Tabooo.id: Vibes – Setiap 21 April, masyarakat ramai memakai kebaya dan sanggul. Namun di balik perayaan itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam apakah semangat Kartini masih hidup, atau hanya jadi ritual tahunan?
Perayaan memang terasa meriah. Akan tetapi, makna yang seharusnya kita renungkan justru sering terlewat.
Jadi, apakah perempuan Indonesia benar-benar sudah merdeka?
Dari Pingitan ke Perlawanan Pikiran
Raden Ajeng Kartini tidak mengangkat senjata. Sebaliknya, ia memilih melawan melalui gagasan.
Di tengah budaya pingitan abad ke-19, ia menulis surat sebagai bentuk perlawanan. Dari sana, ia membuka akses pemikiran yang sebelumnya tertutup rapat bagi perempuan.
Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menulis, “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”
Dengan kata lain, Kartini tidak sekadar bermimpi. Ia menantang sistem yang membatasi.
Tiga Api Perjuangan yang Masih Relevan
Pertama, Kartini memperjuangkan hak atas pendidikan. Ia meyakini perempuan terdidik akan melahirkan generasi yang kuat.
Kedua, ia menolak budaya pingit yang membatasi ruang gerak perempuan. Baginya, kebebasan adalah hak dasar, bukan privilese.
Ketiga, ia mengkritik praktik poligami yang sering menempatkan perempuan dalam posisi tidak setara.
Hingga kini, ketiga gagasan tersebut masih terasa dekat dengan realita.
Perempuan Hari Ini: Maju, Tapi Belum Tuntas
Saat ini, perempuan telah memimpin perusahaan, terlibat dalam pemerintahan, dan aktif dalam dunia digital. Bahkan, peluang ekonomi semakin terbuka lebar.
Di sisi lain, regulasi seperti UU TPKS hadir untuk memberikan perlindungan hukum. Ini menunjukkan adanya kemajuan yang nyata.
Namun demikian, tidak semua perempuan merasakan dampaknya. Sebab, masih banyak yang putus sekolah, mengalami kekerasan, atau dibatasi oleh stigma.
Artinya, kemajuan itu ada, tetapi belum merata.
Twist: Ini Bukan Sekadar Perayaan, Ini Pola
Sayangnya, peringatan Hari Kartini sering berhenti pada simbol. Orang-orang memakai kebaya, berfoto, lalu melanjutkan rutinitas seperti biasa.
Padahal, Kartini tidak pernah berjuang untuk seremoni semata.
Lebih jauh, pola ini terus berulang setiap tahun. Kita merayakan, tetapi jarang benar-benar melanjutkan gagasannya.
Yang lebih mengganggu, kita mungkin merasa sudah cukup hanya dengan memperingati.
Dampaknya Buat Kamu
Bagi perempuan, ini soal ruang yang masih harus diperjuangkan.
Sementara itu, bagi laki-laki, ini tentang memahami bahwa kesetaraan bukan ancaman, melainkan kebutuhan bersama.
Dengan demikian, Kartini bukan sekadar sejarah. Ia hadir dalam pilihan dan sikap hari ini.
Narasi vs Realita
Di satu sisi, dunia terlihat semakin setara. Namun di sisi lain, ketimpangan masih terasa dalam banyak aspek.
Narasi kesetaraan terus digaungkan. Akan tetapi, struktur sosial belum sepenuhnya berubah.
Dulu, Kartini melawan batas yang terlihat jelas. Kini, batas itu menjadi lebih halus, tetapi tetap membatasi.
Karena itu, perjuangan tidak berhenti hanya karena kemajuan terlihat di permukaan.
Penutup
Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni.
Sebaliknya, momen ini menjadi kesempatan untuk menguji diri apakah kita benar-benar melanjutkan perjuangannya, atau hanya nyaman dalam ilusi kemajuan?
Pada akhirnya, terang tidak datang begitu saja. Kita harus terus menyalakannya. @dimas






