Tabooo.id: Life – Di balik kelir putih yang membentang, lampu blencong menyala temaram. Bayang-bayang tokoh wayang bergerak pelan, seperti napas yang ditahan. Di sisi panggung Balai Kota Solo, seorang remaja 16 tahun merapikan beskap kuningnya dan membetulkan blangkon cokelat yang menutup rambutnya dengan rapi. Namanya Larry Allen Santoso. Di kartu identitasnya tertulis nama Tionghoa: Tan Ge Yang.
Malam itu, pada puncak perayaan Cap Go Meh, Selasa 3 Maret 2026, ia berdiri sebagai dalang.
Suara gamelan mengalun. Larry menarik napas panjang, lalu mengangkat tokoh pertama. Tak lama kemudian, suaranya yang masih muda menggelegar memecah udara. “Sugeng dalu” Ia membuka pertunjukan dengan percaya diri, seolah telah puluhan tahun duduk bersila di balik kelir.
Ratusan pasang mata menyimak dengan khidmat. Sejumlah tokoh penting Kota Solo hadir, sementara Panitia Imlek Nasional datang dari Jakarta. Namun malam itu, perhatian publik tak hanya tertuju pada kisah Mahabharata yang ia bawakan. Sosoknya justru menghadirkan cerita lain: seorang remaja berdarah Tionghoa yang memilih mencintai wayang kulit.
Di Antara Kelir dan Layar Ponsel
Di kota yang menjadi rahim budaya Jawa seperti Solo, mencintai wayang mungkin terdengar wajar. Akan tetapi, di era ketika layar ponsel lebih memikat daripada kelir putih, pilihan Larry terasa berbeda. Algoritma media sosial bersuara lebih nyaring daripada gamelan. Konten berdurasi 30 detik lebih cepat memikat perhatian dibanding lakon semalam suntuk.
Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa tahun terakhir menunjukkan minat generasi muda terhadap seni tradisi terus berfluktuasi. Banyak sanggar berjuang mempertahankan murid. Wayang kulit, meski telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, kerap dianggap sebagai tontonan generasi lama. Pertunjukannya panjang. Bahasanya rumit. Simboliknya dalam.
Namun Larry tidak memedulikan stigma itu. Ia tidak tumbuh dari keluarga dalang. Tak satu pun anggota keluarganya menekuni seni pedalangan. Ia juga tidak mewarisi cempala dari garis keturunan mana pun. Sebaliknya, ia menemukan kecintaan itu sendiri pelan-pelan, sejak kecil.
Bocah Tujuh Tahun dan Pilihan yang Tidak Instan
Sejak usia tujuh tahun, Larry rutin datang ke sanggar. Ia berlatih di Sanggar Madangkara dan Sarutomo. Sementara teman-teman sebayanya sibuk bermain gim daring atau menonton serial streaming, ia memilih menghafal suluk dan mendalami sabetan. Ia melatih napas. Ia mengolah suara. Ia menghidupkan karakter ksatria, raksasa, hingga punakawan dengan kesungguhan yang jarang dimiliki anak seusianya.
Tentu saja, tantangan datang silih berganti. Bahasa Jawa bukan bahasa sehari-harinya. Setiap hari ia berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia. Padahal dalam pedalangan, bahasa bukan sekadar alat ucap; bahasa adalah ruh. Intonasi, diksi, dan unggah-ungguh menentukan wibawa seorang dalang.
Guru dalang privatnya, Kukuh Ridho Laksono, mengenang pertemuan pertama mereka. Saat itu Larry baru berusia tujuh tahun. Matanya berbinar, tekadnya terlihat jelas. “Pengucapannya kadang masih keliru,” ujar Kukuh. “Tetapi proses itu penting. Selama dia mau belajar, kemampuannya pasti berkembang.”
Benar saja. Waktu membentuknya. Disiplin menajamkan bakatnya. Kesalahan demi kesalahan ia jadikan pijakan.
Identitas yang Melampaui Sekat
Lebih jauh lagi, kisah Larry menyentuh wilayah yang lebih luas: identitas. Di satu sisi, masyarakat sering merayakan keberagaman. Namun di sisi lain, publik masih terkejut ketika melihat batas budaya ditembus. Seolah-olah tradisi hanya boleh diwariskan melalui garis darah.
Padahal sejarah Indonesia justru dibangun dari perjumpaan. Solo sendiri tumbuh dari silang budaya Jawa, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Perayaan Cap Go Meh dan sekaten hidup berdampingan dalam kalender kota. Meski begitu, kehadiran Larry di panggung Cap Go Meh tetap menghadirkan simbol kuat. Ia tidak sekadar tampil; ia memaknai ulang batas-batas identitas.
Ia tidak sedang membuktikan diri sebagai “cukup Jawa”. Ia juga tidak meninggalkan akar Tionghoanya. Sebaliknya, ia merangkul keduanya tanpa konflik. Dengan begitu, ia menunjukkan bahwa budaya bukan pagar yang membatasi, melainkan jembatan yang menghubungkan.
Penghargaan, Tetapi Lebih dari Itu
Usai pertunjukan, panitia memberikan penghargaan kepadanya. Apresiasi itu menyoroti perannya sebagai keturunan Tionghoa yang aktif melestarikan budaya Jawa. Tepuk tangan bergema. Kamera menangkap momen tersebut. Namun makna sesungguhnya melampaui piagam dan sorot lampu.
Larry tidak mengejar simbolisme. Ia mengejar proses.
Sementara banyak anak muda tergoda popularitas instan, ia memilih jalan sunyi yang panjang. Ia duduk berjam-jam mempelajari pakem. Ia menerima koreksi gurunya. Ia mengulang latihan tanpa mengeluh. Karena itu, ketika ia berdiri di panggung besar, ia tidak sekadar tampil; ia membawa laku.
Kukuh pun menegaskan bahwa menjadi dalang membutuhkan pembelajaran seumur hidup. Tidak ada garis finis. Tidak ada kata selesai. Bahkan dalang senior terus belajar, terus memperdalam rasa.
Ketika Lampu Blencong Dipadamkan
Pada akhirnya, malam Cap Go Meh itu akan berlalu. Panggung dibongkar. Kelir digulung. Lampu dipadamkan. Akan tetapi, bayangan yang Larry tinggalkan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Remaja itu mengajarkan satu hal sederhana: cinta pada budaya tidak membutuhkan legitimasi garis keturunan. Cinta hanya butuh ketekunan.
Mungkin justru di situlah letak pelajaran terbesarnya. Ketika publik sibuk memperdebatkan identitas, Larry memilih duduk bersila dan bercerita. Ketika dunia berlari mengejar yang viral, ia berjalan pelan menuju kedalaman.
Lalu, pertanyaannya kini berbalik kepada kita: apakah kita sudah cukup lapang untuk membiarkan generasi muda mencintai budaya tanpa prasangka? Atau jangan-jangan, sekat itu masih kita pelihara diam-diam?
Di balik kelir yang gelap, seorang remaja terus menggerakkan wayang. Dan selama tangan itu tetap setia pada cerita, harapan akan selalu punya panggungnya sendiri. @eko





