Benarkah Soekarno mandor romusha? Di balik tuduhan kolaborator Jepang, tersimpan dilema politik, strategi kemerdekaan, dan sejarah yang jauh lebih rumit.
Tabooo.id – Malam itu, ribuan orang Indonesia tidak sedang memikirkan kemerdekaan. Mereka memikirkan bagaimana bertahan hidup.
Sebagian berangkat meninggalkan desa, sebagian naik kereta menuju proyek-proyek militer Jepang dan sebagian lagi tak pernah kembali.
Mereka disebut romusha.
Puluhan tahun kemudian, sebuah pertanyaan masih terus menghantui sejarah Indonesia:\ ketika romusha dikirim ke berbagai proyek perang Jepang, di mana posisi Soekarno?
Pertanyaan itu kembali hidup di media sosial. Sebagian menyebut Soekarno sebagai “mandor romusha”. Sebagian lain membelanya sebagai nasionalis yang sedang memainkan strategi politik paling berbahaya dalam hidupnya.
Masalahnya, sejarah tidak pernah sesederhana unggahan media sosial.
Ketika Jepang Datang Membawa Harapan
Bagi banyak nasionalis Indonesia pada awal abad ke-20, Jepang bukan sekadar negara Asia.
Negeri Matahari Terbit itu menjelma menjadi simbol kebangkitan bangsa-bangsa Asia.
Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 membuktikan bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan kekuatan Barat. Karena itu, banyak tokoh pergerakan, termasuk Soekarno, mulai percaya bahwa dominasi kolonial Eropa tidak akan berlangsung selamanya.
Saat Jepang mengusir Belanda dari Hindia Belanda pada 1942, Soekarno melihat peluang yang selama puluhan tahun tidak pernah muncul.
Belanda tumbang.
Ruang politik terbuka.
Lebih penting lagi, kemerdekaan tampak berada dalam jangkauan.
Menurut berbagai catatan sejarah, Jepang mendekati Soekarno dengan tawaran sederhana: bantu memenangkan perang, lalu jalan menuju kemerdekaan akan dibuka.
Bagi Soekarno, tawaran itu bukan sekadar peluang.
Tawaran itu adalah perjudian politik terbesar dalam hidupnya.
Perjanjian yang Mengubah Segalanya
Dalam autobiografinya, Soekarno menceritakan pertemuannya dengan pejabat militer Jepang yang menjanjikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia apabila kaum nasionalis bersedia bekerja sama.
Akhirnya, Soekarno menerima tawaran tersebut.
Namun, ia menerimanya dengan satu tujuan: memanfaatkan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Di atas kertas, kedua pihak sama-sama membutuhkan satu sama lain.
Jepang membutuhkan pengaruh Soekarno untuk mengendalikan rakyat Indonesia.
Sebaliknya, Soekarno membutuhkan Jepang untuk membuka pintu menuju negara merdeka.
Meski demikian, hubungan semacam itu selalu memiliki harga.
Dan harga itu bernama romusha.
Dari Sukarela Menjadi Paksaan
Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam perdebatan sejarah adalah anggapan bahwa romusha sejak awal merupakan sistem perbudakan massal.
Faktanya jauh lebih rumit.
Pada tahap awal pendudukan, Jepang merekrut tenaga kerja melalui kontrak dan iklan pekerjaan. Bahkan, para pekerja masih menerima upah yang dianggap cukup layak pada masa itu.
Namun, perang mengubah seluruh situasi.
Ketika posisi Jepang semakin terdesak dalam Perang Dunia II, kebutuhan tenaga kerja meningkat drastis.
Akibatnya, kuota romusha terus bertambah.
Para pejabat daerah menghadapi tekanan yang semakin besar.
Lambat laun, perekrutan sukarela berubah menjadi pemaksaan.
Banyak desa kehilangan laki-laki usia produktif. Selain itu, ribuan keluarga kehilangan sumber penghidupan. Kondisi kerja memburuk, upah sering terlambat, dan tidak sedikit romusha meninggal jauh dari kampung halaman mereka.
Di tengah situasi itulah nama Soekarno ikut masuk dalam pusaran kontroversi.
Pasalnya, Jepang menjadikannya wajah propaganda untuk menarik dukungan rakyat.
Foto yang Membayanginya Seumur Hidup
Pada September 1944, Soekarno mengenakan celana pendek dan topi jerami saat memimpin rombongan yang Jepang tampilkan sebagai romusha sukarela menuju proyek pembangunan lapangan terbang. Melalui kampanye itu, Jepang berusaha memanfaatkan pengaruh Soekarno untuk mendukung kepentingan perang mereka.
Seorang fotografer kemudian mengabadikan momen tersebut.
Kelak, foto itu menjadi salah satu bukti yang paling sering digunakan untuk menuduh Soekarno sebagai kolaborator Jepang.
Ironisnya, pada saat yang sama, Soekarno juga menyaksikan langsung penderitaan para romusha di berbagai lokasi kerja.
Ia mengetahui kondisi mereka.
Ia memahami risikonya.
Meskipun demikian, ia tetap melanjutkan kerja sama politik dengan Jepang.
Mengapa?
Menurut Soekarno, perjuangan menuju kemerdekaan selalu menuntut pengorbanan.
Karena itulah ia percaya kemenangan politik yang lebih besar sedang menunggu di depan.
Analisis Tabooo
Di sinilah perdebatan sejarah menjadi menarik.
Persoalan ini bukan sekadar tentang romusha.
Lebih dari itu, persoalan ini menyentuh pertanyaan klasik yang terus muncul dalam setiap zaman apakah tujuan besar dapat membenarkan kompromi yang menyakitkan?
Soekarno menjawab ya.
Sebaliknya, para pengkritiknya menjawab tidak.
Karena itu, perdebatan tersebut tidak pernah benar-benar berakhir.
Yang dipersoalkan bukan hanya tindakan Soekarno.
Lebih jauh lagi, masyarakat terus memperdebatkan batas moral yang bersedia mereka toleransi demi sebuah cita-cita besar.asa pendudukan Jepang dan mengetahui harga yang harus dibayar rakyat, apakah Anda akan memilih jalan Soekarno atau jalan perlawanan terbuka? @dimas




