Tabooo.id: Regional – Malam Pengerupukan di Desa Adat Legian, Rabu (18/3/2026), berubah jadi panggung budaya raksasa. Kurang lebih belasasan ogoh-ogoh dari tiga banjar adat diarak menyusuri jalan utama, menyedot ribuan pasang mata warga lokal hingga wisatawan asing yang memadati kawasan Jalan Raya Legian.
Dentuman gamelan, tarian tradisional, dan sorak penonton menciptakan satu hal: Bali belum tidur setidaknya untuk malam terakhir sebelum sunyi total.
Namun di balik gegap gempita itu, ada satu tujuan yang jauh lebih dalam.
Simbol Raksasa, Energi yang Diredam
Ogoh-ogoh bukan sekadar boneka raksasa untuk parade Instagram. Ia adalah representasi Bhuta Kala energi negatif yang harus dinetralisir sebelum memasuki Hari Suci Nyepi.
Kelian Adat Banjar Legian Kulod, I Nyoman Sumanata, menegaskan bahwa tradisi ini adalah bentuk “pembersihan” spiritual kolektif.
“Ogoh-ogoh ini wujud kreativitas pemuda dalam menggambarkan Bhuta Kala. Tujuannya untuk menyomya atau menetralisir energi tersebut, agar keesokan harinya umat bisa menjalankan Nyepi dengan khusyuk.” ujarnya.
Artinya sederhana: sebelum hening, Bali harus “berisik” dulu mengusir hal-hal yang tak kasat mata.
Siapa yang Paling Terdampak?
Tradisi ini bukan cuma ritual sakral. Dampaknya terasa nyata, terutama bagi:
- Pelaku pariwisata: Hotel, restoran, hingga transportasi di kawasan Kuta harus bersiap berhenti total saat Nyepi. Tidak ada check-in ramai, tidak ada pesta, bahkan Bandara Ngurah Rai ikut tutup.
- Wisatawan: Mereka harus beradaptasi dengan aturan ketat tidak keluar hotel, minim aktivitas, bahkan lampu dibatasi.
- Warga lokal: Di satu sisi, mereka jadi aktor utama budaya. Di sisi lain, mereka juga menjalani disiplin penuh selama 24 jam tanpa aktivitas.
Bali mendadak berubah dari destinasi paling hidup jadi pulau paling sunyi.
Dari Melasti ke Tawur Kesanga: Rangkaian yang Tak Terpisah
Sebelum Pengerupukan, umat Hindu lebih dulu menjalani ritual Melasti penyucian simbol suci di laut atau sumber air. Lalu dilanjutkan Tawur Kesanga, sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.
Pengerupukan adalah klimaksnya. Setelah itu? Sunyi total.
Catur Brata Penyepian: 24 Jam Tanpa Kompromi
Saat Nyepi tiba, Bali menjalankan empat larangan utama:
- Amati Gni (tanpa api/lampu)
- Amati Karya (tanpa kerja)
- Amati Lelungan (tanpa bepergian)
- Amati Lelanguan (tanpa hiburan)
Tidak ada kendaraan. Tidak ada kebisingan. Bahkan internet dan siaran bisa ikut dibatasi di beberapa wilayah.
Di dunia yang makin bising, Bali justru memilih diam.
“Libur” untuk Bumi
Menariknya, Nyepi kini tak hanya dibaca sebagai ritual keagamaan. Banyak pihak melihatnya sebagai eksperimen ekologis tahunan.
Selama 24 jam tanpa aktivitas manusia:
- Emisi turun drastis
- Kualitas udara membaik
- Langit jadi lebih bersih
- Suara alam kembali dominan
Dalam skala global, ini seperti simulasi kecil: bagaimana jika manusia benar-benar berhenti sejenak?
Antara Tradisi dan Tamparan Halus
Pengerupukan di Legian menunjukkan satu hal tradisi tidak pernah sekadar masa lalu. Ia hidup, berdenyut, dan bahkan memengaruhi ekonomi hingga ekologi.
Dan mungkin, di tengah dunia yang tak pernah berhenti bergerak, Bali sedang memberi pesan sederhana:
kadang yang paling kita butuhkan bukan percepatan, tapi keberanian untuk berhenti. @eko




