Tabooo.id: Deep – Malam Jumat Kliwon di sebuah sudut Sukoharjo selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Warga membentangkan karpet di halaman makam, sementara lampu temaram bergoyang di antara pepohonan tua. Aroma dupa bercampur dengan bau tanah basah yang disiram embun malam.
Peziarah datang silih berganti. Sebagian berasal dari Boyolali, sebagian lain dari Jakarta, bahkan ada yang menempuh perjalanan jauh dari Palembang.
Di tepi makam, beberapa orang duduk bersila. Sebagian memejamkan mata sambil menggenggam tasbih. Mereka membawa harapan yang hampir sama: mencari jalan keluar dari berbagai persoalan hidup.

Di tempat inilah nama Ki Ageng Balak hidup lebih kuat daripada sekadar cerita sejarah.
Namun di balik suasana ziarah yang tampak khusyuk, tersimpan cerita lain yang jarang dibicarakan. Tradisi ini menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat keyakinan spiritual, sekaligus memelihara mitos yang terus bertahan di tengah masyarakat modern.
Dari Raden Sujono ke Ki Ageng Balak
Legenda Ki Ageng Balak berawal dari kisah lama yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa. Dalam cerita tersebut, masyarakat meyakini Ki Ageng Balak memiliki nama asli Raden Sujono, putra Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.
Slamet, salah satu juru kunci makam Ki Ageng Balak, menyampaikan bahwa masyarakat mewariskan kisah itu secara turun-temurun.
“Menurut cerita yang kami terima dari para leluhur, Ki Ageng Balak sebenarnya bernama Raden Sujono. Beliau diyakini sebagai putra Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit,” ujar Slamet.
Menurut cerita yang berkembang, Raden Sujono pernah menjabat sebagai hakim di lingkungan kerajaan. Kehidupannya berubah ketika sang ayah memaksanya menikah.
Slamet menjelaskan bahwa Raden Sujono menolak perintah tersebut dan memilih meninggalkan istana secara diam-diam.
“Konon Raden Sujono pernah menjadi hakim di kerajaan. Namun ketika ayahnya memaksanya menikah, beliau memilih pergi dari istana dan menjalani pengembaraan,” jelasnya.
Dalam pengembaraannya, Raden Sujono bertemu dua perampok bernama Simbarjo dan Simbarjoyo. Ia melawan keduanya dan berhasil mengalahkan mereka sebelum melanjutkan perjalanan menjauh dari Majapahit.
Setelah kepergian Raden Sujono, berbagai musibah konon menimpa Majapahit. Panen gagal, hama wereng menyerang sawah, dan wabah penyakit menyebar di berbagai wilayah.
Melihat kondisi itu, Prabu Brawijaya V memohon petunjuk kepada Tuhan. Dalam kisah yang dipercaya masyarakat, sang raja kemudian mendapat petunjuk untuk mencari putranya.
Namun Raden Sujono menolak kembali ke istana. Ia hanya memberi nasihat tentang langkah yang harus ditempuh untuk memulihkan kerajaan. Setelah itu, kondisi Majapahit perlahan membaik.
Sejak saat itulah masyarakat mengenalnya sebagai Ki Ageng Balak. Julukan tersebut diyakini berasal dari istilah tolak balak, yang berarti menolak atau menyingkirkan musibah.
Ziarah, Harapan, dan Realitas Ekonomi
Legenda itu terus hidup hingga sekarang. Makam Ki Ageng Balak di kawasan Gentan dan Mertan pun berkembang menjadi tujuan ziarah spiritual.
Di sekitar kompleks makam, warga membuka warung-warung sederhana. Mereka menjual kopi, makanan ringan, hingga bunga tabur bagi para peziarah.
Sebagian peziarah datang untuk mendoakan leluhur. Yang lain membawa harapan yang lebih praktis, seperti kelancaran usaha, hasil panen yang baik, atau peningkatan rezeki.
Kehadiran peziarah menggerakkan ekonomi warga sekitar. Warung makan ramai pengunjung, area parkir penuh kendaraan, dan penjual bunga tabur memperoleh lebih banyak pembeli.
Bagi sebagian warga, aktivitas ziarah ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup penting.
Namun di balik perputaran ekonomi itu, muncul persoalan yang lebih rumit.
Keyakinan Bertemu Jalan Pintas
Motivasi para peziarah ternyata tidak selalu sama. Sebagian orang percaya makam Ki Ageng Balak dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan hidup.
Ada yang berharap usahanya lancar. Ada pula yang memohon hasil panen melimpah. Sebagian lainnya datang dengan harapan memperoleh keberuntungan dalam bisnis atau jabatan.
