Tabooo.id : News – Sebuah film seharusnya mengajak berpikir. Tapi bagaimana kalau justru memicu luka lama?
Film “Aku Harus Mati” kini memancing sorotan publik, bukan karena ceritanya, tapi cara promosi yang muncul di ruang terbuka.
Ketika Promosi Jadi Masalah
Tim promosi film memasang baliho di ruang publik. Visual dan pesan yang mereka tampilkan langsung menuai kritik.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menilai materi itu berisiko.
“Film berjudul ‘Aku Harus Mati’ memicu kontroversi karena materi promosi publiknya dinilai provokatif dan berpotensi memicu peniruan bunuh diri pada individu rentan,” ujarnya.
Ia menekankan, publik tidak menerima pesan dalam ruang kosong. Banyak orang sedang berjuang diam-diam.
Narasi yang Bisa Menjadi Pemicu
Imran melihat cara penyampaian isu bunuh diri sebagai faktor kunci.
“Ketika tema bunuh diri hadir tanpa kehati-hatian, dampaknya bisa menyentuh keselamatan publik,” katanya.
Ia menilai narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai jalan keluar berbahaya. Individu rentan bisa menangkap pesan itu sebagai solusi.
“Paparan berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi tindakan tersebut dapat menjadi pemicu,” jelasnya.
Di titik ini, film tidak lagi sekadar hiburan. Ia berubah menjadi stimulus psikologis.
Dramatis atau Edukatif?
Imran mengajak publik melihat konteks, bukan sekadar visual.
“Apakah pesan itu menempatkan bunuh diri dalam kerangka kompleksitas masalah kesehatan jiwa dan pencegahan, atau justru menonjolkan unsur dramatis,” paparnya.
Ia juga menyoroti pilihan kata.
“Pilihan kata seperti ‘pembebasan’ bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa,” tambahnya.
Data yang Tidak Bisa Diabaikan
Situasi ini muncul saat kondisi kesehatan mental masyarakat memburuk.
Data kepolisian menunjukkan peningkatan kasus bunuh diri dari 1.350 kasus pada 2023 menjadi 1.450 kasus pada 2024.
Di sisi lain, masyarakat semakin sering mencari bantuan.
“Volume panggilan ke layanan Sejiwa 119 meningkat dari sekitar 400 menjadi 550 call per hari,” ungkap Imran.
Data ini menunjukkan kebutuhan bantuan meningkat. Publik butuh dukungan, bukan pemicu baru.
Ini Bukan Sekadar Kreativitas
Ruang publik memperluas dampak pesan. Siapa pun bisa melihat, termasuk mereka yang sedang rapuh.
“Komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab berpotensi memperburuk situasi,” tegasnya.
Imran meminta semua pihak mengambil peran. Pembuat film, tim pemasaran, hingga media harus mempertimbangkan dampak pesan.
Harusnya Seperti Apa?
Ia mendorong pendekatan yang lebih bertanggung jawab.
“Penyajian yang menekankan adanya bantuan dan mengarahkan ke layanan dukungan dapat mengurangi risiko,” ujarnya.
Ia juga menyarankan tim kreatif melibatkan ahli kesehatan jiwa sejak awal proses kampanye.
Lebih dari Sekadar Film
Isu ini membuka satu kenyataan: masyarakat masih kesulitan membicarakan kesehatan mental secara utuh.
Bunuh diri tidak lahir dari satu sebab. Ia muncul dari kombinasi tekanan sosial, gangguan mood, dan pengalaman traumatis.
Ketika narasi menyederhanakan semua itu, risiko ikut membesar.
Di era di mana semua bisa jadi konten, dampak sering tertinggal.
Pertanyaannya, kita sedang membuat karya… atau tanpa sadar menciptakan luka baru? @jeje






