Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Riset Kampus Sering Mati di Rak? ITS Coba Mengubah Nasibnya

by teguh
April 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di banyak kampus Indonesia, ide-ide besar sering lahir dalam diam. Mereka muncul di ruang laboratorium, tumbuh di meja penelitian, lalu selesai sebagai file PDF yang rapi di perpustakaan digital. Judulnya canggih. Datanya lengkap. Metodenya sahih. Namun nasibnya sama dibaca segelintir orang, lalu perlahan hilang dari percakapan publik. Riset kita sering cemerlang di seminar, tetapi sunyi di pasar.

Karena itu, langkah Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada Senin, 13/04/2026, patut dibaca lebih dari sekadar seremoni kampus. ITS melakukan soft launching New Sains Techno Park (STP) ITS 2027 kawasan inovasi seluas 10 hektare yang ingin menjembatani hasil riset dengan kebutuhan nyata industri.

Pertanyaannya sederhana, tetapi tajam apakah ini titik balik, atau hanya gedung baru dengan spanduk baru?

Penyakit Lama: Kampus Pintar, Sistem Lambat

Indonesia bukan kekurangan otak. Negeri ini punya ribuan dosen, peneliti, mahasiswa, dan insinyur muda. Namun, ekosistem yang menghubungkan pengetahuan ke industri sering pincang.

Akademisi Anies Baswedan pernah menyinggung pentingnya relevansi pendidikan tinggi.

Ini Belum Selesai

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

“Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat,” ujar Anies dalam forum pendidikan nasional, 21/10/2016.

Kalimat itu masih relevan hari ini. Banyak kampus menghasilkan skripsi, tesis, disertasi, tetapi sedikit yang berubah menjadi mesin produksi, layanan publik, atau startup yang hidup.

Sosiolog Robertus Robet dalam berbagai diskusi akademik juga kerap menyoroti jarak antara institusi pengetahuan dan kebutuhan sosial. Kampus sering hebat membahas masalah, tetapi lambat menciptakan solusi yang bisa dipakai rakyat.

Masalahnya bukan cuma dana. Masalahnya ada pada budaya birokrasi, ego sektoral, dan minimnya keberanian mengambil risiko.

ITS Sedang Mencoba Memutus Kutukan Itu

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut STP ITS sebagai modal awal hilirisasi riset.

“Sudah waktunya ke depan kita membangun ekonomi yang berbasis pengetahuan dan teknologi, dan operasionalisasi STP ini bisa dimaknai sebagai penanaman modal bagi pengembangan startup baru di perguruan tinggi negeri,” kata Rachmat pada 13/04/2026.

Kalimat “sudah waktunya” terasa penting. Sebab artinya kita terlalu lama menunda.

Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan kawasan ini bukan proyek kosmetik.

“Termasuk secara nyata memperkuat dan membangun kapasitas STP, baik dalam infrastruktur maupun pengembangan sumber daya manusia itu sendiri,” ujarnya pada 13/04/2026.

ITS kini mengelola empat klaster utama:

  • Maritim
  • Otomotif
  • Teknologi Informasi dan Komunikasi / Robotika
  • Industri Kreatif

Ini pilihan strategis. Indonesia negara kepulauan, pasar otomotif besar, pengguna digital masif, dan ekonomi kreatif terus tumbuh. Jika riset diarahkan ke empat sektor itu, peluang dampaknya nyata.

Dari Robot Hingga Kapal Otonom

Bambang juga membeberkan sejumlah inovasi yang sudah muncul dari kampus:

“Seperti munculnya berbagai alat kesehatan, robot RAISA, produk kendaraan listrik, kapal otonom kita yaitu i-Boat, dan berbagai produk kreatif untuk membantu UMKM,” katanya, 13 April 2026.

Di sinilah perbedaan mulai terasa. Kampus tidak hanya bicara teori robotika, tetapi membuat robot. Tidak hanya mengajar transportasi masa depan, tetapi merancang kendaraan listrik. Tidak hanya menulis soal maritim, tetapi menciptakan kapal otonom. Itulah ilmu yang turun dari menara gading.

Dampak Besar bagi Bangsa dan Umat

Jika proyek ini berjalan serius, dampaknya bisa jauh melampaui pagar kampus.

1. Lapangan Kerja Baru

Startup berbasis teknologi bisa menyerap talenta muda. Lulusan teknik tidak harus menunggu lowongan lama.

