Tabooo.id: Sports – Pilar senior itu kini membawa satu misi personal ke Piala AFF Futsal 2026 membuktikan bahwa dirinya masih layak jadi andalan Garuda. Setelah sempat tersisih dari skuad Piala Asia, Guntur datang dengan satu hal yang lebih berbahaya dari sekadar skill lapar pembuktian.
Dari Penonton Jadi Pejuang
Indonesia memang tampil luar biasa di Piala Asia Futsal 2026. Untuk pertama kalinya, Garuda melangkah sampai final sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Iran. Hasil runner-up itu terasa manis tapi juga menyisakan cerita yang pahit bagi pemain yang tak masuk skuad. Guntur adalah salah satunya.
Kini, saat pelatih Hector Souto kembali memanggilnya untuk pemusatan latihan jelang Piala AFF Futsal 2026 di Thailand (6–12 April), Guntur tak mau mengulang cerita yang sama. Ia ingin memastikan satu hal namanya tidak lagi hilang dari daftar akhir.
“Ini jadi ajang pembuktian buat saya. Kemarin di Piala Asia tidak ikut, sekarang saya ingin menunjukkan bahwa saya juga bisa,” ujarnya selepas latihan di Jakarta.
Target Tim Santai, Target Pribadi Ganas
Menariknya, tekanan dari luar justru tidak terlalu ia rasakan. Status Indonesia sebagai juara bertahan AFF 2024 dan performa impresif di SEA Games 2025 serta Piala Asia membuat ekspektasi publik tinggi. Tapi Guntur memilih jalan berbeda.
Ia tidak terbebani setidaknya secara tim. “Kalau tekanan tidak ada. Ini lebih ke motivasi pribadi,” katanya.
Namun di balik nada santai itu, ada target yang diam-diam tajam. Meski pelatih menyebut target tim bukan sekadar juara, Guntur justru memasang standar pribadi lebih tinggi.
“Kalau target pribadi tetap juara. Semoga bisa dapat peringkat satu lagi,” ucapnya.
Bukan Sekadar Turnamen, Ini Soal Relevansi
Bagi Guntur, AFF bukan cuma soal trofi. Ini soal eksistensi.
Di usia yang tak lagi muda dalam dunia futsal, setiap kesempatan adalah pertaruhan antara bertahan atau tergeser. Apalagi dengan regenerasi pemain muda yang terus datang membawa energi baru.
Di sinilah letak dramanya dan juga daya tariknya. Apakah pengalaman akan menang melawan momentum? Atau justru sebaliknya?
Thailand Jadi Panggung Pembuktian
Turnamen di Thailand nanti bukan sekadar kompetisi regional biasa. Ini adalah panggung seleksi, panggung validasi, dan mungkin juga panggung terakhir bagi beberapa pemain untuk menegaskan tempatnya.
Guntur tahu itu. Dan ia memilih untuk tidak lari dari kenyataan tersebut.
Ia datang bukan sebagai pemain yang nyaman tapi sebagai pemain yang ingin merebut kembali tempatnya.
Jadi, Masih Layak Jadi Andalan?
Di atas kertas, Indonesia tetap kuat. Tapi sepak bola dan futsal tidak pernah hanya soal statistik. Ini soal mental, momen, dan siapa yang paling siap saat kesempatan datang.
Guntur Sulistyo sedang mengetuk pintu itu lagi. Pertanyaannya sekarang saat pintu itu terbuka, apakah dia siap masuk atau kembali jadi penonton?. @teguh



