Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kalau Massa Jadi Hakim, Pengadilan Buat Apa?

by Tabooo
April 12, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangin hal ini, kalau massa jadi hakim, dan semua orang bisa memutuskan siapa salah dan siapa benar, tanpa aturan yang jelas… Lalu buat apa pengadilan ada?

Kita sering bilang negara ini punya hukum. Tapi di lapangan, yang sering bekerja justru emosi kolektif. Masalahnya, emosi tidak pernah punya prosedur.

Saat Emosi Lebih Cepat Dari Hukum

Di Tasikmalaya, massa membakar sebuah saung di tengah sawah. Mereka menduga tempat itu menjadi lokasi aktivitas aliran sesat.

Dugaan itu langsung berubah jadi keputusan. Tak ayal, keputusan itu langsung berubah jadi aksi.

Tanpa jeda untuk berpikir. Tidak ada ruang untuk klarifikasi.

Ini Belum Selesai

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Semua terjadi cepat. Terlalu cepat.

Padahal, dalam sistem hukum, kecepatan bukan ukuran kebenaran.

Keadilan Versi Massa

Kalau kamu lihat sekilas, ini terasa seperti keadilan instan. Orang marah, lalu bertindak. Masalah seolah selesai.

Namun coba pikir lagi.

Apakah keadilan bisa lahir dari kemarahan? Atau justru kemarahan itu sendiri yang sedang mencari pembenaran?

Karena keadilan butuh proses. Sementara emosi butuh pelampiasan. Sedangkan kedua hal itu tidak pernah berjalan di jalur yang sama.

Saung Itu Terbakar, Tapi Ada Yang Lebih Besar Ikut Hangus

Saung itu memang terbakar. Api melahap kayu, bambu, dan semua yang ada di dalamnya.

Namun yang lebih besar ikut terbakar adalah kepercayaan terhadap sistem.

Setiap kali masyarakat memilih bertindak sendiri, itu berarti mereka tidak lagi percaya pada mekanisme yang ada.

Ini bukan soal benar atau salah semata, tapi soal rasa tidak percaya yang sudah terlalu lama menumpuk.

Dan ketika rasa itu meledak, hukum tidak lagi jadi rujukan.

Pola Lama yang Terus Berulang

Setiap kali muncul label “aliran sesat”, reaksi publik hampir selalu sama. Awalnya, orang merasa curiga. Lalu, rasa itu berubah jadi kegelisahan.

Kemudian, kegelisahan itu berkembang jadi kemarahan. Setelah itu, kemarahan mulai mencari sasaran. Akhirnya, massa bergerak dan langsung menghukum.

Masalahnya, proses ini terjadi terlalu cepat. Akibatnya, tidak ada ruang untuk berpikir jernih. Pada titik itu, kebenaran sering kalah oleh reaksi.

Pola ini bukan baru. Ini sudah berulang berkali-kali di berbagai tempat. Dan setiap kali terjadi, hasilnya hampir sama.

Bangunan rusak. Orang ketakutan. Sedangkan kebenaran tetap tidak pernah benar-benar jelas.

Ironisnya, kita selalu menganggap ini kasus baru. Padahal, ini siklus lama yang terus berputar.

Ini Bukan Soal Agama, Tapi Kekuasaan Narasi

Banyak orang melihat ini sebagai konflik agama. Padahal masalahnya lebih dalam dari itu. Ini tentang siapa yang punya kuasa menentukan kebenaran.

Dulu, kita menyerahkan itu pada hukum. Sekarang, perlahan-lahan kita menyerahkannya ke opini publik.

Dan opini publik itu rapuh.

Dia bisa berubah dalam hitungan jam. Terlebih lagi bisa dipicu oleh satu video viral.

Dan yang paling berbahaya, dia tidak selalu berbasis fakta.

Hari ini Satu Saung Dibakar. Besok?

Hari ini yang dibakar adalah sebuah saung. Besok, yang dihakimi bisa jadi individu biasa.

Cukup dengan satu tuduhan, sebuah narasi menyebar. Dan kamu bisa langsung kehilangan ruang untuk membela diri.

Tidak ada pengacara. Tanpa sidang. Hanya ada opini dan tekanan massa.

Dan di situ, posisi kamu bukan lagi warga. Kamu jadi objek.

Masalahnya Bukan di Massa Saja

Banyak orang langsung menyalahkan massa. Namun kalau jujur, masalahnya tidak sesederhana itu.

Massa tidak muncul dari ruang kosong. Mereka terbentuk dari akumulasi rasa tidak percaya.

Rasa bahwa hukum lambat dan keadilan sering terasa jauh. Namun ketika rasa itu dilampiaskan tanpa kontrol, hasilnya justru menciptakan ketidakadilan baru.

Ini yang sering tidak disadari.

Kita mengkritik sistem… tapi tanpa sadar, kita menciptakan sistem yang lebih liar.

Kalau semua orang merasa paling benar, mungkin yang hilang bukan hukum, tapi kemampuan kita untuk ragu.

Hari ini satu saung dibakar karena dianggap menyimpang. Besok, siapa yang menjamin standar “menyimpang” itu tidak berubah?

Kalau massa bisa jadi hakim, kalau emosi bisa jadi hukum… Lalu apa pengadilan masih punya arti?

Atau kita sebenarnya sedang hidup di sistem baru, di mana kebenaran tidak ditentukan oleh bukti, tapi oleh siapa yang paling keras bersuara? @tabooo

Tags: Hukum IndonesiaKeadilanTabooo EdgeTasikmalaya

Kamu Melewatkan Ini

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

by dimas
Juli 17, 2026

Hukum tanpa nurani membuat kepercayaan publik terus terkikis. Mengapa Indonesia membutuhkan Peradilan Etika Nasional untuk menjaga integritas, akuntabilitas, dan masa...

Hari Keadilan Internasional: Payung Hitam Menagih Janji Negara

Hari Keadilan Internasional: Payung Hitam Menagih Janji Negara

by dimas
Juli 17, 2026

Aksi Kamisan memanfaatkan Hari Keadilan Internasional untuk kembali menagih janji negara dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat dan mengakhiri impunitas di...

Ketika Hukum Kehilangan Organ, Kebenaran Ikut Tenggelam

Ketika Hukum Kehilangan Organ, Kebenaran Ikut Tenggelam

by dimas
Juli 14, 2026

Ketika hukum kehilangan arah dan kepercayaan publik runtuh, kebenaran ikut tenggelam di tengah perebutan narasi serta krisis penegakan hukum di...

Next Post
Teguran Berujung Pengeroyokan, Solo Aman?

Teguran Berujung Pengeroyokan, Solo Aman?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id