2. Kemandirian Nasional

Indonesia terlalu lama menjadi pasar produk asing. Tech park membuka peluang menjadi produsen.

3. Solusi Sosial

Alat kesehatan murah, teknologi UMKM, kapal pintar, kendaraan ramah lingkungan semuanya bisa menyentuh kebutuhan rakyat.

4. Reformasi Pendidikan

Mahasiswa belajar bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk memecahkan masalah nyata.

Tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan:

“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak.” (dikutip luas dalam warisan pemikiran pendidikan Indonesia)

Kalau diterjemahkan hari ini kampus harus menuntun bakat menjadi manfaat.

Namun Ada Sisi Gelap yang Perlu Dijaga

Setiap proyek ambisius membawa risiko. Tech park bukan pengecualian.

1. Gedung Megah, Isi Kosong

Banyak proyek gagal bukan karena konsep buruk, tetapi karena manajemen lemah. Bangunan berdiri, aktivitas sepi.

2. Riset Dikuasai Pasar

Jika terlalu mengejar komersialisasi, kampus bisa melupakan riset dasar yang penting tetapi tidak cepat untung.

3. Ketimpangan Antar Kampus

Kampus besar maju pesat, kampus kecil tertinggal. Akibatnya, inovasi hanya berputar di kota besar.

4. Brain Drain

Talenta terbaik bisa dibajak perusahaan luar negeri jika ekosistem lokal tidak kompetitif.

Ekonom Mari Elka Pangestu pernah menekankan dalam forum industri bahwa inovasi membutuhkan ekosistem, bukan sekadar investasi fisik. Gedung tanpa jejaring industri hanya akan menjadi monumen mahal.

Rp650 Miliar dan Ujian Serius

ITS menyebut pengembangan ini mendapat dukungan program HETI yang didanai Asian Development Bank.

“Negara telah memfasilitasi pembangunan STP sejak tahun 2022 lalu, di antaranya melalui program HETI-ADB dengan alokasi dana mencapai Rp650 miliar,” ungkap Bambang.

Angka itu besar. Tetapi ukuran keberhasilan bukan pada nominalnya. Ukurannya adalah:

  • berapa produk dipakai masyarakat
  • berapa startup bertahan lima tahun
  • berapa paten masuk industri
  • berapa masalah rakyat terselesaikan

Jika tidak, dana besar hanya menjadi statistik rapat.

Tabooology: Bangsa Ini Tidak Kekurangan Ide, Hanya Kekurangan Jembatan

Indonesia punya banyak orang pintar. Yang sering kurang adalah sistem yang mempertemukan ilmu dengan kebutuhan rakyat. ITS sedang mencoba membangun jembatan itu.

Namun jembatan tak berguna bila tak ada yang melintas. Pemerintah harus konsisten. Industri harus percaya. Kampus harus rendah hati. Mahasiswa harus berani gagal.

Jika semua itu bertemu, riset tak lagi mati di rak. Ia hidup di rumah sakit, di pelabuhan, di bengkel UMKM, di pabrik nasional, dan di tangan rakyat yang selama ini menunggu manfaat ilmu pengetahuan. Kalau tidak? Kita hanya akan punya gedung baru, dengan masalah lama. @teguh

Tags: DampakDosenEkonomEkosisteminovasiITSKampusKebutuhanLaboratoriumMahasiswamasyarakatNasionalPendidikanPenelitiproyekRaisaRealitasrisetRobotSosialSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

by dimas
Juli 21, 2026

AI mempermudah pekerjaan manusia, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat mengikis kebiasaan berpikir kritis. Benarkah kecerdasan buatan membuat manusia semakin cerdas,...

Kampus Tak Boleh Menjarah Hak Mahasiswa Miskin

Kampus Tak Boleh Menjarah Hak Mahasiswa Miskin

by dimas
Juli 16, 2026

Kampus tak boleh menjarah hak mahasiswa miskin. Dugaan penyimpangan KIP Kuliah menguji integritas pendidikan dan keadilan bagi generasi penerus bangsa....

Kampus dan Kekerasan Seksual: Saat Kuasa Mengalahkan Keadilan

Kampus dan Kekerasan Seksual: Saat Kuasa Mengalahkan Keadilan

by dimas
Juli 14, 2026

Kampus dan kekerasan seksual terus menjadi sorotan. Relasi kuasa, budaya diam, dan lemahnya perlindungan korban membuat keadilan sulit terwujud. Tabooo.id...

Next Post
Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id