Tabooo.id: Sports – Sorak itu bukan cuma untuk penyelamatan. Sebaliknya, sorak itu lahir dari konsistensi, tekanan, dan pilihan untuk tetap berdiri ketika semua mata tertuju padanya. Pada akhirnya, Sabtu (28/03/2026), satu nama berdiri di panggung PSSI Awards 2026 Maarten Paes.
Gelar Kelme Indonesia Men’s Goalkeeper of The Year pun resmi jadi miliknya. Namun demikian, pencapaian ini jelas bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Melainkan, hasil dari perjalanan panjang lengkap dengan tekanan yang sering kali tak terlihat.
Mengalahkan Nama Besar, Menang dengan Cara Sunyi
Sejak awal, Paes bukan satu-satunya kandidat kuat. Justru, daftar nominasinya dipenuhi nama-nama besar:
- Emil Audero
- Ernando Ari
- Nadeo Argawinata
- Teja Paku Alam
Di satu sisi, mereka semua punya kualitas. Di sisi lain, masing-masing juga punya panggungnya sendiri. Akan tetapi, pada malam itu, panggung memilih Paes.
Hal yang paling menarik, kemenangan ini tidak lahir dari proses biasa. Sebaliknya, ini adalah akumulasi kepercayaan publik. Hampir 790.000 suara masuk baik melalui voting online sejak Januari hingga Maret, maupun lewat titik offline seperti MRT Jakarta dan Garuda Official Store.
Dengan begitu, penghargaan ini bukan sekadar keputusan federasi. Lebih dari itu, ini adalah suara publik. Singkatnya, ini legitimasi.
Panggung 95 Tahun, Ambisi “Garuda Mendunia”
Sementara itu, PSSI Awards 2026 hadir dengan makna yang lebih luas. Bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga bagian dari perayaan 95 tahun perjalanan PSSI dengan satu visi besar Garuda Mendunia.
Di tengah ambisi tersebut, figur seperti Paes terasa relevan. Ia bermain di Ajax Amsterdam, namun demikian, tetap berdiri untuk Indonesia. Global secara karier, tapi sekaligus nasional secara hati.
Bukan Ego, Tapi Emblem di Dada
Perbedaan paling mencolok dari cerita ini terletak pada cara Paes memaknai kemenangan. Alih-alih menonjolkan diri sendiri, ia justru menempatkan tim sebagai pusat cerita.
“Ini bukan tentang ego. Ini tentang proses tim. Ini tentang lambang tim dan Garuda.” Kalimatnya mungkin sederhana. Namun, maknanya dalam.
Apalagi, di tengah era sepak bola modern yang sarat spotlight individu, Paes memilih jalan kolektif. Ia menyebut Emil, Nadeo, hingga Ernando bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang sama.
Menariknya, di dunia yang kompetitif, ia justru menemukan arti dalam kebersamaan.
Dari GBK ke Panggung Penghargaan
Tak hanya itu, sehari sebelum menerima penghargaan, Paes masih berdiri di bawah mistar. Ia dipercaya oleh John Herdman saat Timnas Indonesia menghadapi Saint Kitts and Nevis di FIFA Series.
Kondisi ini memperjelas satu hal: penghargaan ini bukan sekadar refleksi masa lalu. Sebaliknya, ini adalah bukti kepercayaan yang masih berjalan hingga sekarang. Dengan kata lain, trofi ini terasa hidup karena lahir dari proses yang belum selesai.
Ucapan yang Lebih dari Formalitas
Saat menerima penghargaan, Paes tidak lupa pada hal yang paling mendasar. Bukan soal klub, bukan pula statistik, melainkan tentang manusia di balik perjalanan itu sendiri.
“Terima kasih untuk seluruh dukungan. Gelar ini saya persembahkan untuk keluarga, terutama nenek saya.”
Di titik ini, sepak bola berubah makna. Ia bukan lagi sekadar kompetisi, melainkan cerita personal yang menyentuh.
Lebih dari Sekadar Kiper
Pada akhirnya, Maarten Paes bukan hanya penjaga gawang. Lebih dari itu, ia adalah penjaga ekspektasi, penjaga harapan, sekaligus simbol arah baru sepak bola Indonesia.
Di balik setiap penyelamatan, ada hal yang sering luput dari sorotan keberanian untuk gagal lalu keberanian untuk mencoba lagi.
Closing: Pertanyaan yang Tersisa
Ia sudah menang. Ia sudah diakui. Kepercayaan pun sudah ia genggam.
Namun demikian, satu pertanyaan masih menggantung Apakah ini puncak dari Maarten Paestau justru awal dari cerita yang lebih besar? @teguh




