Minggu, April 12, 2026
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Edge

Kalau Massa Jadi Hakim, Pengadilan Buat Apa?

April 12, 2026
in Edge
A A
Kalau Massa Jadi Hakim, Pengadilan Buat Apa?

Hari ini mereka menghakimi orang lain. Besok? Bisa jadi kamu. (Ilustrasi: Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangin hal ini, kalau massa jadi hakim, dan semua orang bisa memutuskan siapa salah dan siapa benar, tanpa aturan yang jelas… Lalu buat apa pengadilan ada?

Kita sering bilang negara ini punya hukum. Tapi di lapangan, yang sering bekerja justru emosi kolektif. Masalahnya, emosi tidak pernah punya prosedur.

Saat Emosi Lebih Cepat Dari Hukum

Di Tasikmalaya, massa membakar sebuah saung di tengah sawah. Mereka menduga tempat itu menjadi lokasi aktivitas aliran sesat.

Dugaan itu langsung berubah jadi keputusan. Tak ayal, keputusan itu langsung berubah jadi aksi.

Tanpa jeda untuk berpikir. Tidak ada ruang untuk klarifikasi.

BacaJuga

Bukan Wartel yang Hilang, Tapi Kesabaran

Tanam Pohon atau Tanam Citra? Di Era ESG, Tipis Bedanya, Tapi Dampaknya?

Semua terjadi cepat. Terlalu cepat.

Padahal, dalam sistem hukum, kecepatan bukan ukuran kebenaran.

Keadilan Versi Massa

Kalau kamu lihat sekilas, ini terasa seperti keadilan instan. Orang marah, lalu bertindak. Masalah seolah selesai.

Namun coba pikir lagi.

Apakah keadilan bisa lahir dari kemarahan? Atau justru kemarahan itu sendiri yang sedang mencari pembenaran?

Karena keadilan butuh proses. Sementara emosi butuh pelampiasan. Sedangkan kedua hal itu tidak pernah berjalan di jalur yang sama.

Saung Itu Terbakar, Tapi Ada Yang Lebih Besar Ikut Hangus

Saung itu memang terbakar. Api melahap kayu, bambu, dan semua yang ada di dalamnya.

Namun yang lebih besar ikut terbakar adalah kepercayaan terhadap sistem.

Setiap kali masyarakat memilih bertindak sendiri, itu berarti mereka tidak lagi percaya pada mekanisme yang ada.

Ini bukan soal benar atau salah semata, tapi soal rasa tidak percaya yang sudah terlalu lama menumpuk.

Dan ketika rasa itu meledak, hukum tidak lagi jadi rujukan.

Pola Lama yang Terus Berulang

Setiap kali muncul label “aliran sesat”, reaksi publik hampir selalu sama. Awalnya, orang merasa curiga. Lalu, rasa itu berubah jadi kegelisahan.

Kemudian, kegelisahan itu berkembang jadi kemarahan. Setelah itu, kemarahan mulai mencari sasaran. Akhirnya, massa bergerak dan langsung menghukum.

Masalahnya, proses ini terjadi terlalu cepat. Akibatnya, tidak ada ruang untuk berpikir jernih. Pada titik itu, kebenaran sering kalah oleh reaksi.

Pola ini bukan baru. Ini sudah berulang berkali-kali di berbagai tempat. Dan setiap kali terjadi, hasilnya hampir sama.

Bangunan rusak. Orang ketakutan. Sedangkan kebenaran tetap tidak pernah benar-benar jelas.

Ironisnya, kita selalu menganggap ini kasus baru. Padahal, ini siklus lama yang terus berputar.

Ini Bukan Soal Agama, Tapi Kekuasaan Narasi

Banyak orang melihat ini sebagai konflik agama. Padahal masalahnya lebih dalam dari itu. Ini tentang siapa yang punya kuasa menentukan kebenaran.

Dulu, kita menyerahkan itu pada hukum. Sekarang, perlahan-lahan kita menyerahkannya ke opini publik.

Dan opini publik itu rapuh.

Dia bisa berubah dalam hitungan jam. Terlebih lagi bisa dipicu oleh satu video viral.

