Tabooo.id: Nasional – Lonjakan harga avtur kini menjadi ancaman serius bagi sektor penerbangan dan pariwisata nasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi global, dan dampaknya langsung terasa hingga ke tiket pesawat domestik di Indonesia.
Per 1 April 2026, harga avtur melonjak drastis. Untuk penerbangan internasional, harga naik dari 74,2 sen AS per liter pada Maret menjadi 133,8 sen AS per liter, atau meningkat lebih dari 80 persen. Sementara itu, di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur domestik naik dari Rp 13.656 menjadi Rp 23.551 per liter, atau sekitar 72,5 persen.
Kenaikan ini memutus tren penurunan harga avtur dalam lima tahun terakhir. Padahal sebelumnya, harga sempat turun dari Rp 14.608 per liter pada 2022 menjadi Rp 12.921 per liter pada 2025.
Industri Penerbangan Tertekan
Kenaikan harga avtur langsung menekan biaya operasional maskapai. Komponen bahan bakar menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total biaya. Artinya, setiap lonjakan harga energi global hampir pasti diikuti kenaikan tiket pesawat.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) merekomendasikan dua opsi. Pertama, menaikkan harga tiket hingga tarif batas atas serta menambahkan fuel surcharge. Kedua, menyesuaikan surcharge berdasarkan kenaikan avtur.
“Penyesuaian ini diperlukan untuk mencapai titik impas dan mencegah kerugian,” demikian rekomendasi INACA.
Tanpa intervensi, harga tiket berpotensi naik hingga 30 sampai 35 persen.
Pemerintah Turun Tangan
Pemerintah merespons cepat tekanan ini. Pada 6 April 2026, sejumlah kebijakan diluncurkan. Di antaranya subsidi PPN Ditanggung Pemerintah sebesar 11 persen untuk tiket ekonomi domestik, pembatasan fuel surcharge maksimal 38 persen, serta pembebasan bea masuk suku cadang pesawat.
Selain itu, pemerintah menggelontorkan subsidi Rp 2,6 triliun untuk menahan lonjakan harga tiket. Targetnya, kenaikan harga tiket tetap terkendali di kisaran 9 hingga 13 persen.
Langkah ini menjadi bantalan penting agar industri penerbangan tetap bertahan, sekaligus menjaga sektor pariwisata.
Pariwisata Nasional di Persimpangan
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada transportasi udara. Konektivitas antarwilayah menjadi kunci pemerataan pembangunan sekaligus penggerak pariwisata.
Namun, lonjakan harga avtur mulai mengganggu ekosistem ini. Harga avtur di bandara destinasi wisata prioritas kini rata-rata di atas Rp 22.000 per liter. Di beberapa lokasi seperti Ternate, tiket pesawat melonjak dari Rp 2,5 juta menjadi sekitar Rp 4 juta.
Hal serupa terjadi pada rute Surabaya-Labuan Bajo, yang kini mendekati Rp 2 juta dari sebelumnya sekitar Rp 1,5 juta.
Kondisi ini berisiko menekan minat wisatawan, terutama wisatawan nusantara yang menjadi tulang punggung sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik mencatat, perbandingan wisnus dan wisman mencapai 70:1, menunjukkan dominasi perjalanan domestik.
Ancaman terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Pariwisata menyumbang sekitar 3,9 hingga 4 persen terhadap PDB nasional. Bahkan, nilai kontribusinya diperkirakan mencapai lebih dari Rp 900 triliun pada 2024.
Tren kunjungan wisatawan domestik sebenarnya sedang tumbuh positif. Setelah terpukul pandemi, jumlah perjalanan wisnus mencapai 1,2 miliar pada 2025, naik 17,55 persen dari tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan harga tiket berpotensi menghambat momentum ini.
Menjaga Keseimbangan
Kondisi ini menempatkan pemerintah dan pelaku industri dalam dilema. Di satu sisi, maskapai harus bertahan dari tekanan biaya. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan akses perjalanan yang terjangkau.
Insentif fiskal menjadi solusi jangka pendek. Namun, stabilitas harga energi global tetap menjadi faktor penentu jangka panjang.
Jika harga avtur terus tinggi, pariwisata bukan hanya melambat. Ia bisa berubah menjadi sektor yang semakin eksklusif.
Penutup
Lonjakan harga avtur bukan sekadar isu energi. Ini soal akses, mobilitas, dan masa depan pariwisata Indonesia.
Ketika harga tiket terus naik, pertanyaannya sederhana masihkah liburan menjadi hak semua orang, atau hanya milik segelintir? @dimas






