Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Antara China dan Amerika, Indonesia Tidak Lagi Punya Ruang untuk Diam

by jeje
Maret 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Lampu Istana itu terang. Terlalu terang, bahkan, untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dalam satu hari, Presiden Prabowo Subianto duduk di dua percakapan yang berbeda arah. Pertama, dengan Menteri Keamanan Negara China Chen Yi Xin. Lalu, beberapa jam kemudian, dengan investor global Ray Dalio.

Sekilas, ini hanya agenda kenegaraan. Namun jika dilihat lebih dalam, ini adalah potret dunia yang sedang berubah, dan Indonesia yang tidak bisa lagi pura-pura berada di luar permainan.

Ketika Keamanan Tidak Lagi Sekadar Kata

Pertemuan dengan Chen Yi Xin dibingkai dengan kata yang terdengar aman, yaitu stabilitas. Namun di dunia hari ini, stabilitas bukan sekadar jargon diplomatik. Ia adalah mata uang baru dalam politik global.

China tidak datang hanya membawa pesan persahabatan. Sebaliknya, ia membawa kepentingan. Keamanan kawasan berarti pengaruh. Stabilitas berarti posisi.

Ini Belum Selesai

Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Di sisi lain, Indonesia menyambut dengan bahasa yang sama. Stabilitas diperlukan untuk ekonomi. Kerja sama dibuka. Pintu komunikasi dijaga tetap hangat.

Namun pertanyaannya muncul perlahan. Ketika kerja sama menyentuh wilayah intelijen, apakah itu masih sekadar hubungan bilateral, atau sudah masuk ke wilayah kepercayaan yang lebih dalam?

Dunia yang Tidak Lagi Sederhana

Sementara itu, dunia tidak sedang baik-baik saja. Ia tidak lagi dibagi dalam dua kutub yang jelas, tetapi justru terpecah dalam banyak kepentingan yang saling bertabrakan.

Dalam kondisi seperti ini, posisi netral bukan lagi zona aman. Sebaliknya, netral sering kali berarti tidak cukup kuat untuk memilih.

Karena itu, langkah Indonesia hari ini terasa berbeda. Bukan pasif, tapi juga belum sepenuhnya agresif. Ada kehati-hatian, tapi juga ada keberanian yang mulai terlihat.

Dari Keamanan ke Uang

Kemudian, arah percakapan bergeser. Dari ruang keamanan ke ruang ekonomi.

Pertemuan dengan Ray Dalio membuka dimensi lain. Jika sebelumnya bicara soal stabilitas, kini bicara soal kepercayaan. Tentang bagaimana Indonesia ingin dilihat oleh dunia.

Danantara, sebagai instrumen investasi strategis, bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah simbol. Simbol bahwa Indonesia ingin bermain di level yang lebih tinggi, bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai pemain.

Namun di balik itu, ada konsekuensi. Ketika modal global masuk, ia tidak datang tanpa kepentingan. Ia membawa ekspektasi. Ia membawa pengaruh.

Dua Kaki, Satu Risiko

Di satu sisi, Indonesia berbicara dengan China tentang keamanan. Di sisi lain, Indonesia berdialog dengan Amerika tentang investasi.

Ini terlihat seperti keseimbangan. Namun keseimbangan dalam geopolitik bukanlah posisi diam. Ia adalah gerak yang terus menerus.

Masalahnya, semakin aktif bergerak, semakin besar risiko tergelincir.

Apakah Indonesia sedang memainkan strategi dua arah yang cerdas? Atau justru sedang berjalan di garis tipis yang sewaktu-waktu bisa retak?

Penutup

Di balik meja-meja pertemuan itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar diplomasi.

Ada pertanyaan tentang arah, tentang keberanian, dan tentang batas.

Indonesia hari ini tidak lagi punya kemewahan untuk hanya menjadi “netral”. Dunia terlalu bising untuk itu.

Lalu, di tengah tarik menarik kepentingan global, satu pertanyaan tersisa.

Apakah kita sedang memilih jalan sendiri, atau hanya sedang belajar menyeimbangkan tekanan yang belum sepenuhnya kita kuasai? @jeje

Tags: chinaNasionalprabowo

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Bicara Cara Bertahan

Saat Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Belum Selesai Bertahan

by jeje
Mei 9, 2026

Di tengah harga pangan yang terus naik, pedagang kecil mulai menghadapi dilema paling melelahkan: menaikkan harga jual dan kehilangan pelanggan,...

Next Post
Pukulan di Kamar Hotel: Ketika Ego Remaja Lebih Keras dari Empati

Pukulan di Kamar Hotel: Ketika Ego Remaja Lebih Keras dari Empati

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026

Jalur Cangar-Pacet: Indahnya Pegunungan dan Gelapnya Kisah di Tikungan Terakhir

April 26, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id