Minggu, Mei 31, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jatah Preman: Uang Diam-Diam yang Menghidupi Birokrasi

by dimas
April 4, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Seorang warga berdiri di depan loket pelayanan sambil menggenggam map lusuh berisi berkas KTP, surat keterangan, dan harapan agar urusannya cepat selesai. Petugas di balik meja hanya melirik sebentar lalu berkata singkat, “Nanti dulu, masih diproses.”

Waktu terus berjalan, tetapi berkas itu tetap di tempat. Dari samping, seseorang berbisik pelan, “Biasanya ada uang rokok, biar cepat.”

Momen kecil itu langsung mengubah wajah negara. Negara tidak lagi tampak sebagai pelayan, melainkan sebagai ruang tawar-menawar. Di negara yang mengaku demokratis, keadilan sering berhenti di meja loket seolah menunggu sesuatu yang tak pernah tertulis.

Dari Bahasa Jalanan ke Meja Kekuasaan

Istilah “jatah preman” awalnya hidup di pasar, terminal, dan pelabuhan. Kini istilah itu merangsek ke ruang birokrasi lebih rapi, tetapi tetap menekan.

Kasus operasi tangkap tangan yang menyeret Gubernur Riau, Abdul Wahid, membuka praktik ini ke ruang publik. Dalam konteks kekuasaan, “jatah preman” merujuk pada setoran yang diminta pejabat dari pihak yang berada dalam kendalinya.

Ini Belum Selesai

Mengapa Tan Malaka Kembali Dirindukan?

Mama Sinta vs Pesta Babi: Dokumentasi atau Eksploitasi?

Pejabat jarang mengucapkan permintaan secara terang-terangan. Mereka menunda tanda tangan, memperlambat proses, atau menciptakan ketidakpastian. Cara itu menyampaikan pesan tanpa perlu kalimat langsung.

Melalui pola seperti ini, kekuasaan bekerja halus, tetapi tekanannya tetap terasa.

Pungli: Sunyi, Sistematis, dan Nyata

Secara hukum, praktik ini termasuk pemerasan dan pungutan liar. Namun di birokrasi, pelaku jarang menggunakan kekerasan.

Pejabat mengendalikan akses layanan. Mereka menentukan ritme administrasi. Mereka juga memutuskan kapan berkas bergerak atau berhenti.

Situasi itu membuat warga belajar membaca keadaan. Banyak orang memahami bahwa kecepatan layanan sering bergantung pada “tambahan” di luar aturan resmi.

Akibatnya, pelayanan publik berubah menjadi ruang negosiasi yang tak pernah diakui secara formal.

Mengapa Praktik Ini Bertahan?

Kebutuhan dana di luar anggaran resmi sering memicu praktik ini. Pejabat harus membiayai berbagai kegiatan, mulai dari acara seremonial hingga jamuan tamu.

Ketika anggaran tidak mencukupi, sebagian pejabat memilih jalan pintas dengan memanfaatkan kewenangan jabatan.

Budaya patron-klien ikut memperkuat praktik tersebut. Seorang pejabat sering berperan sebagai “raja kecil” yang memberi bantuan sekaligus membangun loyalitas.

Sebagai balasan, orang-orang di bawahnya menyetor uang. Semua pihak memahami relasi ini meski tidak ada aturan tertulis.

Dalam situasi seperti itu, jabatan tidak lagi sekadar tanggung jawab. Jabatan berubah menjadi akses terhadap sumber pemasukan.

Siapa yang Menanggung Bebannya?

Pada akhirnya, masyarakat menanggung harga paling mahal.

Warga yang mengurus KTP harus menambah biaya. Pelaku usaha kecil harus mengeluarkan uang lebih banyak. Bahkan keluarga miskin pun kadang diminta membayar untuk memperoleh surat keterangan tidak mampu.

Mereka membayar bukan karena rela, melainkan karena ingin urusannya selesai.

