Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Maarten Paes Menang Besar: Mental Lebih Mahal dari Reputasi

by teguh
Maret 29, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sports – Sorak itu bukan cuma untuk penyelamatan. Sebaliknya, sorak itu lahir dari konsistensi, tekanan, dan pilihan untuk tetap berdiri ketika semua mata tertuju padanya. Pada akhirnya, Sabtu (28/03/2026), satu nama berdiri di panggung PSSI Awards 2026 Maarten Paes.

Gelar Kelme Indonesia Men’s Goalkeeper of The Year pun resmi jadi miliknya. Namun demikian, pencapaian ini jelas bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Melainkan, hasil dari perjalanan panjang lengkap dengan tekanan yang sering kali tak terlihat.

Mengalahkan Nama Besar, Menang dengan Cara Sunyi

Sejak awal, Paes bukan satu-satunya kandidat kuat. Justru, daftar nominasinya dipenuhi nama-nama besar:

  • Emil Audero
  • Ernando Ari
  • Nadeo Argawinata
  • Teja Paku Alam

Di satu sisi, mereka semua punya kualitas. Di sisi lain, masing-masing juga punya panggungnya sendiri. Akan tetapi, pada malam itu, panggung memilih Paes.

Hal yang paling menarik, kemenangan ini tidak lahir dari proses biasa. Sebaliknya, ini adalah akumulasi kepercayaan publik. Hampir 790.000 suara masuk baik melalui voting online sejak Januari hingga Maret, maupun lewat titik offline seperti MRT Jakarta dan Garuda Official Store.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Dengan begitu, penghargaan ini bukan sekadar keputusan federasi. Lebih dari itu, ini adalah suara publik. Singkatnya, ini legitimasi.

Panggung 95 Tahun, Ambisi “Garuda Mendunia”

Sementara itu, PSSI Awards 2026 hadir dengan makna yang lebih luas. Bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga bagian dari perayaan 95 tahun perjalanan PSSI dengan satu visi besar Garuda Mendunia.

Di tengah ambisi tersebut, figur seperti Paes terasa relevan. Ia bermain di Ajax Amsterdam, namun demikian, tetap berdiri untuk Indonesia. Global secara karier, tapi sekaligus nasional secara hati.

Bukan Ego, Tapi Emblem di Dada

Perbedaan paling mencolok dari cerita ini terletak pada cara Paes memaknai kemenangan. Alih-alih menonjolkan diri sendiri, ia justru menempatkan tim sebagai pusat cerita.

“Ini bukan tentang ego. Ini tentang proses tim. Ini tentang lambang tim dan Garuda.” Kalimatnya mungkin sederhana. Namun, maknanya dalam.

Apalagi, di tengah era sepak bola modern yang sarat spotlight individu, Paes memilih jalan kolektif. Ia menyebut Emil, Nadeo, hingga Ernando bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang sama.

Menariknya, di dunia yang kompetitif, ia justru menemukan arti dalam kebersamaan.

Dari GBK ke Panggung Penghargaan

Tak hanya itu, sehari sebelum menerima penghargaan, Paes masih berdiri di bawah mistar. Ia dipercaya oleh John Herdman saat Timnas Indonesia menghadapi Saint Kitts and Nevis di FIFA Series.

Kondisi ini memperjelas satu hal: penghargaan ini bukan sekadar refleksi masa lalu. Sebaliknya, ini adalah bukti kepercayaan yang masih berjalan hingga sekarang. Dengan kata lain, trofi ini terasa hidup karena lahir dari proses yang belum selesai.

Ucapan yang Lebih dari Formalitas

Saat menerima penghargaan, Paes tidak lupa pada hal yang paling mendasar. Bukan soal klub, bukan pula statistik, melainkan tentang manusia di balik perjalanan itu sendiri.

“Terima kasih untuk seluruh dukungan. Gelar ini saya persembahkan untuk keluarga, terutama nenek saya.”

Di titik ini, sepak bola berubah makna. Ia bukan lagi sekadar kompetisi, melainkan cerita personal yang menyentuh.

Lebih dari Sekadar Kiper

Pada akhirnya, Maarten Paes bukan hanya penjaga gawang. Lebih dari itu, ia adalah penjaga ekspektasi, penjaga harapan, sekaligus simbol arah baru sepak bola Indonesia.

Di balik setiap penyelamatan, ada hal yang sering luput dari sorotan keberanian untuk gagal lalu keberanian untuk mencoba lagi.

Closing: Pertanyaan yang Tersisa

Ia sudah menang. Ia sudah diakui. Kepercayaan pun sudah ia genggam.

Namun demikian, satu pertanyaan masih menggantung Apakah ini puncak dari Maarten Paestau justru awal dari cerita yang lebih besar? @teguh

Tags: EkspetasiFIFA Series 2026GarudaGelarKompetitifmentalPSSI Awards 2026

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kita Lebih Takut Ditolak daripada Gagal?

Kenapa Kita Lebih Takut Ditolak daripada Gagal?

by teguh
Mei 7, 2026

Ditolak memang sakit. Namun, banyak orang lebih takut menerima penolakan daripada menghadapi kegagalan. Kegagalan tidak selalu membuat hidup seseorang runtuh....

Bakar Sampah Jadi Listrik, Mental Buang Sembarangan Masih Gratis

Bakar Sampah Jadi Listrik, Mental Buang Sembarangan Masih Gratis

by teguh
Mei 7, 2026

Semua orang sedang sibuk bicara soal teknologi pengolah sampah jadi listrik. Nilainya miliaran. Bahasanya modern. Presentasinya futuristik. Tapi di saat...

Kampus dan Pabrik: Lulusan Membludak, Tenaga Siap Pakai Masih Langka?

Kampus dan Pabrik: Lulusan Membludak, Tenaga Siap Pakai Masih Langka?

by teguh
April 27, 2026

Di tengah ledakan jumlah sarjana setiap tahun, satu pertanyaan lama masih menggantung kenapa perusahaan terus mengeluh kekurangan tenaga kerja siap...

Next Post
Anak Di Bawah 16 Tahun Dikeluarkan dari Medsos: Proteksi atau Realita yang Terlambat?

Anak Di Bawah 16 Tahun Dikeluarkan dari Medsos: Proteksi atau Realita yang Terlambat?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id