Sabtu, Mei 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hajatan Berubah Maut: Uang Miras, Nyawa Melayang

by dimas
April 7, 2026
in Kriminal, Reality
A A
Home Reality Kriminal
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Kriminal – Hajatan seharusnya jadi momen bahagia. Tawa, doa, dan harapan baru berkumpul dalam satu tempat.
Tapi di Purwakarta, pesta justru berubah jadi tragedi di depan keluarga sendiri.

Pesta yang Berujung Petaka

Tim gabungan Satreskrim Polres Purwakarta dan Jatanras Polda Jawa Barat menangkap Yogi Iskandar (36), pelaku utama penganiayaan maut yang menewaskan Dadang.

Polisi meringkus pelaku di tempat persembunyiannya di Jalan Alternatif Sagalaherang, Kabupaten Subang, pada Senin (6/4/2026) siang.

Saat penangkapan, pelaku sempat melawan. Polisi pun mengambil tindakan tegas terukur.

Dari Mabuk ke Amuk

Kapolres Purwakarta AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya mengungkapkan, pelaku datang ke lokasi hajatan dalam kondisi mabuk.

Ini Belum Selesai

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

“Pelaku datang dalam kondisi mabuk dan meminta uang Rp 500.000 kepada korban untuk beli miras. Korban sempat memberi Rp 100.000, namun ditolak hingga pelaku mengamuk,” ujar AKBP Anom.

Pelaku bukan orang baru dalam dunia kriminal. Ia tercatat sebagai residivis kasus pencurian pada 2007.

Uang Tak Cukup, Emosi Meledak

Keributan mulai terjadi saat pelaku dan kelompoknya meminta uang tambahan kepada tuan rumah dengan alasan membeli minuman keras.

Permintaan itu tidak terpenuhi. Situasi langsung memanas.

Korban, yang merupakan pemilik hajatan, mencoba melerai. Tapi upaya itu justru membuatnya jadi sasaran.

Diserang di Depan Tamu dan Keluarga

Pelaku menyerang korban menggunakan potongan bambu dan tangan kosong.

Serangan itu membuat korban terluka parah hingga pingsan.

Korban sempat dibawa ke RS Bhakti Husada. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Yang paling menyayat, pelaku sempat mengejar korban hingga ke depan rumah. Aksi pengeroyokan itu terjadi di hadapan tamu undangan bahkan anak korban yang sedang melangsungkan pernikahan.

Polisi Bergerak, Pelaku Diringkus

Selain Yogi, polisi juga mengamankan seorang pria berinisial K (35) yang diduga terlibat dalam penganiayaan terhadap korban lain.

Namun, penyelidikan memastikan Yogi sebagai pelaku utama yang menyebabkan kematian.

Polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk potongan bambu sepanjang 33 cm, pakaian korban dan pelaku, botol minuman keras, serta rekaman video kejadian.

Bukan Sekadar Kekerasan

Kasus ini bukan sekadar soal emosi sesaat.

Ini pola yang terus berulang miras, keributan, lalu kekerasan.

Yang berubah hanya tempatnya. Kadang di jalan, kadang di hajatan.

Dampaknya Buat Kita Semua

Kalau hajatan saja bisa berubah jadi tragedi, ruang aman kita sebenarnya di mana?

Ini bukan cuma soal korban dan pelaku.
Ini soal rasa aman yang perlahan hilang di ruang sosial paling dekat.

Masyarakat jadi was-was. Keluarga jadi trauma.

Jerat Hukum Menanti

Atas perbuatannya, Yogi dijerat Pasal 466 Ayat (1) jo Ayat (3) KUHPidana tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian.

“Tersangka terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara,” tegas Kapolres.

Saat ini, kedua pelaku telah ditahan di Mapolres Purwakarta untuk proses hukum lebih lanjut.

Closing

Satu malam yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah jadi luka yang tak akan hilang.

Dan pertanyaannya sekarang, berapa banyak lagi tragedi harus terjadi sebelum kita benar-benar serius menghadapi masalah ini? @dimas

Tags: jawa baratKeamanan NegaraKejahatankekerasanKriminal & HukumkriminalitasMautNasionalPolisiPurwakarta

Kamu Melewatkan Ini

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

by jeje
Mei 20, 2026

Rupiah masih bergerak di wilayah yang bikin banyak orang waswas. Harga kebutuhan belum terasa ringan, biaya hidup makin terasa sempit,...

Next Post
Kontroversi Iklan Horor: Saat Promosi Dianggap Jadi Trigger Nyata

Kontroversi Iklan Horor: Saat Promosi Dianggap Jadi Trigger Nyata

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Mei 22, 2026

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mei 21, 2026

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Mei 22, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id