Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Riuh ke Hening: Malam Pengerupukan di Legian Jadi Gerbang Nyepi

by eko
Maret 19, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Malam Pengerupukan di Desa Adat Legian, Rabu (18/3/2026), berubah jadi panggung budaya raksasa. Kurang lebih belasasan ogoh-ogoh dari tiga banjar adat diarak menyusuri jalan utama, menyedot ribuan pasang mata warga lokal hingga wisatawan asing yang memadati kawasan Jalan Raya Legian.

Dentuman gamelan, tarian tradisional, dan sorak penonton menciptakan satu hal: Bali belum tidur setidaknya untuk malam terakhir sebelum sunyi total.

Namun di balik gegap gempita itu, ada satu tujuan yang jauh lebih dalam.

Simbol Raksasa, Energi yang Diredam

Ogoh-ogoh bukan sekadar boneka raksasa untuk parade Instagram. Ia adalah representasi Bhuta Kala energi negatif yang harus dinetralisir sebelum memasuki Hari Suci Nyepi.

Kelian Adat Banjar Legian Kulod, I Nyoman Sumanata, menegaskan bahwa tradisi ini adalah bentuk “pembersihan” spiritual kolektif.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

“Ogoh-ogoh ini wujud kreativitas pemuda dalam menggambarkan Bhuta Kala. Tujuannya untuk menyomya atau menetralisir energi tersebut, agar keesokan harinya umat bisa menjalankan Nyepi dengan khusyuk.” ujarnya.

Artinya sederhana: sebelum hening, Bali harus “berisik” dulu mengusir hal-hal yang tak kasat mata.

Siapa yang Paling Terdampak?

Tradisi ini bukan cuma ritual sakral. Dampaknya terasa nyata, terutama bagi:

  • Pelaku pariwisata: Hotel, restoran, hingga transportasi di kawasan Kuta harus bersiap berhenti total saat Nyepi. Tidak ada check-in ramai, tidak ada pesta, bahkan Bandara Ngurah Rai ikut tutup.
  • Wisatawan: Mereka harus beradaptasi dengan aturan ketat tidak keluar hotel, minim aktivitas, bahkan lampu dibatasi.
  • Warga lokal: Di satu sisi, mereka jadi aktor utama budaya. Di sisi lain, mereka juga menjalani disiplin penuh selama 24 jam tanpa aktivitas.

Bali mendadak berubah dari destinasi paling hidup jadi pulau paling sunyi.

Dari Melasti ke Tawur Kesanga: Rangkaian yang Tak Terpisah

Sebelum Pengerupukan, umat Hindu lebih dulu menjalani ritual Melasti penyucian simbol suci di laut atau sumber air. Lalu dilanjutkan Tawur Kesanga, sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Pengerupukan adalah klimaksnya. Setelah itu? Sunyi total.

Catur Brata Penyepian: 24 Jam Tanpa Kompromi

Saat Nyepi tiba, Bali menjalankan empat larangan utama:

  • Amati Gni (tanpa api/lampu)
  • Amati Karya (tanpa kerja)
  • Amati Lelungan (tanpa bepergian)
  • Amati Lelanguan (tanpa hiburan)

Tidak ada kendaraan. Tidak ada kebisingan. Bahkan internet dan siaran bisa ikut dibatasi di beberapa wilayah.

Di dunia yang makin bising, Bali justru memilih diam.

“Libur” untuk Bumi

Menariknya, Nyepi kini tak hanya dibaca sebagai ritual keagamaan. Banyak pihak melihatnya sebagai eksperimen ekologis tahunan.

Selama 24 jam tanpa aktivitas manusia:

  • Emisi turun drastis
  • Kualitas udara membaik
  • Langit jadi lebih bersih
  • Suara alam kembali dominan

Dalam skala global, ini seperti simulasi kecil: bagaimana jika manusia benar-benar berhenti sejenak?

Antara Tradisi dan Tamparan Halus

Pengerupukan di Legian menunjukkan satu hal tradisi tidak pernah sekadar masa lalu. Ia hidup, berdenyut, dan bahkan memengaruhi ekonomi hingga ekologi.

Dan mungkin, di tengah dunia yang tak pernah berhenti bergerak, Bali sedang memberi pesan sederhana:
kadang yang paling kita butuhkan bukan percepatan, tapi keberanian untuk berhenti. @eko

Tags: balibanjar legian kulodLegianNyepi

Kamu Melewatkan Ini

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

Gunung Sampah di Bali: Surga Wisata yang Diam-Diam Tenggelam oleh Limbah?

by dimas
Mei 5, 2026

Sampah Bali kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan sinyal krisis pengelolaan destinasi wisata. Lonjakan volume limbah dari rumah...

Bali Macet Parah, Taksi Air Jadi Harapan Baru atau Sekadar Wacana Mahal?

Bali Macet Parah, Taksi Air Jadi Harapan Baru atau Sekadar Wacana Mahal?

by dimas
April 20, 2026

Di tengah wacana pembangunan taksi air sebagai solusi mengurai kemacetan di Bali yang kian parah, satu pertanyaan besar muncul: jika...

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

by teguh
April 20, 2026

Sabtu, 18 April 2026, Bali menjadi panggung optimisme digital. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut adopsi kecerdasan buatan atau...

Next Post
Bus Sugeng Rahayu Hantam Jembatan Jurug, Pemudik Alami Detik Mencekam

Bus Sugeng Rahayu Hantam Jembatan Jurug, Pemudik Alami Detik Mencekam

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id