Tabooo.id: Edge – Bayangin hal ini, kalau massa jadi hakim, dan semua orang bisa memutuskan siapa salah dan siapa benar, tanpa aturan yang jelas… Lalu buat apa pengadilan ada?
Kita sering bilang negara ini punya hukum. Tapi di lapangan, yang sering bekerja justru emosi kolektif. Masalahnya, emosi tidak pernah punya prosedur.
Saat Emosi Lebih Cepat Dari Hukum
Dugaan itu langsung berubah jadi keputusan. Tak ayal, keputusan itu langsung berubah jadi aksi.
Tanpa jeda untuk berpikir. Tidak ada ruang untuk klarifikasi.
Semua terjadi cepat. Terlalu cepat.
Padahal, dalam sistem hukum, kecepatan bukan ukuran kebenaran.
Keadilan Versi Massa
Kalau kamu lihat sekilas, ini terasa seperti keadilan instan. Orang marah, lalu bertindak. Masalah seolah selesai.
Namun coba pikir lagi.
Apakah keadilan bisa lahir dari kemarahan? Atau justru kemarahan itu sendiri yang sedang mencari pembenaran?
Karena keadilan butuh proses. Sementara emosi butuh pelampiasan. Sedangkan kedua hal itu tidak pernah berjalan di jalur yang sama.
Saung Itu Terbakar, Tapi Ada Yang Lebih Besar Ikut Hangus
Saung itu memang terbakar. Api melahap kayu, bambu, dan semua yang ada di dalamnya.
Namun yang lebih besar ikut terbakar adalah kepercayaan terhadap sistem.
Setiap kali masyarakat memilih bertindak sendiri, itu berarti mereka tidak lagi percaya pada mekanisme yang ada.
Ini bukan soal benar atau salah semata, tapi soal rasa tidak percaya yang sudah terlalu lama menumpuk.
Dan ketika rasa itu meledak, hukum tidak lagi jadi rujukan.
Pola Lama yang Terus Berulang
Setiap kali muncul label “aliran sesat”, reaksi publik hampir selalu sama. Awalnya, orang merasa curiga. Lalu, rasa itu berubah jadi kegelisahan.
Kemudian, kegelisahan itu berkembang jadi kemarahan. Setelah itu, kemarahan mulai mencari sasaran. Akhirnya, massa bergerak dan langsung menghukum.
Masalahnya, proses ini terjadi terlalu cepat. Akibatnya, tidak ada ruang untuk berpikir jernih. Pada titik itu, kebenaran sering kalah oleh reaksi.
Pola ini bukan baru. Ini sudah berulang berkali-kali di berbagai tempat. Dan setiap kali terjadi, hasilnya hampir sama.
Bangunan rusak. Orang ketakutan. Sedangkan kebenaran tetap tidak pernah benar-benar jelas.
Ironisnya, kita selalu menganggap ini kasus baru. Padahal, ini siklus lama yang terus berputar.
Ini Bukan Soal Agama, Tapi Kekuasaan Narasi
Banyak orang melihat ini sebagai konflik agama. Padahal masalahnya lebih dalam dari itu. Ini tentang siapa yang punya kuasa menentukan kebenaran.
Dulu, kita menyerahkan itu pada hukum. Sekarang, perlahan-lahan kita menyerahkannya ke opini publik.
Dan opini publik itu rapuh.
Dia bisa berubah dalam hitungan jam. Terlebih lagi bisa dipicu oleh satu video viral.
Dan yang paling berbahaya, dia tidak selalu berbasis fakta.
Hari ini Satu Saung Dibakar. Besok?
Hari ini yang dibakar adalah sebuah saung. Besok, yang dihakimi bisa jadi individu biasa.
Cukup dengan satu tuduhan, sebuah narasi menyebar. Dan kamu bisa langsung kehilangan ruang untuk membela diri.
Tidak ada pengacara. Tanpa sidang. Hanya ada opini dan tekanan massa.
Dan di situ, posisi kamu bukan lagi warga. Kamu jadi objek.
Masalahnya Bukan di Massa Saja
Banyak orang langsung menyalahkan massa. Namun kalau jujur, masalahnya tidak sesederhana itu.
Massa tidak muncul dari ruang kosong. Mereka terbentuk dari akumulasi rasa tidak percaya.
Rasa bahwa hukum lambat dan keadilan sering terasa jauh. Namun ketika rasa itu dilampiaskan tanpa kontrol, hasilnya justru menciptakan ketidakadilan baru.
Ini yang sering tidak disadari.
Kita mengkritik sistem… tapi tanpa sadar, kita menciptakan sistem yang lebih liar.
Kalau semua orang merasa paling benar, mungkin yang hilang bukan hukum, tapi kemampuan kita untuk ragu.
Hari ini satu saung dibakar karena dianggap menyimpang. Besok, siapa yang menjamin standar “menyimpang” itu tidak berubah?
Kalau massa bisa jadi hakim, kalau emosi bisa jadi hukum… Lalu apa pengadilan masih punya arti?
Atau kita sebenarnya sedang hidup di sistem baru, di mana kebenaran tidak ditentukan oleh bukti, tapi oleh siapa yang paling keras bersuara? @tabooo






