Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Dunia Para Perasuk, Kehilangan Kendali Justru Jadi Jalan untuk Dilihat

by jeje
April 11, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Lampu meredup, lalu suara ramai perlahan naik.
Di satu sudut, seseorang mulai bergerak di luar kendali. Seketika, semua mata tertuju.

Aneh? Mungkin. Tapi rasanya dekat.

Di dunia Para Perasuk, momen seperti itu tidak dihindari. Justru, orang-orang menunggunya.
Dan tanpa sadar, kita pun hidup dalam pola yang serupa.

Desa, Ritual, dan Kerumunan yang Setia

Di sebuah desa, warga tidak berkumpul untuk menjauh. Sebaliknya, mereka datang untuk menyaksikan.

Mereka membentuk lingkaran. Fokus pada satu titik.
Tubuh bergerak liar, sementara suara berubah pelan-pelan. Pada saat yang sama, kesadaran mulai memudar.

Ini Belum Selesai

Laweyan: Kampung Batik yang Menyimpan Lorong Sunyi Sejarah

Urban Culture dan Matinya Ingatan Kota

Namun, alih-alih takut, suasana justru semakin hidup.
Tak ada yang mundur. Semua tetap menatap, seolah tidak ingin melewatkan apa pun.

Dari Lapangan ke Layar

Sekilas, cerita ini tampak jauh. Desa, ritual, dan kerasukan seperti dunia yang berbeda.
Namun, jika diperhatikan lebih dekat, polanya terasa akrab.

Hari ini, orang-orang tetap berkumpul. Bedanya, mereka tidak lagi berdiri di lapangan, melainkan di depan layar.

Mereka menonton, lalu bereaksi.
Sebagian memberi penilaian, sementara yang lain menunggu sesuatu yang lebih ekstrem.

Di desa Bayu, tubuh menjadi pusat perhatian.
Di dunia kita, identitas mengambil peran itu.

Perbedaannya tipis. Bahkan, hampir tak terasa.

Ironisnya, semakin ekstrem seseorang tampil, semakin besar perhatian yang ia dapatkan.

Dari Cerita Lokal ke Panggung Dunia

Cerita ini tidak berhenti di satu tempat.

Wregas Bhanuteja membawa Para Perasuk melangkah lebih jauh. Ia bekerja sama dengan Rekata Studio dan tim lintas negara.

Awalnya, film ini tampil di Festival Film Internasional Busan dan menarik perhatian.
Setelah itu, langkahnya berlanjut ke Sundance 2026.

Dengan perjalanan itu, cerita lokal mulai berbicara ke audiens global.
Dan ternyata, rasa yang dibawa tetap sama: kebutuhan untuk dilihat.

Yang Sebenarnya Kita Kejar

Film ini tidak hanya berbicara tentang roh. Sebaliknya, ia menyentuh sesuatu yang lebih dekat.

Bayu memang mengejar kerasukan. Namun, yang ia cari adalah pengakuan.

Di titik ini, cerita terasa relevan.

Banyak orang ingin terlihat.
Sebagian ingin dianggap penting.
Ada juga yang rela berubah demi perhatian.

Tanpa disadari, hampir semua pernah berada di posisi itu.

Penutup

Para Perasuk tidak sekadar menyajikan cerita. Film ini mengajak kamu melihat ulang realitas.

Manusia tidak selalu nyaman menjadi dirinya sendiri. Karena itu, banyak yang memilih tampil sebagai versi lain.

Bukan karena itu jujur, tapi karena itu diperhatikan.

Dan pada akhirnya, ketika pengakuan menjadi tujuan, kehilangan kendali tidak lagi terasa menakutkan.

Justru, itu terasa seperti sesuatu yang… diperlukan. @jeje

Tags: Fenomena SosialFilm IndonesiaGen Z

Kamu Melewatkan Ini

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

by teguh
Mei 26, 2026

Buat sebagian orang, pagi tanpa kopi terasa seperti laptop tanpa baterai hidup, tapi sulit menyala. Secangkir kopi sudah berubah jadi...

Namanya Yakuza, Isinya Dzikir: Indonesia Memang Sulit Ditebak

Namanya Yakuza, Isinya Dzikir: Indonesia Memang Sulit Ditebak

by teguh
Mei 25, 2026

Indonesia kembali melahirkan plot twist yang sulit ditebak. Saat nama “YAKUZA Maneges” muncul di media sosial, sebagian orang langsung membayangkan...

YAKUZA Maneges: Kenapa Orang yang Ingin Berubah Justru Sering Kita Adili?

YAKUZA Maneges: Kenapa Orang yang Ingin Berubah Justru Sering Kita Adili?

by teguh
Mei 24, 2026

Sebuah nama mendadak memantik rasa penasaran publik YAKUZA Maneges. Sebagian orang langsung mengernyit. Nama itu selama ini identik dengan mafia...

Next Post
Hidden Gem yang Nggak Cuma Cantik, Tapi Punya Cerita: Teluk Hijau Banyuwangi

Hidden Gem yang Nggak Cuma Cantik, Tapi Punya Cerita: Teluk Hijau Banyuwangi

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Mei 27, 2026

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Mei 19, 2026

Dari Muzdalifah ke Mina: Jutaan Langkah Menuju Lempar Jumrah

Mei 27, 2026

Krisis Juleha: Ketika Semua Daging Kurban Harus Cepat Selesai

Mei 27, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id