Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Riset Kampus Sering Mati di Rak? ITS Coba Mengubah Nasibnya

by teguh
April 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di banyak kampus Indonesia, ide-ide besar sering lahir dalam diam. Mereka muncul di ruang laboratorium, tumbuh di meja penelitian, lalu selesai sebagai file PDF yang rapi di perpustakaan digital. Judulnya canggih. Datanya lengkap. Metodenya sahih. Namun nasibnya sama dibaca segelintir orang, lalu perlahan hilang dari percakapan publik. Riset kita sering cemerlang di seminar, tetapi sunyi di pasar.

Karena itu, langkah Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada Senin, 13/04/2026, patut dibaca lebih dari sekadar seremoni kampus. ITS melakukan soft launching New Sains Techno Park (STP) ITS 2027 kawasan inovasi seluas 10 hektare yang ingin menjembatani hasil riset dengan kebutuhan nyata industri.

Pertanyaannya sederhana, tetapi tajam apakah ini titik balik, atau hanya gedung baru dengan spanduk baru?

Penyakit Lama: Kampus Pintar, Sistem Lambat

Indonesia bukan kekurangan otak. Negeri ini punya ribuan dosen, peneliti, mahasiswa, dan insinyur muda. Namun, ekosistem yang menghubungkan pengetahuan ke industri sering pincang.

Akademisi Anies Baswedan pernah menyinggung pentingnya relevansi pendidikan tinggi.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

“Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat,” ujar Anies dalam forum pendidikan nasional, 21/10/2016.

Kalimat itu masih relevan hari ini. Banyak kampus menghasilkan skripsi, tesis, disertasi, tetapi sedikit yang berubah menjadi mesin produksi, layanan publik, atau startup yang hidup.

Sosiolog Robertus Robet dalam berbagai diskusi akademik juga kerap menyoroti jarak antara institusi pengetahuan dan kebutuhan sosial. Kampus sering hebat membahas masalah, tetapi lambat menciptakan solusi yang bisa dipakai rakyat.

Masalahnya bukan cuma dana. Masalahnya ada pada budaya birokrasi, ego sektoral, dan minimnya keberanian mengambil risiko.

ITS Sedang Mencoba Memutus Kutukan Itu

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut STP ITS sebagai modal awal hilirisasi riset.

“Sudah waktunya ke depan kita membangun ekonomi yang berbasis pengetahuan dan teknologi, dan operasionalisasi STP ini bisa dimaknai sebagai penanaman modal bagi pengembangan startup baru di perguruan tinggi negeri,” kata Rachmat pada 13/04/2026.

Kalimat “sudah waktunya” terasa penting. Sebab artinya kita terlalu lama menunda.

Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan kawasan ini bukan proyek kosmetik.

“Termasuk secara nyata memperkuat dan membangun kapasitas STP, baik dalam infrastruktur maupun pengembangan sumber daya manusia itu sendiri,” ujarnya pada 13/04/2026.

ITS kini mengelola empat klaster utama:

  • Maritim
  • Otomotif
  • Teknologi Informasi dan Komunikasi / Robotika
  • Industri Kreatif

Ini pilihan strategis. Indonesia negara kepulauan, pasar otomotif besar, pengguna digital masif, dan ekonomi kreatif terus tumbuh. Jika riset diarahkan ke empat sektor itu, peluang dampaknya nyata.

Dari Robot Hingga Kapal Otonom

Bambang juga membeberkan sejumlah inovasi yang sudah muncul dari kampus:

“Seperti munculnya berbagai alat kesehatan, robot RAISA, produk kendaraan listrik, kapal otonom kita yaitu i-Boat, dan berbagai produk kreatif untuk membantu UMKM,” katanya, 13 April 2026.

Di sinilah perbedaan mulai terasa. Kampus tidak hanya bicara teori robotika, tetapi membuat robot. Tidak hanya mengajar transportasi masa depan, tetapi merancang kendaraan listrik. Tidak hanya menulis soal maritim, tetapi menciptakan kapal otonom. Itulah ilmu yang turun dari menara gading.

