Tabooo.id: Vibes – Ada foto hitam-putih yang diam, tetapi gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Juni 1961. Di Kremlin, Moskow. Presiden Soekarno berdiri tegak di antara elite Uni Soviet. Di dekatnya hadir Yuri Gagarin manusia pertama yang menembus langit pada 12/04/1961.
Bagi sebagian orang, itu hanya foto diplomasi. Namun, bagi yang memahami sejarah, momen tersebut menunjukkan ketika Indonesia muda datang bukan sebagai tamu kecil, melainkan pemain besar.
Saat itu usia republik belum genap dua dekade. Negara masih muda. Ekonomi belum mapan. Konflik dalam negeri juga belum reda. Meski begitu, satu hal jelas Indonesia memiliki nyali.
Ketika Dunia Dipaksa Memilih Kubu
Tahun 1961 dunia sedang panas. Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berebut pengaruh. Krisis Berlin memanas. Perlombaan senjata serta antariksa sedang menggila. Karena itu, banyak negara baru dipaksa memilih ikut Barat atau ikut Timur.
Indonesia menolak dua-duanya. Dalam pidato kenegaraan Jalannya Revolusi Kita, 17 Agustus 1960, Soekarno menegaskan:
“Kita tidak memihak blok manapun. Kita memihak kepada kemerdekaan.”
Kalimat itu bukan slogan semata. Sebaliknya, itulah identitas politik luar negeri Indonesia.
Sejarawan Asvi Warman Adam pernah mengatakan pada diskusi publik tahun 2018:
“Soekarno sangat paham panggung simbolik dunia. Ia tahu kapan harus tampil, kapan harus bicara, dan bagaimana membuat Indonesia diperhitungkan.”
Artinya sederhana Bung Karno mengerti bahwa politik bukan cuma soal rapat. Politik juga soal citra, posisi, serta keberanian tampil.
Gagarin, Sains, dan Pesan yang Halus Tapi Tajam
Ketika Soekarno menganugerahkan Bintang Adipradana kepada Gagarin, itu bukan basa-basi. Justru di sana tersimpan pesan elegan.
Ia sedang menunjukkan bahwa Indonesia menghormati ilmu pengetahuan. Selain itu, masa depan bukan hanya milik tentara dan politisi, tetapi juga ilmuwan, insinyur, serta mereka yang berani menembus batas.
Pengamat hubungan internasional Rizal Sukma dalam forum CSIS tahun 2016 menilai:
“Hubungan Indonesia dengan Soviet pada era Soekarno sangat pragmatis. Indonesia memanfaatkan rivalitas global untuk pembangunan nasional.”
Dengan kata lain, Indonesia saat itu tidak sedang jatuh cinta ideologi. Sebaliknya, bangsa ini cerdas memanfaatkan momentum.
Bukan Sekadar Foto, Tapi Beton dan Baja
Kedekatan Jakarta-Moskow melahirkan proyek nyata. Jadi, hubungan itu tidak berhenti pada jamuan makan malam.
Warisan era tersebut masih berdiri sampai sekarang:
- Stadion Utama Gelora Bung Karno
- Rumah Sakit Persahabatan
- Dukungan industri baja dan mesin
- Bantuan alat pertahanan militer
Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie pernah menyoroti dalam sejumlah forum akademik bahwa era Soekarno menunjukkan satu hal penting diplomasi kuat bisa memperkuat daya gentar nasional.
Karena itu, hubungan luar negeri waktu itu punya hasil nyata. Ada bangunan. Tersedia teknologi. Indonesia juga memiliki posisi tawar.
Aura Soekarno: Percaya Diri yang Langka
Jurnalis senior Rosihan Anwar berkali-kali menulis bahwa Soekarno memiliki kemampuan langka: membuat bangsa muda merasa setara dengan bangsa tua.
Pemandangan itu tampak jelas di Kremlin. Ia tidak kikuk. Rasa minder tidak terlihat. Kepala pun tak menunduk.
Sebaliknya, Soekarno membawa Indonesia dengan gaya seorang pemilik masa depan.
Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa Soekarno memahami kekuatan bahasa, simbol, dan panggung sejarah. Maka, ia tahu bangsa juga dibangun lewat imajinasi kolektif.
Kenapa Kisah Ini Masih Penting Hari Ini?
Karena sekarang kita sering lupa bahwa bangsa ini pernah sangat percaya diri. Sering kali kita sibuk menjadi pasar, padahal dulu pernah berani jadi pemain.
Terlalu sering kita kagum pada negara lain, padahal dulu pemimpin kita datang ke pusat kekuatan dunia tanpa rasa kecil.
Pelajaran untuk Generasi Sekarang
1. Diplomasi Butuh Harga Diri
Negara dihormati saat datang setara, bukan memelas.
2. Hubungan Luar Negeri Harus Ada Hasil
Kalau cuma foto dan seremoni, rakyat tak mendapat apa-apa.
3. Sains Itu Senjata Masa Depan
Soekarno paham kemajuan bangsa lahir dari teknologi.
4. Bangsa Muda Bisa Besar
Usia muda bukan alasan untuk minder.
5. Simbol Itu Penting
Kadang satu foto bisa menjelaskan satu era.
Penutup: Kita Masih Punya Nyali Itu?
Foto Soekarno bersama Gagarin di Kremlin bukan nostalgia murahan. Melainkan cermin.
Di sana terlihat bahwa Indonesia pernah berdiri di panggung dunia dengan dada terbuka dan kepala tegak.
Kini pertanyaannya sederhana, tetapi menusuk Apakah kita masih punya keberanian yang sama? Atau justru terlalu nyaman menjadi penonton sejarah?. @teguh






