Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kita Pernah Belajar Menerima dari Hompimpa, Lalu Kenapa Sekarang Lupa?

by jeje
April 11, 2026
in Talk
A A
Home Talk

Tabooo.id: Talk – Kamu pasti pernah mengucapkannya. Tapi sekarang coba pikir lagi: kapan terakhir kali kamu benar-benar mempertanyakan artinya?

Sebagian besar dari kita hanya ikut arus. Kita hafal, kita pakai, tapi jarang berhenti untuk memahami.

Padahal, di balik kalimat sederhana itu, ada cara berpikir yang dulu kita jalani tanpa sadar.

Kita Pernah Sepakat Tanpa Ribut

Waktu kecil, kita pakai hompimpa untuk menentukan giliran. Prosesnya cepat, hasilnya langsung jelas.

Begitu tangan dibuka, keputusan selesai.

Ini Belum Selesai

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

Aksi 28 Oktober: Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah

Yang kalah langsung jalan. Sementara itu, yang lain lanjut bermain tanpa protes.

Menariknya, tidak ada yang memperdebatkan hasil. Semua menerima karena sejak awal sudah sepakat.

Sekarang bandingkan dengan kondisi hari ini.
Masih bisa kita mengambil keputusan secepat itu tanpa konflik?

Dulu Kita Menerima, Sekarang Kita Mencurigai

Saat kecil, kita tidak butuh alasan panjang untuk menerima hasil. Kita percaya pada prosesnya.

Namun, semakin dewasa, pola itu berubah.

Sekarang, banyak orang langsung mempertanyakan sistem ketika hasil tidak sesuai harapan. Selain itu, rasa curiga sering muncul lebih dulu daripada penerimaan.

Akibatnya, keputusan sederhana pun bisa berubah jadi perdebatan panjang.

Jadi, ini soal kita yang makin kritis… atau justru makin sulit menerima?

Ini Bukan Sekadar Permainan

Beberapa sumber menyebut hompimpa berasal dari bahasa Sanskerta.

Maknanya: “Dari Tuhan kembali ke Tuhan.”

Sekilas terdengar ringan. Namun jika dipahami lebih dalam, maknanya cukup besar.

Menurut peneliti budaya Zaini Alif, kata seperti Hom, Om, atau Hum merujuk pada Tuhan. Sementara itu, “alaihum” menunjukkan makna kembali.

Artinya, sejak kecil kita sudah dikenalkan pada satu konsep penting: tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Masalahnya, Kita Ingin Mengontrol Segalanya

Dulu, hompimpa mengajarkan kesepakatan. Semua ikut aturan yang sama, lalu menerima hasilnya.

Namun sekarang, banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses.

Akibatnya, diskusi sering berubah menjadi adu kepentingan. Selain itu, kesepakatan makin sulit dicapai karena setiap orang ingin menang.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih jujur:
kita masih mencari solusi bersama, atau hanya mencari cara untuk tidak kalah?

Versinya Boleh Berbeda, Tapi Nilainya Sama

Di beberapa daerah, hompimpa punya versi yang lebih panjang.

Misalnya di Betawi:
“Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pakai baju rombeng.”

Meski terdengar lebih santai, fungsinya tetap sama.

Artinya, perbedaan bentuk tidak mengubah esensi. Tujuannya tetap satu: mengambil keputusan tanpa konflik.

Namun realitanya sekarang berbeda. Hal kecil saja bisa memicu perdebatan yang melebar ke mana-mana.

Yang Berubah Itu Cara Kita Bermain

Dulu, anak-anak bermain untuk kebersamaan. Mereka menerima kalah sebagai bagian dari permainan.

Sekarang, banyak orang melihat kalah sebagai kegagalan yang harus dihindari.

Karena itu, fokus bergeser. Dari menerima hasil, menjadi mempertanyakan proses.

Padahal, sistemnya tetap sederhana.

Yang berubah justru cara kita menyikapinya.

Penutup: Kita Pernah Lebih Sederhana

Dulu, kita bisa menerima tanpa banyak alasan. Sekarang, kita butuh pembenaran untuk hal yang sama.

Dulu, kita percaya pada kesepakatan. Sekarang, kita sering meragukannya.

Ironisnya, pelajaran tentang itu sudah kita dapat sejak kecil.

Lalu sekarang pertanyaannya:

Apakah kita benar-benar berkembang…
atau justru kehilangan cara sederhana untuk menerima hidup? @jeje

Tags: Budaya IndonesiaOpini Publikpola pikirRefleksi Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Guruh Soekarnoputra: Anak Bung Karno yang Memilih Panggung Seni

Guruh Soekarnoputra: Anak Bung Karno yang Memilih Panggung Seni

by teguh
September 26, 2026

Guruh Soekarnoputra wafat pada Sabtu, 26/09/2026, pukul 04.16 WIB. Putra bungsu Soekarno itu meninggal pada usia 73 tahun di MRCCC...

Guruh Soekarnoputra Wafat, Panggung Seni Berduka

Guruh Soekarnoputra Wafat, Panggung Seni Berduka

by teguh
September 26, 2026

Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh yang hidup di dua panggung sekaligus seni dan politik. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada...

Pokémon Masuk ke Dunia Wayang: Tradisi Sedang Diselamatkan atau Beradaptasi?

Pokémon Masuk ke Dunia Wayang: Tradisi Sedang Diselamatkan atau Beradaptasi?

by teguh
September 19, 2026

Bayangkan seorang anak mengenal Pikachu jauh sebelum mengenal Gatotkaca. Situasi itu menunjukkan perubahan cara generasi muda menemukan budaya. Di tengah...

Next Post
Bukan Wartel yang Hilang, Tapi Kesabaran Kita

Bukan Wartel yang Hilang, Tapi Kesabaran

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id