Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Tan Malaka Menolak Dunia Gaib? – Madilog Series #1.1

by Tabooo
Mei 13, 2026
in Madilog Series
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id – Tan Malaka menolak dunia gaib. Bahkan ia tidak membuka Madilog dengan teori rumit. Sebaliknya, dia langsung menyerang cara kamu melihat dunia. Lebih jauh lagi, dia mempertanyakan satu hal yang jarang kamu sentuh, apakah yang kamu anggap realita benar-benar nyata, atau hanya cerita yang kamu warisi tanpa pernah kamu uji?

Dia melihat masyarakat Indonesia hidup dalam kabut panjang yang dipenuhi kegaiban. Bukan sekadar percaya, tapi menjadikan hal gaib sebagai penjelasan utama atas hampir semua kejadian. Dalam kondisi seperti ini, orang tidak mencari sebab, mereka menerima jawaban. Dan di situlah masalahnya dimulai.

Dunia Gaib Tidak Bisa Jadi Dasar Berpikir

Tan Malaka tidak pernah sibuk membuktikan apakah dunia gaib ada atau tidak. Sebaliknya, dia menolak masuk ke perdebatan itu. Dia langsung menyerang dari sisi yang lebih fundamental: dunia gaib tidak memenuhi syarat sebagai dasar berpikir.

Dia menjelaskan bahwa cara berpikir harus berdiri di atas sesuatu yang bisa diuji, diamati, dan diperiksa ulang . Tanpa itu, manusia tidak punya alat untuk membedakan mana yang benar dan mana yang hanya terasa benar.

Ini poin yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira Tan Malaka anti-spiritual. Padahal, dia tidak menyerang keyakinan. Dia menyerang cara manusia menjadikan keyakinan sebagai “fakta” tanpa pembuktian.

Ini Belum Selesai

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Madilog: Cara Berpikir yang Membongkar Ilusi Kolektif

Dalam Madilog, Tan Malaka menyusun satu kerangka berpikir yang menggabungkan Materialisme, Dialektika, dan Logika. Bukan untuk membuat manusia terlihat pintar, tapi untuk memaksa manusia jujur terhadap realita.

Tan Malaka tidak basa-basi. Dia menyatakan bahwa Madilog melawan budaya mistika yang terlalu diagungkan di Timur. Ini bukan sekadar kritik. Dia menyerang cara berpikir yang orang terima begitu saja tanpa pernah mereka berani uji.

Menurut Tan Malaka, selama kamu tidak menguji apa yang kamu percaya, kamu tidak benar-benar berpikir. Sebaliknya, kamu hanya mengulang.

Materialisme: Realita Tidak Peduli Apa yang Kamu Percaya

Tan Malaka memulai dari satu posisi yang keras. Realita tidak berubah hanya karena kamu percaya sesuatu.

Dia menegaskan bahwa kamu harus menelusuri setiap fenomena lewat benda, materi, dan sebab nyata yang bisa kamu cek sendiri. Dunia tidak berjalan sesuai keinginanmu. Dunia berjalan mengikuti hukum yang bisa kamu pahami.

Ketika ekonomi runtuh, penyebabnya ada pada sistem, bukan “nasib buruk”. Ketika seseorang gagal, ada faktor konkret di baliknya, bukan sekadar “belum waktunya”.

Materialisme memaksa manusia meninggalkan penjelasan yang nyaman dan mulai mencari penjelasan yang benar.

Logika Bisa Menipu, Kalau Dasarnya Salah

Tan Malaka tidak berhenti di materialisme, tapi dia juga mengkritik logika.

Dia melihat satu pola: banyak orang menganggap logika sebagai alat berpikir tertinggi. Namun, mereka lupa batasnya. Logika hanya bekerja kalau kamu berdiri di atas dasar yang benar. Kalau premisnya salah, hasilnya tetap salah, meskipun terlihat meyakinkan.

