Tabooo.id: Life – Kisah para pemandu lagu seperti sengaja untuk disamarkan. Disamarkan dengan lampu-lampu redup yang jelas bukan sekadar dekorasi. Sementara musik diputar cukup keras untuk menutup suara yang mungkin tidak ingin didengar orang lain. Tawa terdengar pecah, gelas beradu, dan semuanya tampak seperti malam yang “normal”.
Tapi di balik itu, ada ruang kecil yang tidak pernah benar-benar aman, karena di dalam room karaoke, batas antara hiburan dan ancaman sering kali tidak jelas. Bahkan, mungkin memang sengaja dibuat kabur, dan yang paling mengkhawatirkan adalah banyak orang tahu ini terjadi, tapi memilih menganggapnya bagian dari permainan.
“Aku Harus Senyum, Walaupun Takut”
Malam itu, sebut saja namanya “Maya” (bukan nama sebenarnya), seorang pemandu lagu atau Lady Companion (LC) di salah satu karaoke di Kota K, Jawa Timur, ia duduk di sudut sofa dengan tubuh sedikit menegang. Tangannya memegang mic, tapi fokusnya tidak sepenuhnya pada lagu. Ia lebih sering mengamati gerak tubuh tamu di sekitarnya, membaca situasi, mencoba menebak apa yang akan terjadi berikutnya.
“Kalau suasananya udah berubah, kita biasanya langsung tahu,” ujar Maya. Nada suaranya datar, tapi matanya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
Ia belajar bukan dari pelatihan formal, tapi dari pengalaman, dari tatapan, dari cara bicara, dari perubahan nada suara tamu. Semua itu jadi alarm yang tidak terlihat yang harus ia pahami sendiri, karena di dunia itu, membaca situasi bukan keahlian tambahan, tapi cara bertahan hidup.
Pelecehan yang Dianggap “Biasa”
Maya tidak mengingat kapan pertama kali merasa tidak nyaman, karena hampir setiap malam, hal itu terjadi dalam bentuk yang berbeda. Terkadang hanya komentar, kadang sentuhan ringan yang pura-pura tidak sengaja, dan kadang lebih dari itu.
“Awalnya sih kaget, lama-lama… ya kayak kebal. Tapi sebenarnya nggak pernah benar-benar biasa,” tandasnya.
Masalahnya, lingkungan tidak memberi ruang untuk menyebut itu sebagai masalah, karena banyak yang menganggapnya “risiko kerja”, bahkan ada yang menyebutnya bagian dari “cara cari uang”. Padahal, tubuh bukan bagian dari paket layanan, tapi di sana, batas itu sering kali tidak diakui.
Saat Penolakan Tidak Dihargai
Suatu malam, Maya mencoba menolak, dan ia tetap tersenyum, tetap sopan, tetap mengikuti “aturan tidak tertulis” yang diajarkan seniornya. Ia bilang tidak, tapi dengan cara yang halus. Namun responnya justru membuat situasi berubah, karena tamu itu langsung berubah sikap.
“Dari yang ketawa, jadi dingin. Terus mulai maksa,” ucap Maya.
Nada suara tamu itu berubah jadi tekanan, dan kata-katanya tidak lagi terdengar seperti candaan. Di titik itu, Maya sadar bahwa kata “tidak” tidak selalu punya kekuatan yang sama di semua tempat, dan semakin lama, ia belajar bahwa menolak bukan hanya soal keberanian, tapi juga soal risiko.
Sistem yang Tidak Pernah Memihak
Di balik semua itu, ada sistem yang bekerja diam-diam, dan sistem itu tidak pernah benar-benar berpihak pada mereka. Karena di dunia itu, tamu adalah sumber uang, dan uang adalah prioritas.
“Kalau ada masalah, biasanya kita disuruh ngerti. Jangan bikin tamu nggak nyaman,” kata Maya.
Namun, dari sisi lain, seorang perempuan yang bekerja sebagai pengawas LC, sebut saja “Rina” (bukan nama sebenarnya), mengakui bahwa situasinya memang tidak sesederhana hitam putih.