Dampak Besar bagi Bangsa dan Umat

Jika proyek ini berjalan serius, dampaknya bisa jauh melampaui pagar kampus.

1. Lapangan Kerja Baru

Startup berbasis teknologi bisa menyerap talenta muda. Lulusan teknik tidak harus menunggu lowongan lama.

2. Kemandirian Nasional

Indonesia terlalu lama menjadi pasar produk asing. Tech park membuka peluang menjadi produsen.

3. Solusi Sosial

Alat kesehatan murah, teknologi UMKM, kapal pintar, kendaraan ramah lingkungan semuanya bisa menyentuh kebutuhan rakyat.

4. Reformasi Pendidikan

Mahasiswa belajar bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk memecahkan masalah nyata.

Tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan:

“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak.” (dikutip luas dalam warisan pemikiran pendidikan Indonesia)

Kalau diterjemahkan hari ini kampus harus menuntun bakat menjadi manfaat.

Namun Ada Sisi Gelap yang Perlu Dijaga

Setiap proyek ambisius membawa risiko. Tech park bukan pengecualian.

1. Gedung Megah, Isi Kosong

Banyak proyek gagal bukan karena konsep buruk, tetapi karena manajemen lemah. Bangunan berdiri, aktivitas sepi.

2. Riset Dikuasai Pasar

Jika terlalu mengejar komersialisasi, kampus bisa melupakan riset dasar yang penting tetapi tidak cepat untung.

3. Ketimpangan Antar Kampus

Kampus besar maju pesat, kampus kecil tertinggal. Akibatnya, inovasi hanya berputar di kota besar.

4. Brain Drain

Talenta terbaik bisa dibajak perusahaan luar negeri jika ekosistem lokal tidak kompetitif.

Ekonom Mari Elka Pangestu pernah menekankan dalam forum industri bahwa inovasi membutuhkan ekosistem, bukan sekadar investasi fisik. Gedung tanpa jejaring industri hanya akan menjadi monumen mahal.

Rp650 Miliar dan Ujian Serius

ITS menyebut pengembangan ini mendapat dukungan program HETI yang didanai Asian Development Bank.

“Negara telah memfasilitasi pembangunan STP sejak tahun 2022 lalu, di antaranya melalui program HETI-ADB dengan alokasi dana mencapai Rp650 miliar,” ungkap Bambang.

Angka itu besar. Tetapi ukuran keberhasilan bukan pada nominalnya. Ukurannya adalah:

  • berapa produk dipakai masyarakat
  • berapa startup bertahan lima tahun
  • berapa paten masuk industri
  • berapa masalah rakyat terselesaikan

Jika tidak, dana besar hanya menjadi statistik rapat.

Tabooology: Bangsa Ini Tidak Kekurangan Ide, Hanya Kekurangan Jembatan

Indonesia punya banyak orang pintar. Yang sering kurang adalah sistem yang mempertemukan ilmu dengan kebutuhan rakyat. ITS sedang mencoba membangun jembatan itu.

Namun jembatan tak berguna bila tak ada yang melintas. Pemerintah harus konsisten. Industri harus percaya. Kampus harus rendah hati. Mahasiswa harus berani gagal.

Jika semua itu bertemu, riset tak lagi mati di rak. Ia hidup di rumah sakit, di pelabuhan, di bengkel UMKM, di pabrik nasional, dan di tangan rakyat yang selama ini menunggu manfaat ilmu pengetahuan. Kalau tidak? Kita hanya akan punya gedung baru, dengan masalah lama. @teguh

Tags: DampakDosenEkonomEkosisteminovasiITSKampusKebutuhanLaboratoriumMahasiswamasyarakatNasionalPendidikanPenelitiproyekRaisaRealitasrisetRobotSosialSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

by teguh
Juni 2, 2026

Lampu minimarket yang biasanya menyala hampir tanpa jeda mendadak padam saat libur nasional 31 Mei hingga 1 Juni 2026 karena...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

by teguh
Mei 29, 2026

Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa lebih dari sekadar seremoni negara. Di tengah dinamika politik nasional, publik mulai bertanya: siapa...

Next Post
Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id