Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PSC Corner Berdiri, Rumah Warga Hilang: Kisah Sunyi di Balik Prestasi Maidi?

by dimas
Mei 11, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Kasus korupsi seharusnya menghukum pelaku. Namun, di Madiun, dampaknya justru menghantam warga kecil.
Di balik penyidikan besar, satu keluarga juru parkir kini menghadapi ancaman kehilangan rumah.

Penyidikan yang Menyeret Warga

Proses penyidikan kasus dugaan korupsi yang menjerat Wali Kota Madiun nonaktif, H. Maidi, membuka fakta lain. Di sisi lain, keluarga sederhana ikut terseret dalam pusaran kasus ini.

Bambang Kustarto, seorang juru parkir, bersama saudaranya Tri Handoko, datang memenuhi panggilan KPK. Mereka memberikan keterangan sebagai saksi terkait pembangunan PSC Corner di kawasan Pahlawan Street Center.

Namun, mereka justru kebingungan. Sebab, mereka tidak pernah merasa terlibat dalam persoalan hukum.

Tanah Warisan yang Berubah Arah

Awalnya, keluarga Bambang menguasai tanah warisan dari nenek mereka. Tanah itu terbagi untuk tiga anak, termasuk ayah Bambang.

Ini Belum Selesai

Modus Miras Gelasan Terbongkar di Solo

OTT KPK: Bupati Lombok Barat Terseret Korupsi Rp9,06 Miliar

Kemudian, Maidi disebut membeli lahan tersebut untuk pembangunan PSC Corner. Namun, keluarga Bambang sempat menolak.

“Awalnya kami tidak mau pindah,” kata Bambang.

Akan tetapi, tekanan mulai muncul. Bahkan, mereka menerima ancaman terkait akses jalan dan bantuan.

“Kalau nggak mau pindah, akses jalan mau ditembok,” ujarnya.

Janji yang Tidak Pernah Tuntas

Akhirnya, keluarga Bambang menerima tawaran rumah pengganti. Mereka memilih pindah demi menghindari konflik berkepanjangan.

Namun, masalah baru langsung muncul.

Pemilik rumah menyatakan pembayaran belum lunas. Akibatnya, keluarga Bambang harus angkat kaki lagi.

Setelah itu, mereka pindah ke bangunan bekas gudang. Hingga kini, mereka tetap tinggal di sana.

Selama tujuh tahun, status rumah tersebut tidak pernah jelas.

Transaksi yang Tidak Transparan

Saat menjalani pemeriksaan, Bambang dan Handoko menjelaskan kronologi kepemilikan tanah. Namun, mereka tidak mengetahui detail transaksi jual beli.

Menurut mereka, Ketua RT bernama Wawan dan seorang warga, Teguh Imam Santoso, mengurus seluruh proses. Keduanya berhubungan dengan pihak lain bernama Aang Imam Subarkah.

“Pembayaran rumah itu keluarga saya tidak tahu,” tegas Bambang.

Sementara itu, Wawan dan Teguh justru saling melempar jawaban ketika dimintai penjelasan.

Ancaman yang Semakin Nyata

Kini, ancaman terbesar muncul dari rencana penyitaan rumah oleh KPK sebagai barang bukti.

Bagi keluarga ini, situasi tersebut bukan sekadar proses hukum. Sebaliknya, mereka menghadapi ketidakpastian hidup.

“Kalau disita, ibu dan saudara saya mau tinggal di mana,” kata Handoko.

Selain itu, mereka juga tidak pernah menerima uang dari penjualan rumah lama.

Fakta Penyidikan KPK

KPK memeriksa 11 saksi dalam kasus ini. Seluruh saksi berasal dari pihak swasta, termasuk Bambang dan Handoko.

Penyidikan ini merupakan bagian dari kasus dugaan korupsi yang menjerat Maidi. Selain itu, KPK juga menetapkan dua tersangka lain, yaitu Thariq Megah dan Rochim Ruhdiyanto, setelah operasi tangkap tangan pada Januari 2026.

Ketika Sistem Menyentuh yang Lemah

Kasus ini bukan sekadar penegakan hukum. Sebaliknya, kasus ini memperlihatkan dampak sistem terhadap warga yang tidak memiliki kendali.

Yang terlihat sebagai proses hukum, justru menyisakan beban bagi mereka yang tidak ikut menentukan keputusan.

Dampak ke Masyarakat

Kasus ini memberi peringatan nyata.
Ketika proses hukum berjalan, warga kecil bisa ikut terdampak tanpa perlindungan yang jelas.

Ini dampaknya buat kamu jika sistem tidak transparan, siapa pun bisa berada di posisi yang sama.

Analisis

Kasus ini menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap warga dalam transaksi yang melibatkan kekuasaan. Selain itu, minimnya transparansi memperbesar risiko konflik.

Akibatnya, warga kecil sering berada di posisi paling rentan.

Ada pola yang terus berulang. Warga hanya menjadi objek, bukan pihak yang dilindungi.

Penutup

Jika rumah bisa hilang tanpa kepastian, lalu apa yang benar-benar aman?

Atau, apakah ini tanda bahwa sistem masih belum berpihak pada yang lemah? @eko

Tags: Korupsi di IndonesiaKPKkpk Kota MadiunmadiunMaidiSengketa Tanah

Kamu Melewatkan Ini

KPK Tahan Bupati Lombok Barat, Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar

OTT KPK: Bupati Lombok Barat Terseret Korupsi Rp9,06 Miliar

by dimas
Juli 21, 2026

KPK menahan Bupati Lombok Barat bersama dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang, suap, dan gratifikasi. Penyidik menyita barang...

KPK: Kepala Daerah Berganti, Mengapa Pola Korupsinya Tetap Sama?

KPK: Kepala Daerah Berganti, Mengapa Pola Korupsinya Tetap Sama?

by teguh
Juli 21, 2026

Operasi Tangkap Tangan Terus Berjalan, Tetapi Mesin Korupsi Daerah Seolah Tak Pernah Kehabisan Pengganti. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar kasus...

OTT: Ketika 11 Kepala Daerah Tumbang, Mengapa Korupsi Daerah Terus Berulang?

OTT: Ketika 11 Kepala Daerah Tumbang, Mengapa Korupsi Daerah Terus Berulang?

by teguh
Juli 21, 2026

Sebelas kepala daerah terjaring OTT Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hanya dalam tujuh bulan. Modusnya berubah, pelakunya berganti, tetapi pola korupsinya...

Next Post
Dari Kampung ke Dunia: Kenapa Upin & Ipin Masih Bertahan Sampai Sekarang?

Dari Kampung ke Dunia: Kenapa Upin & Ipin Masih Bertahan Sampai Sekarang?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id