Tabooo.id: Film – Apa jadinya kalau kerasukan bukan lagi sesuatu yang ditakuti, tapi justru jadi cita-cita? Film Para Perasuk langsung mematahkan anggapan itu. Ia tidak bermain di zona horor biasa. Sebaliknya, film ini menarik kamu masuk ke realitas yang terasa ganjil, tapi diam-diam dekat.
Di desa itu, warga tidak menghindari kerasukan. Mereka justru menunggunya.
Ketika Ritual Jadi Panggung
Bayu, pemuda 20 tahun yang diperankan Angga Yunanda, mengejar satu hal: menjadi perasuk dalam ritual sambetan.
Namun, ia tidak sekadar ingin kerasukan. Ia ingin diakui.
Warga desa berkumpul, menonton, lalu bersorak saat seseorang kehilangan kendali. Mereka mengubah ritual menjadi tontonan. Mereka juga menggeser tradisi menjadi hiburan.
Sementara itu, Laksmi yang diperankan Maudy Ayunda melihat situasi ini dari sudut berbeda. Ia mulai mempertanyakan makna di balik ritual yang terus dipertontonkan.
Lalu muncul satu pertanyaan: ketika semua orang menikmati, siapa yang masih menjaga maknanya?
Dari Desa ke Dunia
Wregas Bhanuteja mengarahkan film ini dengan visi yang jelas. Namun, ia tidak bekerja sendiri.
Ia menggandeng Rekata Studio dan membangun kolaborasi lintas negara. Singapura, Prancis, dan Taiwan ikut terlibat dalam produksi.
Tim produksi kemudian membawa proyek ini ke Festival Film Internasional Busan dan berhasil menarik perhatian.
Setelah itu, film ini melangkah ke panggung yang lebih besar. Mereka menayangkannya di Festival Film Sundance 2026dalam kompetisi utama.
Artinya, cerita lokal ini akhirnya berbicara ke audiens global.
Ini Bukan Soal Roh
Sekilas, film ini terlihat seperti cerita mistis. Namun, film ini sebenarnya berbicara tentang manusia.
Bayu ingin kerasukan. Tapi di balik itu, ia mengejar pengakuan.
Di titik ini, ceritanya terasa sangat dekat.
Hari ini, orang tidak perlu ritual untuk “dirasuki”. Mereka cukup membuka kamera, membuat konten, lalu mencari perhatian.
Perbedaannya tipis.
Di desa Bayu, tubuh menjadi panggung.
Di dunia kita, identitas berubah menjadi tontonan.
Ironisnya, semakin ekstrem seseorang tampil, semakin besar perhatian yang ia dapatkan.
Pemeran dan Energi Cerita
Film ini menghadirkan Chicco Kurniawan dan Bryan Domani untuk memperkuat dinamika cerita.
Selain itu, Anggun Cipta menjalani debut film layar lebar lewat proyek ini.
Kombinasi ini membuat setiap karakter terasa hidup dan berlapis.
Tradisi atau Eksploitasi?
Film ini tidak berhenti di cerita. Sebaliknya, ia mendorong pertanyaan yang lebih dalam.
Apakah kita masih menjaga tradisi, atau justru mengonsumsinya?
Warga desa menjadikan ritual sebagai tontonan. Mereka menikmati momen itu. Namun, di saat yang sama, makna aslinya mulai memudar.
Film ini tidak memberi jawaban. Justru, film ini memaksa kamu berpikir.
Penutup
Para Perasuk tidak hanya ingin menakuti. Film ini ingin mengganggu cara kamu melihat realitas.
Manusia tidak selalu ingin menjadi dirinya sendiri.
Kadang, manusia memilih menjadi sesuatu yang orang lain lihat.
Dan ketika pengakuan menjadi tujuan, kehilangan kendali terasa seperti harga yang wajar. @jeje







