Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Para Perasuk: Ketika Kerasukan Jadi Ambisi

by jeje
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture Film
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Apa jadinya kalau kerasukan bukan lagi sesuatu yang ditakuti, tapi justru jadi cita-cita? Film Para Perasuk langsung mematahkan anggapan itu. Ia tidak bermain di zona horor biasa. Sebaliknya, film ini menarik kamu masuk ke realitas yang terasa ganjil, tapi diam-diam dekat.

Di desa itu, warga tidak menghindari kerasukan. Mereka justru menunggunya.

Ketika Ritual Jadi Panggung

Bayu, pemuda 20 tahun yang diperankan Angga Yunanda, mengejar satu hal: menjadi perasuk dalam ritual sambetan.

Namun, ia tidak sekadar ingin kerasukan. Ia ingin diakui.

Warga desa berkumpul, menonton, lalu bersorak saat seseorang kehilangan kendali. Mereka mengubah ritual menjadi tontonan. Mereka juga menggeser tradisi menjadi hiburan.

Ini Belum Selesai

Pesta Babi Papua: Saat Kehormatan, Alam, dan Identitas Bertemu

Mobil Baru Aman? Kenapa Banyak Kendaraan Gagal Uji Tipe?

Sementara itu, Laksmi yang diperankan Maudy Ayunda melihat situasi ini dari sudut berbeda. Ia mulai mempertanyakan makna di balik ritual yang terus dipertontonkan.

Lalu muncul satu pertanyaan: ketika semua orang menikmati, siapa yang masih menjaga maknanya?

Dari Desa ke Dunia

Wregas Bhanuteja mengarahkan film ini dengan visi yang jelas. Namun, ia tidak bekerja sendiri.

Ia menggandeng Rekata Studio dan membangun kolaborasi lintas negara. Singapura, Prancis, dan Taiwan ikut terlibat dalam produksi.

Tim produksi kemudian membawa proyek ini ke Festival Film Internasional Busan dan berhasil menarik perhatian.

Setelah itu, film ini melangkah ke panggung yang lebih besar. Mereka menayangkannya di Festival Film Sundance 2026dalam kompetisi utama.

Artinya, cerita lokal ini akhirnya berbicara ke audiens global.

Ini Bukan Soal Roh

Sekilas, film ini terlihat seperti cerita mistis. Namun, film ini sebenarnya berbicara tentang manusia.

Bayu ingin kerasukan. Tapi di balik itu, ia mengejar pengakuan.

Di titik ini, ceritanya terasa sangat dekat.

Hari ini, orang tidak perlu ritual untuk “dirasuki”. Mereka cukup membuka kamera, membuat konten, lalu mencari perhatian.

Perbedaannya tipis.

Di desa Bayu, tubuh menjadi panggung.
Di dunia kita, identitas berubah menjadi tontonan.

Ironisnya, semakin ekstrem seseorang tampil, semakin besar perhatian yang ia dapatkan.

Pemeran dan Energi Cerita

Film ini menghadirkan Chicco Kurniawan dan Bryan Domani untuk memperkuat dinamika cerita.

Selain itu, Anggun Cipta menjalani debut film layar lebar lewat proyek ini.

Kombinasi ini membuat setiap karakter terasa hidup dan berlapis.

Tradisi atau Eksploitasi?

Film ini tidak berhenti di cerita. Sebaliknya, ia mendorong pertanyaan yang lebih dalam.

Apakah kita masih menjaga tradisi, atau justru mengonsumsinya?

Warga desa menjadikan ritual sebagai tontonan. Mereka menikmati momen itu. Namun, di saat yang sama, makna aslinya mulai memudar.

Film ini tidak memberi jawaban. Justru, film ini memaksa kamu berpikir.

Penutup

Para Perasuk tidak hanya ingin menakuti. Film ini ingin mengganggu cara kamu melihat realitas.

Manusia tidak selalu ingin menjadi dirinya sendiri.

Kadang, manusia memilih menjadi sesuatu yang orang lain lihat.

Dan ketika pengakuan menjadi tujuan, kehilangan kendali terasa seperti harga yang wajar. @jeje

Tags: film horor IndonesiaFilm Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Film “Timur” : Iko Uwais Membuka Luka Masa Lalu

Film “Timur” : Iko Uwais Membuka Luka Masa Lalu

by jeje
Mei 15, 2026

Selama ini publik mengenal Iko Uwais sebagai wajah keras film laga Indonesia. Tubuhnya identik dengan tendangan cepat, koreografi brutal, dan pertarungan yang...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Nobar Film “Pesta Babi” Dibubarkan: Masih Adakah Kebebasan Berekspresi?

Nobar Film “Pesta Babi” Dibubarkan: Masih Adakah Kebebasan Berekspresi?

by dimas
Mei 11, 2026

Nobar film Pesta Babi di ruang-ruang publik menunjukkan bagaimana seni kerap dianggap sebagai cara paling aman untuk menyuarakan realitas. Film,...

Next Post
Di Dunia Para Perasuk, Kehilangan Kendali Justru Jadi Jalan untuk Dilihat

Di Dunia Para Perasuk, Kehilangan Kendali Justru Jadi Jalan untuk Dilihat

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Mei 27, 2026

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Mei 19, 2026

Dari Muzdalifah ke Mina: Jutaan Langkah Menuju Lempar Jumrah

Mei 27, 2026

Krisis Juleha: Ketika Semua Daging Kurban Harus Cepat Selesai

Mei 27, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id