Dan yang paling berbahaya, dia tidak selalu berbasis fakta.

Hari ini Satu Saung Dibakar. Besok?

Hari ini yang dibakar adalah sebuah saung. Besok, yang dihakimi bisa jadi individu biasa.

Cukup dengan satu tuduhan, sebuah narasi menyebar. Dan kamu bisa langsung kehilangan ruang untuk membela diri.

Tidak ada pengacara. Tanpa sidang. Hanya ada opini dan tekanan massa.

Dan di situ, posisi kamu bukan lagi warga. Kamu jadi objek.

Masalahnya Bukan di Massa Saja

Banyak orang langsung menyalahkan massa. Namun kalau jujur, masalahnya tidak sesederhana itu.

Massa tidak muncul dari ruang kosong. Mereka terbentuk dari akumulasi rasa tidak percaya.

Rasa bahwa hukum lambat dan keadilan sering terasa jauh. Namun ketika rasa itu dilampiaskan tanpa kontrol, hasilnya justru menciptakan ketidakadilan baru.

Ini yang sering tidak disadari.

Kita mengkritik sistem… tapi tanpa sadar, kita menciptakan sistem yang lebih liar.

Kalau semua orang merasa paling benar, mungkin yang hilang bukan hukum, tapi kemampuan kita untuk ragu.

Hari ini satu saung dibakar karena dianggap menyimpang. Besok, siapa yang menjamin standar “menyimpang” itu tidak berubah?

Kalau massa bisa jadi hakim, kalau emosi bisa jadi hukum… Lalu apa pengadilan masih punya arti?

Atau kita sebenarnya sedang hidup di sistem baru, di mana kebenaran tidak ditentukan oleh bukti, tapi oleh siapa yang paling keras bersuara? @tabooo

Tags: aksi massaaliran sesatHukum IndonesiaKeadilanKonflik Sosialmassa hakimTabooo EdgeTasikmalaya

REKOMENDASI TABOOO

Kita Bilang Ini Program Gizi, Kok yang Dibahas Malah Motor Listrik MBG?

Motor Listrik MBG? Katanya Program Gizi

by Tabooo
April 10, 2026

Tabooo.id: Edge – Program MBG sudah jalan, tapi kenapa publik justru sibuk bahas motor listrik? Ini yang mulai jadi pertanyaan,...

Damai Versi Timur Tengah: Teken Dulu, Serang Lagi Besok

Damai Versi Timur Tengah: Teken Dulu, Serang Lagi Besok

by Tabooo
April 9, 2026

Tabooo.id: Edge - Gencatan senjata Iran–Amerika diumumkan 8 April 2026. Dunia langsung lega. Timur Tengah damai. Jujur saja, kita pasti suka...

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

by dimas
April 7, 2026

Tabooo.id: Deep - Di lahan kosong belakang lapangan golf Kemayoran, sebuah teriakan memecah sunyi.“Penculik!” Saat itu, Muhammad Ilham Pradipta tidak...

Next Post
Teguran Berujung Pengeroyokan, Solo Aman?

Teguran Berujung Pengeroyokan, Solo Aman?

Recommended

Dynasty Warriors: Kenapa Game Tebas Ribuan Musuh Ini Bikin Ketagihan?

Dynasty Warriors: Kenapa Game Tebas Ribuan Musuh Ini Bikin Ketagihan?

April 6, 2026
Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

April 7, 2026

Popular

Pacaran Backstreet Bisa Dipidana: Mitos atau Realita KUHP Baru?

Pacaran Backstreet Bisa Dipidana: Mitos atau Realita KUHP Baru?

April 11, 2026

Polling: Buku Apa Lagi yang Perlu Dibongkar?

April 11, 2026

Parkir Berbayar Tapi Tak Aman: Siapa Harus Bertanggung Jawab?

April 11, 2026

Pasal 452 KUHP: Perlindungan Anak atau Ancaman Cinta?

April 11, 2026

Hompimpa: Permainan Anak atau Filosofi Hidup yang Kita Abaikan?

April 11, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.