• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Senin, Maret 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Tanah Turun Bersama Harapan: Ironi Pembangunan di Pantai Sine

Oktober 28, 2025
in Deep
A A
Ketika Tanah Turun Bersama Harapan: Ironi Pembangunan di Pantai Sine

Petugas memasang terpal di area tebing JLS yang longsor di Desa Rejosari, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (26/10/2025). (foto dok. Antara.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo: Deep – Hujan turun deras sejak malam. Langit di atas Tulungagung tampak berat, seolah menyimpan kemarahan yang lama dipendam.

Pagi itu, dua warung di tebing Jalur Lintas Selatan (JLS) mendadak hilang dari pandangan. Tanah sepanjang 70 meter ambrol dan menyeret seluruh bangunan ke jurang sedalam 50 meter.

Supardi, pemilik salah satu warung, masih ingat jelas suara runtuhnya tanah.

“Retaknya sudah kelihatan sejak kemarin sore. Tapi saya enggak sangka bakal ambrol secepat itu,” katanya. Ia baru saja menyelesaikan renovasi dua minggu lalu. Kini, yang tersisa hanya lumpur dan serpihan kayu.

Jalan yang Janjikan Kemajuan, Tapi Telan Harapan

Proyek Jalur Lintas Selatan hadir dengan janji besar: membuka ekonomi pesisir, mempermudah wisata, dan menghubungkan daerah-daerah terpencil. Pemerintah menyebutnya simbol kemajuan.

Namun di lapangan, banyak warga justru menanggung dampak buruknya. Tebing dikikis, pepohonan ditebang, dan sistem drainase tidak berfungsi. Akibatnya, air hujan tak punya tempat mengalir selain mengguyur tebing yang kini rapuh.

Camat Kalidawir, Rusdiyanto, mengaku sudah mengingatkan warga soal tanda bahaya.

“Retakan tanah memang sudah muncul sejak sehari sebelumnya. Kami minta warga waspada,” ujarnya.

Sayangnya, peringatan itu tak sempat menyelamatkan dua warung yang sudah lebih dulu runtuh.

BPBD Tulungagung bersama Perhutani menutup lokasi longsor dengan terpal dan memasang garis pembatas. Petugas berjaga agar tidak ada warga mendekat. Tapi semua langkah itu datang setelah harapan jatuh bersama tanah.

Pembangunan yang Menguntungkan Siapa?

Nilai proyek JLS mencapai triliunan rupiah. Jalur ini membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi dan disebut-sebut sebagai urat nadi ekonomi selatan Jawa. Investor mulai berdatangan, harga tanah melonjak, dan lalu lintas wisata meningkat.

Namun warga kecil seperti Supardi justru merasa ditinggalkan.
“Kami disuruh bangun warung supaya kawasan ramai. Tapi pas longsor, enggak ada satu pun yang datang bantu,” katanya getir.

Ironinya, mereka yang menggantungkan hidup di pinggir jalan inilah yang paling rentan. Pembangunan besar menciptakan dua wajah: satu penuh lampu promosi dan brosur wisata, satu lagi gelap karena kehilangan mata pencaharian.

Suara dari Akar Rumput: Antara Takut dan Bertahan

Sulastri, penjual kopi di sisi lain tebing, menutup kiosnya setiap kali hujan datang.

“Kalau hujan deras, saya langsung pulang. Tanahnya kayak bergerak,” ujarnya.

Ia mengaku jalan baru itu dulu membawa banyak pelanggan, tapi kini justru membawa ketakutan.

“Sekarang sepi. Orang takut berhenti di sini.”

Bagi Sulastri, warung bukan sekadar tempat jualan. Di sana ia bertemu banyak orang dan menyambung hidup. Kini, setiap kali mendengar suara gemuruh air, ia merasa hidupnya ikut terguncang.

Ia tidak tahu apakah bisa membangun kembali kiosnya jika longsor berikutnya datang.

Janji Infrastruktur, Realitas Erosi

Longsor di Pantai Sine bukan peristiwa tunggal. Di banyak titik sepanjang JLS, fenomena serupa terus berulang. Setiap kali tanah ambrol, pemerintah menyebutnya “bencana alam”.
Padahal, alam tidak tiba-tiba jahat. Ia hanya bereaksi terhadap ulah manusia yang menebang pohon, meratakan bukit, dan mengabaikan tata air.

Ketika akar kehilangan tanah, dan tanah kehilangan daya cengkeram, yang hilang bukan hanya warung tetapi rasa percaya rakyat terhadap pemerintah.
Bencana seperti ini bukan sekadar akibat cuaca ekstrem, melainkan cermin dari kebijakan yang terlalu terburu-buru mengejar pertumbuhan, tanpa menimbang daya tahan bumi.

RelatedPosts

Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

Sikap Redaksi Tabooo: Luka yang Tak Boleh Dinormalisasi

Redaksi Tabooo.id menilai tragedi di Pantai Sine bukan sekadar insiden geologis. Ini adalah bukti nyata dari kelalaian sistemik yang terus berulang dalam proyek-proyek infrastruktur besar. Ketika negara mengejar angka pembangunan, warga kecil justru kehilangan pijakan harfiah di tanahnya sendiri.Kami menolak narasi “bencana alam” sebagai alasan klasik untuk menutupi tanggung jawab.
Pemerintah pusat dan daerah harus mengaudit setiap ruas Jalur Lintas Selatan yang melintasi kawasan rawan longsor. Audit itu perlu melibatkan warga lokal, ahli geologi, dan lembaga independen, bukan sekadar laporan formal di meja rapat.Lebih dari itu, korban seperti Supardi dan Sulastri berhak atas kompensasi nyata: bantuan ekonomi, relokasi aman, dan pendampingan sosial. Pembangunan yang menghancurkan hidup warga bukan kemajuan itu pengabaian.Tabooo percaya bahwa tugas media bukan hanya melaporkan kerusakan, tapi juga membongkar penyebabnya. Karena setiap jalan yang runtuh menyimpan satu kebenaran: ketika negara terlalu sibuk membangun, kadang ia lupa menjaga manusia yang tinggal di atas tanahnya sendiri. @dimas

Tags: Abrasi Pantai SineAlam Dan ManusiaAlam Menagih JanjiBencana Alam Jawa TimurCerita Dari Tebing RuntuhIroni PembangunanJLS TulungagungKrisis LingkunganNelayan TerdampakPantai SineSuara Dari Pesisir
Next Post
Konsep Otomatis

Jet Pribadi Rp 90 Miliar: KPK Terbang Rendah Pantau KPU

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi dalam Dua Gelombang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.