Di sinilah dunia gaib masuk tanpa kamu sadari. Banyak orang menyusun argumen logis, tapi mereka membangunnya di atas asumsi yang tidak pernah mereka uji. Mereka terlihat rasional, padahal mereka hanya merapikan ilusi.

Empiris: Cara Satu-Satunya untuk Memastikan Kebenaran

Tan Malaka menegaskan bahwa ilmu tumbuh dari pembuktian, bukan kepercayaan. Karena itu, dia menantang kamu mencari hubungan sebab-akibat lewat pengalaman langsung, eksperimen, dan pengamatan. Inilah yang membedakan ilmu dari keyakinan.

Ilmu membuka ruang untuk salah dan memperbaiki diri. Sebaliknya, keyakinan tanpa uji justru menutup ruang itu. Karena itu, saat kamu berhenti menguji, kamu juga berhenti berkembang.

Masalah Sebenarnya: Manusia Lebih Suka Penjelasan yang Menenangkan

Tan Malaka memahami satu hal, masalahnya bukan pada dunia gaib, tapi pada manusia itu sendiri. Karena itu, manusia memilih penjelasan yang paling cepat, paling sederhana, dan paling menenangkan.

Saat menghadapi sesuatu yang sulit, mereka tidak menggali lebih dalam. Sebaliknya, mereka berhenti di jawaban yang terasa cukup. Padahal, “terasa cukup” tidak sama dengan benar.

Materialisme menghancurkan kenyamanan itu. Dia memaksa manusia melihat realita tanpa filter. Dan itu sering kali tidak enak.

Ini Bukan Soal Percaya atau Tidak. Ini Soal Berani Menguji

Pada akhirnya, Tan Malaka tidak meminta kamu berhenti percaya. Sebaliknya, dia menantang kamu untuk mulai menguji.

Dia juga tidak memaksa kamu meninggalkan dunia gaib. Namun, dia menolak menjadikannya sebagai dasar berpikir. Tanpa pembuktian, kamu hanya bergantung pada asumsi.

Karena itu, saat kamu membangun hidup di atas asumsi, yang runtuh bukan cuma cara berpikirmu—tapi seluruh cara kamu melihat dunia.

Madilog Memaksa Kamu Jujur

Madilog bukan buku yang ingin kamu setujui. Ini adalah buku yang memaksa kamu berpikir ulang.

Tan Malaka tidak memberi kenyamanan. Dia memberi alat. Dan begitu kamu memakai alat itu, kamu mulai melihat satu hal yang tidak bisa kamu abaikan lagi, banyak hal yang selama ini kamu anggap “nyata”… ternyata hanya cerita yang belum pernah kamu uji. @tabooo

Tags: DialektikaFilsafat IndonesialogikaMadilogMadilog SeriesMaterialismeRealitaTabooo DeepTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

Herujuwono: Ketika Pers, Buruh, dan Senjata Melawan Kolonialisme

by Tabooo
Juli 17, 2026

Pemimpin pemberontakan. Dari kiri ke kanan, berdiri Dachlan, Herujuwono, tidak dikenal, Samodro. Duduk Baharudin Saleh, Machmud, Sukrawinata. (Sumber Lembaga Sedjarah...

Anarko: Sejarah yang Dipotong, Kemarahan yang Dibungkam

Anarko: Sejarah yang Dipotong, Kemarahan yang Dibungkam

by Tabooo
Juli 13, 2026

Anarko lebih sering hadir sebagai tuduhan daripada gagasan. Di balik kaus hitam dan kericuhan, ada sejarah panjang yang dipotong serta...

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

by Tabooo
Juli 13, 2026

Tan Malaka menolak perubahan yang bergantung pada keberanian segelintir orang. Melalui Aksi Massa, ia menunjukkan bahwa kekuatan rakyat membutuhkan kesadaran,...

Next Post
Tradisi Tak Sekadar Dirayakan, Tapi Dihidupkan Ulang di Era Digital

Tradisi Tak Sekadar Dirayakan, Tapi Dihidupkan Ulang di Era Digital

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id