Tabooo.id: Musik – Kamu mungkin mengira “Lathi” cuma lagu EDM dengan drop yang bikin merinding, apalagi kalau pertama kali dengar lewat TikTok atau YouTube Shorts yang penuh visual dramatis. Tapi semakin kamu dengar, semakin terasa ada sesuatu yang “nggak beres” di balik beat-nya. Karena bukan cuma telinga yang kena, emosi juga ikut ditarik masuk.
Dan di titik itu, kamu mulai sadar, bahwa ini bukan sekadar musik. Ini adalah cerita tentang luka yang dipendam terlalu lama, lalu akhirnya keluar dalam bentuk suara. Masalahnya, luka itu terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan mungkin… pernah kamu alami sendiri.
KETIKA EDM JADI MEDIA CURHAT PALING JUJUR
Lagu “Lathi” dari Weird Genius yang berkolaborasi dengan Sara Fajira dirilis pada tahun 2020 dan langsung mencuri perhatian publik, baik di dalam negeri maupun global. Lagu ini bukan hanya viral, tapi juga menjadi fenomena karena berhasil menggabungkan EDM modern dengan elemen budaya Jawa yang kuat.
Di permukaan, “Lathi” terdengar seperti lagu elektronik dengan aransemen yang solid dan drop yang powerful. Namun di balik itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Karena ketika kamu mulai memperhatikan liriknya, kamu akan sadar bahwa lagu ini tidak sedang mencoba menghibur, dia sedang bercerita.
“I was born a fool, broken all the rules…”
Kalimat ini terasa seperti pengakuan yang jujur, bahkan terlalu jujur. Seolah seseorang sedang melihat ke dalam dirinya sendiri dan mengakui bahwa ia telah memilih jalan yang salah. Bukan karena tidak tahu, tapi karena tetap bertahan meski sadar itu menyakitkan.
INI BUKAN CINTA, INI SIKLUS
Namun masalahnya bukan cuma hubungan yang toxic. Masalah yang lebih besar adalah kenapa seseorang tetap memilih bertahan, meskipun sudah jelas terluka. Dan di sinilah “Lathi” mulai membuka lapisan yang lebih dalam—tentang kebiasaan manusia mengabaikan rasa sakit demi sesuatu yang disebut cinta.
Bagian paling menampar datang dari lirik Jawa,“Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi”
Kalimat ini bukan sekadar lirik, tapi filosofi. Karena dalam budaya Jawa, ucapan bukan hanya alat komunikasi, tapi juga cerminan harga diri. Dan ketika kata-kata dalam hubungan mulai menyakitkan, di situlah kehancuran sering dimulai.
Ironisnya, banyak orang tidak menyadari hal ini. Mereka menganggap kata-kata kasar sebagai emosi sesaat, padahal itu bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada tindakan fisik. Dan “Lathi” dengan jujur menunjukkan itu—tanpa filter, tanpa kompromi.
DENIAL, TAPI TETAP BERTAHAN
Sekarang coba tarik ini ke kehidupan nyata. Berapa banyak orang yang tetap bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat? Dan lebih jauh lagi, berapa banyak yang bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang terluka?
Karena sering kali, kita membungkus luka dengan alasan. Kita bilang masih sayang, kita bilang ini cuma fase, atau kita berharap semuanya akan berubah. Padahal di dalamnya, kita sedang kehilangan diri sendiri, perlahan, tapi pasti.
“Lathi” menjadi relevan karena dia tidak menghakimi. Dia hanya menunjukkan realita. Bahwa cinta tidak selalu indah, dan bahwa tidak semua yang kita pertahankan itu layak untuk diperjuangkan. Dan di situ, lagu ini berubah dari sekadar musik menjadi cermin.
VIRAL VS MAKNA: KETIKA TREND MENUTUP KEBENARAN
Di era digital, “Lathi” meledak lewat TikTok dengan berbagai challenge visual yang kreatif dan estetik. Makeup horror, transisi wajah, dan efek dramatis menjadi daya tarik utama. Namun di balik semua itu, kita menghadapi ironi yang sulit kita abaikan.
Karena semakin viral lagu ini, semakin banyak orang yang hanya menikmati permukaannya. Mereka ikut trend, mereka hafal bagian drop, tapi mereka tidak benar-benar memahami cerita di baliknya. Padahal justru di situlah kekuatan “Lathi” berada.
Lagu ini tidak hanya bicara tentang cinta. Dia bicara tentang ilusi dalam hubungan, tentang bagaimana seseorang bisa terjebak dalam sesuatu yang ia tahu salah. Dan lebih dari itu, dia mengangkat satu realita yang sering kita hindari, bahwa kita kadang menjadi bagian dari luka itu sendiri.
LUKA YANG DIPUTAR BERULANG
“Lathi” bukan lagu yang menakutkan karena visualnya gelap atau musiknya keras. Dia menakutkan karena terlalu jujur, karena dia menyuarakan sesuatu yang sering kita sembunyikan—bahkan dari diri sendiri.
Dan mungkin, itu alasan kenapa lagu ini terasa begitu kuat. Karena di balik semua beat dan estetika, kita menghadapi kebenaran yang tak bisa kita hindari: tidak semua cinta layak kita pertahankan, dan tidak semua luka bisa kita sebut proses.
Jadi sekarang, coba tanya ke diri kamu sendiri, kamu sedang mencintai… atau hanya bertahan di luka yang sama? @tabooo