Salah satu peziarah, Bambang, warga asal Solo, mengaku sering melihat fenomena yang lebih ekstrem.
“Kadang ada yang datang karena ingin cepat kaya,” ujarnya.
Menurut Bambang, sebagian orang bahkan mengaitkan ziarah dengan keberuntungan tertentu. Harapan instan seperti itu sering memunculkan ekspektasi yang tidak realistis.
Ironisnya, tidak sedikit dari mereka justru menghadapi masalah yang lebih besar.
Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari praktik ziarah yang jarang dibicarakan.
Antara Doa dan Tuduhan Pesugihan
Kepala Desa Mertan, Parno (40), kerap mencoba meluruskan berbagai kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, tradisi ziarah tidak berkaitan dengan praktik pesugihan atau pencarian kekayaan secara instan.
“Semua itu sebenarnya hanya persepsi. Banyak orang datang ke sini untuk ngalap berkah atau mencari berkah, dan itu berbeda dengan praktik pesugihan. Pada akhirnya, semua tetap kembali kepada Allah,” ujarnya.
Meski begitu, stigma kadang telanjur melekat. Sebagian orang luar kerap menganggap tempat seperti ini sebagai pusat ritual mistik.
Padahal bagi warga lokal, ziarah lebih dekat dengan tradisi sosial dan spiritual.
Setiap hari Kamis, masyarakat setempat rutin menggelar bancaan atau slametan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Mereka berkumpul, membawa makanan, lalu berdoa bersama.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ritual keagamaan. Kegiatan itu juga memperkuat solidaritas sosial di antara warga.
Malam Jumat Kliwon: Puncak Keramaian
Keramaian biasanya mencapai puncaknya pada malam Jumat Kliwon.
Pada malam itu, peziarah datang dari berbagai daerah. Mereka duduk di sekitar makam, membaca doa, atau sekadar merenung dalam keheningan malam.
Sebagian memilih bermalam di lokasi ziarah. Pengelola menyediakan karpet agar para peziarah bisa beristirahat.
Dalam tradisi Jawa, malam Jumat Kliwon memiliki makna spiritual tersendiri. Banyak orang percaya malam tersebut memiliki kekuatan religius yang lebih kuat.
Bagi pedagang lokal, momen ini juga membawa berkah ekonomi.
Warung makan dipenuhi pengunjung. Area parkir menjadi padat. Penjual bunga dan dupa pun kebanjiran pembeli.
Di titik itulah spiritualitas bertemu dengan ekonomi rakyat.
Ziarah di Era Modern
Dalam kajian sosial, tradisi seperti ini sering dijelaskan melalui dua jalur. Sosiolog Piotr Sztompka menyebut tradisi dapat tumbuh dari bawah ketika masyarakat secara spontan membangun ritual bersama.
Sebaliknya, tradisi juga bisa muncul dari atas ketika elite atau penguasa menjadikannya bagian dari budaya kolektif.
Ziarah di makam Ki Ageng Balak tampaknya lebih dekat dengan jalur pertama. Tradisi ini tumbuh dari cerita rakyat, keyakinan spiritual, dan pengalaman masyarakat.
Dalam kehidupan modern, alasan orang datang pun semakin beragam.
Sebagian ingin menghormati leluhur.
Yang lain datang untuk menjalin silaturahmi dengan sesama peziarah.
Ada pula yang ingin menjaga tradisi budaya Jawa.
Selain itu, banyak orang datang karena persoalan ekonomi, karier, atau kehidupan pribadi.
Keragaman motivasi tersebut membuat makna ziarah tidak pernah tunggal.
Tradisi sebagai Cermin Masyarakat
Pada akhirnya, makam Ki Ageng Balak bukan sekadar tempat ziarah. Tempat ini juga menjadi cermin kecil tentang bagaimana masyarakat memaknai hidup, harapan, dan nasib.
Sebagian orang datang membawa doa dan ketenangan batin.
Yang lain datang dengan harapan baru bagi usaha atau keluarga mereka.
Tidak sedikit pula yang tiba dalam keadaan putus asa.
Di tempat ini, keyakinan, ekonomi, dan budaya bertemu dalam ruang yang sama.
Di negara yang semakin rasional dan modern, lokasi seperti ini tetap ramai dikunjungi.
Mungkin karena manusia selalu membutuhkan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh logika.
Atau mungkin karena ketika hidup terasa terlalu berat, orang tetap mencari harapan di mana saja.
Bahkan di sebuah makam tua di pinggir desa. @dimas





