Tabooo.id: Tabooo Book Club – Apa jadinya kalau kemerdekaan ternyata cuma “setengah jadi”? Lewat Gerpolek, Tan Malaka tidak cuma bicara perang, dia sedang membongkar ilusi kemerdekaan itu sendiri.
“Gerpolek” adalah singkatan dari Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Tiga elemen yang menurut Tan Malaka tidak bisa dipisahkan dalam perjuangan kemerdekaan.
Buku ini lahir di tengah situasi genting pasca kemerdekaan Indonesia, saat bangsa ini masih terjebak antara perang, diplomasi, dan kompromi yang melemahkan posisi republik.
Tan Malaka melihat satu hal yang sering diabaikan, perang bukan cuma soal senjata, tapi juga soal strategi politik dan penguasaan ekonomi. Ia mengkritik keras perpecahan internal bangsa, antar partai, organisasi, hingga militer, yang justru membuka celah bagi kekuatan asing untuk kembali menguasai Indonesia.
Dalam pandangannya, kemerdekaan tidak akan pernah utuh jika hanya berhenti di level politik. Jika ekonomi masih dikuasai asing, maka kemerdekaan hanyalah ilusi.
Melalui konsep Gerpolek, Tan Malaka menawarkan strategi total:
- Gerilya → perlawanan militer rakyat
- Politik → kesatuan arah perjuangan
- Ekonomi → kontrol sumber daya oleh rakyat
Ia juga menggambarkan sosok “Sang Gerilya”, bukan sekadar tentara, tapi simbol rakyat yang siap berjuang tanpa batas waktu demi kemerdekaan 100%.

Buku Lama, Tapi Terlalu Relevan
Masalahnya bukan di masa lalu. Masalahnya adalah apa yang Tan Malaka tulis… masih terasa sekarang.
1. Kemerdekaan Setengah Jadi
Tan Malaka menampar realitas bahwa kemerdekaan politik tanpa ekonomi adalah kosong. Kalau hari ini kita lihat Sumber Daya Alam masih banyak dikuasai asing, ketimpangan ekonomi masih tinggi, rakyat masih hanya jadi “penonton”. Pertanyaannya, apa kita benar-benar merdeka, atau cuma ganti bendera?
2. Persatuan yang Selalu Retak
Dalam buku ini, Tan Malaka menggambarkan betapa mudahnya bangsa ini terpecah, bahkan di tengah perjuangan. Fast forward ke sekarang, polarisasi politik, perang opini di media sosial, elite vs rakyat. Bukankah seperti mengulang sejarah, tapi dengan format digital?
3. Konsep Gerpolek = Mindset, Bukan Strategi Militer
Banyak yang mengira ini buku perang. Padahal, ini adalah cara berpikir. Tan Malaka ingin mengatakan bahwa perjuangan itu harus total, tidak bisa setengah-setengah.
Hari ini, bisa kita tarik ke konteks:
- Gerilya = adaptasi (survive di dunia yang berubah cepat)
- Politik = kesadaran sosial
- Ekonomi = kemandirian finansial
Masih relevan? Sangat.
4. Bahasa Berat, Tapi Isinya “Nendang”
Jujur saja, gaya bahasa buku ini tidak ringan. Khas era revolusi yang padat, ideologis, dan kadang keras. Tapi justru di situ kekuatannya. Setiap kalimat terasa seperti manifesto, bukan sekadar tulisan.
Kelebihan Buku
- Visioner — jauh melampaui zamannya
- Tajam secara analisis politik & ekonomi
- Memberi perspektif utuh tentang kemerdekaan
- Relevan lintas generasi
Kekurangan Buku
- Bahasa berat untuk pembaca modern
- Konteks historis perlu dipahami dulu
- Tidak “ramah cepat baca” ala Gen Z
Penilaian Akhir
Ini bukan buku untuk sekadar dibaca. Ini buku untuk “ditabrak”, karena isinya akan menabrak cara berpikirmu tentang kemerdekaan.
Dalam buku ini, Tan Malaka seolah bertanya dari masa lalu, kalau kemerdekaan harus diperjuangkan dengan darah, kenapa mempertahankannya sekarang terasa seperti… opsional?
Lalu, pertanyaannya buat kamu, kita ini benar-benar merdeka, atau cuma belum sadar kalau masih dijajah dalam bentuk baru? @tabooo



