Tabooo.id: Talk – Bayangkan satu negara dengan 270 juta penduduk, tapi hanya punya bensin cukup untuk 20 hari. Setelah itu? Kita tidak punya pilihan selain menunggu kapal tanker datang dari lautan yang tidak bisa kita kendalikan.
Kedengarannya seperti skenario film, tapi ini realitas yang kita jalani setiap hari tanpa banyak yang benar-benar peduli.
Dan pertanyaannya menusuk kita ini benar-benar siap menghadapi dunia yang tiba-tiba berhenti mengirim minyak, atau kita cuma sedang menunda kepanikan?
Ketergantungan yang Tak Pernah Putus
Ketegangan geopolitik Iran-AS yang kembali memanas dalam sebulan terakhir membuka satu fakta yang sering kita abaikan: rantai pasok energi global itu rapuh.
Indonesia setiap hari masih mengimpor lebih dari 1 juta barel minyak karena produksi dalam negeri tidak mampu menutup separuh kebutuhan nasional. Di saat yang sama, cadangan BBM nasional hanya cukup sekitar 20 hari.
Bandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan yang sudah menyiapkan cadangan lebih dari 200 hari. Perbedaannya bukan cuma angka, tapi cara berpikir tentang bertahan hidup.
Kondisi ini adalah ketergantungan struktural yang diwariskan, bukan kebetulan. Masalahnya bukan hanya impor, tapi ketidakmampuan membangun sistem yang tahan guncangan.
APBN di Bawah Tekanan Harga Minyak
Dalam APBN 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 381,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Setiap kenaikan 1 dolar harga minyak saja bisa menambah beban negara hingga Rp 6,8 triliun.
Jika harga melonjak ke 100-120 dolar AS, tekanan fiskal bisa membesar secara signifikan dan merembet ke seluruh struktur belanja negara.
Dan di tengah itu, ruang fiskal juga sudah terbagi untuk berbagai program prioritas nasional.
Produksi Turun, Impor Naik Diam-Diam
Di balik angka impor, ada tren yang tidak banyak dibicarakan produksi minyak nasional turun rata-rata 3 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.
Dari 128 cekungan migas di Indonesia, lebih dari separuh belum dieksplorasi. Tapi investasi justru rendah, terutama di sektor eksplorasi yang hanya menyerap sekitar 6,9 persen dari total investasi hulu migas.
Kapasitas Kilang yang Tertinggal Zaman
Kapasitas kilang Balikpapan yang baru memang menambah sekitar 100.000 barel per hari. Namun kebutuhan nasional jauh lebih besar.
Indonesia masih harus mengimpor BBM olahan karena kapasitas kilang domestik belum mampu mengejar permintaan.
Yang lebih ironis, sebagian minyak mentah justru diekspor karena tidak sesuai spesifikasi kilang dalam negeri, lalu kita mengimpor kembali dalam bentuk BBM yang lebih mahal.
Ini Bukan Krisis, Ini Pola Lama
Ini bukan sekadar soal harga minyak naik atau konflik global yang memanas.
Ini adalah pola lama yang terus berulang: ketergantungan yang dibangun perlahan, lalu dianggap normal.
Transportasi publik belum menjadi tulang punggung, transisi energi masih setengah jalan, dan konsumsi BBM terus naik tanpa perubahan struktur yang berarti.
Kita tidak benar-benar keluar dari ketergantungan kita hanya mengganti bentuknya.
Yang Kamu Rasakan di Dompet
Ini dampaknya buat kamu: harga barang naik, ongkos transportasi ikut naik, dan subsidi negara makin besar yang ujungnya kembali ke pajak dan inflasi.
Saat harga BBM naik, yang pertama terasa bukan grafik ekonomi tapi isi dompet yang tiba-tiba menipis.
Dan jujur saja, kita semua tahu ini, tapi sering pura-pura tidak peduli sampai giliran kita terdampak.
Transisi yang Masih Setengah Jalan
Transisi energi sebenarnya sudah mulai berjalan. Program biodiesel B35 menuju B40 bahkan B50 memberi penghematan devisa besar, dan energi terbarukan tumbuh sekitar 16 persen.
Namun masalah utamanya bukan hanya teknologi, melainkan konsistensi arah kebijakan.
Kendaraan listrik mulai tumbuh, tapi dari 166 juta kendaraan, baru sekitar 275.000 yang berbasis listrik. Motor listrik pun masih bergantung pada insentif.
Tanpa transportasi publik yang kuat, masyarakat tetap kembali ke pola lama: kendaraan pribadi, macet, dan konsumsi BBM tinggi.
Penutup
Siapkah kita benar-benar berhenti bergantung?
Atau kita hanya sedang menunggu krisis datang dengan cara yang lebih mahal dan lebih menyakitkan? @dimas



