Tabooo.id: Regional – Sebuah lapak sarapan di Tebet, Jakarta Selatan, mendadak ramai dibicarakan. Bukan karena menunya, tapi karena namanya MBG. Mirip program pemerintah, tapi ternyata punya arti berbeda.
Berawal dari Ide Nongkrong Usai Salat
Zainurrahman (29), pemilik lapak sarapan itu, mengaku ide bisnis muncul spontan. Ia bersama dua rekannya memutuskan membuka usaha setelah diskusi santai usai salat berjemaah.
“Lebih kurang semingguan yang lalu kita mulai. Habis salat Isya, kita ngobrol, kepikiran buat bisnis,” ujar Zainurrahman, Rabu (8/4/2026).
Mereka lalu mencari nama yang unik dan mudah diingat. Dari situ, muncul ide memakai singkatan yang sedang ramai dibicarakan publik.
Terinspirasi Isu Viral, Bukan Menyindir
Nama MBG yang dipakai ternyata bukan “Makan Bergizi Gratis” seperti program pemerintah. Di lapak ini, MBG berarti Mantap Banget Gila.
Tak hanya itu, mereka juga memakai istilah lain seperti BGN (Badan Ganjel Nyarap) dan SPPG (Solusi Perut Paling Gawat).
“Teman-teman yang nyetusin. Kita lihat MBG lagi booming, dari muda sampai tua tahu. Jadi kita pikir menarik perhatian,” jelasnya.
Namun, penggunaan nama itu sempat menuai reaksi warganet. Zainurrahman mengaku pernah diperingatkan agar tidak dianggap menyindir pemerintah.
“Dari sosmed dibilangin, ‘Bang hati-hati, nanti dikira nyindir pemerintah.’ Padahal kita enggak ada niat ke sana,” katanya.
Strategi Branding yang Berhasil Tarik Pembeli
Alih-alih surut, lapak ini justru ramai. Sejak Rabu pagi, pembeli berdatangan ke lokasi di depan Lapangan PSPT Tebet.
Menu yang ditawarkan cukup sederhana, mulai dari roti hingga nasi chicken katsu. Harganya pun ramah kantong, sekitar Rp12.000 per porsi.
Zainurrahman dan tim juga serius membangun branding. Mereka membuat logo hingga jingle untuk media sosial demi menjangkau lebih banyak pelanggan.
“Hari pertama mikir nama, hari kedua langsung jualan. Bahkan sempat kepikiran bikin lagu biar lebih menarik,” ujarnya.
Kreatif atau Berisiko?
Fenomena ini menunjukkan satu hal kreativitas anak muda dalam bisnis bisa datang dari mana saja, bahkan dari isu yang sedang viral.
Tapi di sisi lain, penggunaan istilah yang mirip program negara juga bisa memicu salah paham di publik.
Lalu, menurutmu, ini sekadar strategi cerdas atau justru berisiko bikin blunder? @dimas







