Tabooo.id: Talk – Setiap kali ada bangunan tua atau candi ditemukan, kita langsung sibuk berkata: “Ini warisan leluhur, harus dijaga!”
Tapi pernah nggak sih kita berhenti sejenak dan bertanya, yang kita jaga itu warisannya… atau versinya yang sudah diedit?
Lihat saja Candi Cetho di lereng Gunung Lawu. Berdiri megah di atas kabut, tempat orang berdoa, berfoto, dan bangga bilang: “Ini bukti kebesaran Majapahit.”
Padahal sebagian arkeolog justru bilang: yang sekarang berdiri di sana bukan lagi peninggalan abad ke-15, tapi hasil “pemugaran kreatif” tahun 1970-an.
Ketika Pelestarian Jadi Editan
Kita suka menganggap pelestarian itu selalu berarti “menjaga keaslian”. Padahal kenyataannya, banyak warisan sejarah kita sudah lewat tangan-tangan politik, ideologi, dan estetika zaman.
Candi Cetho misalnya, dulu hanya punden berundak sederhana, bentuk arsitektur asli Jawa kuno. Tapi setelah dipugar pada masa Orde Baru, candi itu berubah drastis: muncul gapura besar bergaya Bali, pendopo kayu, dan patung tokoh-tokoh mitos yang bahkan tak pernah tercatat di sumber abad ke-15.
Ada nama Humardani, asisten pribadi Soeharto, yang memimpin proyeknya. Tujuannya, katanya, melestarikan budaya. Tapi di balik niat baik itu, ada ambisi: menampilkan Jawa sebagai pusat spiritual bangsa, dengan visual yang “lebih rapi” dan mudah dijual sebagai destinasi wisata.
Jadi, pelestarian atau penyesuaian?
Warisan atau branding budaya?
Kita Punya Kecanduan Akan Versi Cantik dari Masa Lalu
Sejujurnya, kita semua punya kelemahan yang sama, ingin masa lalu terlihat sempurna. Candi yang retak dianggap aib, lukisan yang pudar langsung diwarnai ulang. Kita ingin sejarah tampil seperti feed Instagram, bersih, estetis, tanpa konflik.
Padahal sejarah justru menarik karena cacatnya. Karena di sana ada kejujuran tentang betapa manusia itu rapuh, gagal, dan selalu berusaha menebus kesalahan. Tapi sayangnya, di negeri ini, kita sering menutupi debu sejarah dengan lapisan cat nasionalisme.
Cetho akhirnya jadi simbol kontradiktif: monumen keagungan masa lalu yang dibangun ulang dengan selera masa kini.
Seolah kita bilang ke leluhur, “Warisanmu bagus, tapi izinkan kami mempercantiknya biar lebih Instagrammable.”
Antara Keyakinan dan Kebenaran
Bagi sebagian orang, Candi Cetho bukan sekadar situs arkeologi, tapi tempat hidupnya spiritualitas Jawa. Di sana, umat Hindu dan penganut Kejawen bersembahyang, mencari kedamaian, dan menjalankan ritual penyucian diri.
Dan ya, sisi itu indah. Tapi pertanyaannya, bisakah sesuatu tetap sakral kalau sebagian bentuknya hasil interpretasi?
Kita mungkin tidak sadar, tapi banyak tempat suci di Indonesia yang mengalami hal sama, dirombak demi estetika, dipoles demi wisata, di-branding ulang demi citra nasional. Dari pura, masjid kuno, sampai rumah adat, semuanya berlomba tampil “lebih representatif”. Seolah keaslian itu kurang laku di pasar budaya.
Politik di Balik Batu
Di balik setiap batu yang disusun ulang, ada narasi yang juga sedang ditata. Candi Cetho tidak hanya dipugar, tapi juga diisi makna baru: simbol “Jawa spiritual”, “Majapahit abadi”, atau “Hindu-Bali yang serasi”. Semua terasa megah, tapi sekaligus menutupi kenyataan bahwa sejarah Jawa akhir Majapahit adalah masa kekacauan, konflik agama, dan perebutan identitas.
Bukannya buruk kalau kita ingin bangga pada masa lalu. Yang bermasalah adalah ketika kebanggaan itu lahir dari hasil poles, bukan dari pemahaman.
Kita menuntut “keindahan sejarah” tapi menolak kompleksitasnya.
Kita ingin punya warisan, tapi enggan memikul bebannya.
Lalu, Siapa yang Menjaga Kejujuran?
Pemerintah? Kadang sibuk menyiapkan tender proyek “revitalisasi”.
Akademisi? Sering suaranya tenggelam di antara birokrasi.
Masyarakat? Terlalu sering lebih tertarik pada selfie daripada riset.
Padahal kejujuran sejarah nggak bisa diwakilkan. Ia lahir dari kesadaran kita sendiri untuk bertanya, apakah bangunan ini masih orisinal, atau sudah menjadi monumen dari versi politik masa lalu? Apakah ritual yang kita rayakan masih milik nenek moyang, atau sudah jadi pertunjukan budaya?
Menjaga warisan seharusnya bukan cuma soal melindungi batu, tapi juga melindungi konteks, makna, dan ingatan yang terkandung di dalamnya.
Berani Jujur pada Masa Lalu
Kita sering bilang, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Tapi bagaimana kalau sejarah itu sudah disusun ulang? Masihkah kita bisa menghargainya tanpa merasa tertipu?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menuntut sejarah untuk tampil sempurna. Biarkan ia tetap retak, kusam, bahkan membingungkan, karena di sanalah letak kejujuran manusia. Keindahan warisan bukan pada cat barunya, tapi pada kisah panjangnya yang jujur.
Cetho hanyalah satu contoh. Di banyak tempat lain, “pemugaran” masih berjalan. Dan selama kita masih lebih takut melihat yang asli daripada yang indah, mungkin warisan terbesar kita bukan candi atau arsitektur, tapi kebiasaan menyembunyikan kebenaran di balik kabut estetika. @tabooo
Sumber Referensi
- Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar (2024) – Laporan Tahunan Kunjungan Wisata.
- Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, Vol. 12 (1): 28–42, Universitas Sebelas Maret (2023).
- Sukuh and Cetho Temples: A Comparative Study of History, Architect and Culture – ResearchGate (2023).
- Bangunan Candi Cetho Saat Ini Ada Kemungkinan Tak Sesuai Aslinya – Solopos.id (2022).
- Menelusuri Sejarah dan Makna Simbolis Candi Cetho di Karanganyar – Kumparan (2025).