“Sebagai mami, aku juga serba salah. Kalau tamu komplain, bisa berdampak ke semua anak-anak. Tapi kalau anak-anak kenapa-kenapa, ya kita juga kepikiran,” ujar perempuan yang kerap dipanggil “Mami” itu.
Ia mengakui bahwa tekanan bisnis sering membuat batas menjadi kabur, karena di satu sisi ia ingin melindungi para LC, tapi di sisi lain ia harus menjaga hubungan dengan pelanggan dan manajemen.
“Kadang saya cuma bisa bilang ke anak-anak, jaga diri baik-baik. Tapi ya… nggak semua bisa dikontrol,” tambahnya.
Padahal, banyak kasus kekerasan di ruang karaoke terjadi karena minimnya kontrol dan posisi tawar pekerja yang lemah Sedangkan selama sistem itu tetap seperti ini, maka perlindungan akan selalu jadi pilihan kedua.
Kekerasan yang Tidak Pernah Dilaporkan
Kenapa tidak lapor? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak.
Maya hanya menjawab satu kata, “Takut.”
Maya mengaku takut kehilangan pekerjaan, ia juga khawatir apabila identitasnya terbongkar, dan ia takut disalahkan. Karena stigma sudah menunggu di luar sana, orang-orang sering memaksa korban menjelaskan dirinya lebih dulu sebelum mau mendengar ceritanya.
“Kalau lapor, belum tentu dibela. Malah bisa disalahin,” keluhnya.
Fenomena ini membuat banyak kekerasan berhenti di dalam room, tidak pernah keluar menjadi laporan, karena korban merasa tidak punya tempat yang benar-benar aman untuk bicara. Akhirnya, semuanya kembali seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Luka yang Tidak Kelihatan
Yang paling berat bukan selalu luka fisik, tapi rasa yang tertinggal setelah semuanya selesai. Karena rasa takut itu tidak ikut tinggal di tempat kerja, ia ikut pulang.
“Kadang susah tidur. Kepikiran terus,” kata Maya.
Sementara itu, Rina juga melihat perubahan itu pada anak-anak yang ia dampingi.
“Ada yang jadi lebih pendiam, ada yang gampang emosi. Tapi mereka jarang cerita detail,” ujarnya.
Menurutnya, dunia itu menganggap kelemahan sebagai ancaman, banyak dari mereka memilih diam, lalu diam itu perlahan berubah menjadi tekanan yang tak terlihat.
Ini Bukan Kasus Tunggal. Ini Pola.
Cerita Maya bukan satu-satunya, dan Rina pun mengakui hal itu.
“Kalau jujur, kejadian kayak gitu bukan sekali dua kali,” katanya pelan. “Saya pun sering mengalami hal yang sama seperti itu, saat masih menjadi LC,” imbuhnya.
Pola yang sama terus berulang, pelecehan dianggap biasa, penolakan dianggap masalah, dan perlindungan hampir tidak ada. Ini bukan sekadar kejadian acak, tapi sistem yang berjalan dengan pola yang sama, di banyak tempat, dengan cerita yang hampir serupa.
Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu tidak pernah masuk ke tempat seperti itu, dan mungkin kamu merasa dunia itu jauh dari hidupmu.
Tapi, sistem yang membiarkan kekerasan dianggap “wajar” tidak berhenti hanya di sana, karena ia bisa muncul di ruang lain, di tempat kerja, di lingkungan sosial, bahkan di hubungan sehari-hari. Sebab, ketika batas dihancurkan di satu tempat, maka standar itu perlahan bergeser di tempat lain.
Kita pun sering melihat mereka sebagai bagian dari hiburan, sebagai latar dari malam yang menyenangkan, tapi jarang melihat apa yang mereka hadapi setelah lampu dimatikan.
Mungkin, kita harus jujur, meskipun tidak nyaman, bahwa semua itu terjadi bukan karena kita tidak tahu, melainkan kita memilih untuk tidak peduli. @tabooo