Dampaknya meluas. Layanan publik kehilangan rasa keadilan. Proses administrasi lebih sering mengikuti uang daripada aturan. Orang yang mampu membayar mendapat kemudahan, sedangkan yang lain harus menunggu lebih lama.

Perlahan, fungsi dasar negara sebagai pelayan publik melemah.

Penegakan Hukum: Ada, Tapi Belum Tuntas

Aparat penegak hukum memang melakukan operasi tangkap tangan dan menangkap sejumlah pejabat. Mereka juga membuka kasus-kasus tersebut ke publik.

Namun praktik serupa terus muncul di berbagai tempat.

Masalah utamanya terletak pada sistem. Penindakan yang tidak merata sering menimbulkan kesan tebang pilih. Publik melihat proses hukum lebih sebagai seleksi kasus daripada solusi menyeluruh.

Padahal praktik ini tidak tersembunyi. Ia hadir dalam keseharian pelayanan publik dan mudah ditemukan oleh siapa saja yang mau melihat lebih dekat.

Kreativitas yang Berubah Arah

Sebagian orang menyebut praktik ini sebagai bentuk “kreativitas” karena keterbatasan anggaran. Pandangan tersebut justru membuka ruang penyimpangan.

Ketika pungutan liar dianggap solusi, batas antara kebutuhan dan kepentingan pribadi menjadi kabur. Dana operasional dapat berubah menjadi alat memperkaya diri. Citra sosial pun sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Lambat laun, penyimpangan terasa normal.

Suara yang Tertinggal

Di balik semua itu, warga kecil menjadi pihak yang paling terdampak.

Mereka tidak memiliki akses ke kekuasaan dan hampir tidak punya pilihan. Karena itu, mereka mengikuti pola yang sudah ada.

Pengalaman berulang membentuk cara pandang baru. Negara terlihat rapi di atas kertas, tetapi terasa mahal di lapangan.

Seiring waktu, kondisi ini dianggap biasa.

Tabooo Bicara: Berhenti Menormalisasi

Sudah saatnya kita berhenti melihat “jatah preman” sebagai kasus individu. Masalah ini bersifat sistemik dan membutuhkan pembenahan menyeluruh.

Negara harus menegakkan hukum secara konsisten. Pemerintah perlu menyusun anggaran yang realistis. Kegiatan seremonial yang tidak penting sebaiknya dikurangi.

Pejabat juga perlu mengembalikan makna jabatan sebagai amanah, bukan peluang.

Selama jabatan masih dipandang sebagai sumber pemasukan tambahan, praktik ini akan terus berulang.

Pertanyaan yang Tak Nyaman, Tapi Perlu

Setiap kali kasus terungkap, publik marah. Kita mengkritik pelaku dan menuntut hukuman.

Namun jarang ada yang bertanya lebih jauh:
Apakah sistem ikut mendorong praktik ini?
Apakah kita benar-benar ingin menghapusnya, atau sekadar ingin terlihat menentangnya?

Pada akhirnya, “jatah preman” bukan sekadar soal uang. Ia mencerminkan cara kekuasaan bekerja.

Sekarang pertanyaannya sederhana, tetapi tajam di birokrasi hari ini, siapa yang benar-benar melayani dan siapa yang justru dilayani? @dimas

Tags: BirokrasiKorupsi di IndonesiaLawanNegarapelayananPunglirakyatReformasiSosial & PublikSuara Rakyat

Kamu Melewatkan Ini

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
Senyum Palsu Lebih Melelahkan dari Deadline Kantor

Senyum Palsu Lebih Melelahkan dari Deadline Kantor

Madilog Series

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026
Kenapa Orang Takut Perubahan? Ini Penyebabnya – Madilog Series #2.3

Kenapa Orang Takut Perubahan? Ini Penyebabnya – Madilog Series #2.3

Mei 19, 2026

Marx Series

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026

Capital Volume I: Cara Kapital Hidup dari Kerja Orang Lain – Marx Series #1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id