidup. Pertama, pagi mulai lebih cepat. Lalu, halaman rumah penuh jemuran daun. Selain itu, gudang kecil ramai oleh aroma khas yang tajam dan akrab.
Budayawan Madura, Mien Ahmad Rifai, dalam forum budaya lokal pada 22/07/2023, pernah menyebut tembakau sebagai bagian dari identitas kerja orang Madura.
“Tembakau bukan hanya hasil bumi, tetapi bagian dari harga diri petani,” ujarnya.
Karena itu, ketika harga naik, yang tersenyum bukan hanya pedagang. Bahkan, satu kampung ikut bernapas lega.
Saat Elite Lokal Duduk Satu Tikar
Haji Her lalu meminta semua pihak kompak. “Kita pengusaha harus kompak. Kepala desa juga harus kompak,” ujarnya.
Di Madura, kalimat itu punya bobot besar. Sebab, kepala desa dekat dengan warga. Sementara itu, kiai dekat dengan hati masyarakat. Adapun pengusaha dekat dengan jalur pasar.
Jika tiga kekuatan itu bergerak bersama, maka petani tidak merasa sendirian. Karena itu, forum seperti ini terasa penting.
Sosiolog Universitas Airlangga, Dr. Bagong Suyanto, dalam diskusi ketahanan desa pada 14/10/2024, mengatakan komunitas lokal akan kuat jika tokoh ekonomi dan sosial berjalan searah.
“Desa bertahan bukan hanya karena uang, tetapi karena jaringan kepercayaan,” katanya.
Macapat, Samman, dan Cara Desa Merawat Harapan
Forum ini tidak ingin berhenti pada rapat formal. Karena itu, Haji Her menyebut pertemuan berikutnya akan memadukan tradisi Samman dan Tembang Macapat bernuansa religi.
Pilihan itu terasa khas Madura. Mereka tidak memisahkan ekonomi dari budaya. Bahkan, mereka tidak memisahkan pasar dari doa. Jadi, pertemuan tidak hanya bicara untung rugi.
Ketua pelaksana Farid Afandi ikut menegaskan komitmen itu.
“Untuk mempererat hubungan antar-kepala desa dengan pengusaha dan kiai, forum ini kita gelar secara rutin,” katanya.
Saat Macapat dilantunkan, pesan tentang kerja keras dan kebersamaan ikut hidup. Sementara itu, saat Samman bergema, harapan bergerak dari mulut ke hati.
Harga Naik Saja Belum Cukup
Kabar baik tentang harga tentu penting. Namun, harga tinggi satu musim belum selalu menjamin masa depan.
Ekonom pertanian dari Universitas Trunojoyo Madura, Dr. Mohammad Hosen, dalam seminar ekonomi daerah pada 09/09/2025, mengingatkan bahwa petani membutuhkan kepastian jangka panjang.
“Petani perlu harga yang sehat, akses modal, dan pembeli yang konsisten,” ujarnya.
Artinya, petani tidak hanya butuh kabar baik. Mereka juga butuh sistem baik. Selain itu, mereka butuh pasar yang lebih adil.
Berbeda, Tapi Bisa Satu Arah
Lora Abbas menutup forum dengan pesan yang hangat.
“Kita semua memiliki karakter yang berbeda. Tidak masalah kita berbeda, tetapi kita berharap bisa bersatu dalam kebaikan,” pungkasnya.
Kalimat itu terasa pas untuk Madura hari ini. Banyak watak, banyak kepentingan, banyak suara. Namun, sawah dan ladang selalu mengajarkan hal sama hasil panen datang saat banyak tangan mau bekerja bersama.
Tabooology: Ketika Lagu Lama Menjaga Masa Depan
Ini bukan sekadar acara silaturahmi. Justru, ini cara desa melawan lupa.
Di kota, orang bicara ekonomi lewat grafik. Sebaliknya, di kampung, orang menjaganya lewat pertemuan, doa, dan lagu-lagu lama.
Saat Tembang Macapat mengiringi malam Pamekasan, yang sebenarnya dijaga bukan hanya tradisi. Melainkan, harapan petani agar musim depan tetap layak diperjuangkan. Karena pada akhirnya, desa selalu tahu cara merawat masa depan dengan caranya sendiri. @teguh






