Tabooo.id: Talk – Kadang, yang menghangatkan hajatan bukan tenda besar atau katering mahal. Justru suara pisau beradu dengan talenan, obrolan ringan mengalir, lalu tawa pecah tanpa aba-aba.
Di situlah rewang benar-benar hidup. Rewang terlihat sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya, ia menyimpan kekuatan yang sulit tergantikan.
Di banyak kampung, rewang selalu hadir setiap ada hajatan. Sejak pagi, orang-orang datang. Mereka duduk di lantai sempit, memotong daging, mengiris cabai, lalu meracik bumbu dalam jumlah besar. Tidak ada daftar tugas dan tidak ada upah. Namun, semua orang bergerak seolah sudah paham perannya.
Yang satu memotong daging.
Yang lain menyiapkan bumbu.
Beberapa orang mengiris cabai sampai mata perih, tetapi mereka tetap bercanda.
Suasana ini langsung menumbuhkan kebersamaan yang tidak bisa dibeli.
Saat yang Praktis Mulai Menggeser yang Hangat
Namun, pemandangan ini mulai jarang terlihat. Kini, banyak keluarga memilih jasa katering karena terasa lebih praktis dan cepat. Mereka menyelesaikan semua urusan tanpa repot dan tanpa memanggil banyak orang.
Hajatan memang tetap rapi. Makanan tetap tersaji tepat waktu. Dapur pun tidak lagi riuh.
Akan tetapi, suasananya jelas berubah.
Dulu, dapur hajatan menjadi tempat orang bertukar cerita. Di sana, orang bercanda sambil bekerja. Di sana pula, orang merasa dibutuhkan. Sekarang, dapur terasa sepi. Tenaga profesional datang, bekerja, lalu pulang tanpa ikatan emosional.
Perubahan ini tidak muncul karena katering salah. Perubahan ini muncul karena cara hidup ikut berubah.
Rewang Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Sistem Sosial
Ketika orang meninggalkan rewang, mereka tidak hanya kehilangan tenaga gotong royong.
Rewang selama ini menjaga hubungan antarwarga. Rewang membuat orang saling kenal, saling bantu, dan saling merasa memiliki.
Tanpa rewang, tetangga mudah berubah menjadi sekadar orang yang tinggal bersebelahan. Mereka bukan lagi orang yang pernah tertawa bersama di dapur sempit saat hajatan.
Ironisnya, ketika komunikasi makin mudah lewat ponsel, orang justru makin sulit merasakan kedekatan.
Yang Diam-Diam Hilang dari Kampung Kita
Kini, kita semakin sibuk. Kita menghitung waktu dengan uang. Kita menilai tenaga dengan upah. Karena itu, kita mengukur hampir semua hal dengan efisiensi.
Namun, di balik efisiensi itu, rasa memiliki terhadap lingkungan ikut memudar.
Dampaknya memang tidak langsung terlihat. Hajatan tetap meriah. Makanan tetap enak. Tamu tetap ramai.
Meski begitu, tidak ada jasa yang bisa menggantikan kebersamaan yang tumbuh dari kerja bersama.
Kita mungkin masih tinggal berdekatan, tetapi belum tentu benar-benar dekat.
Modern Boleh, Tapi Jangan Sampai Sendiri
Rewang bukan tradisi kuno yang harus ditinggalkan. Rewang justru menawarkan cara sederhana untuk menjaga hubungan sosial tetap hidup. Ia mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu butuh acara besar. Cukup duduk bersama, bekerja bersama, dan saling membantu.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menampar:
Kita memang makin modern. Namun, apakah kita juga makin sendirian?@eko






