Tabooo.id: Regional – Sinabang, Aceh, diguncang gempa tektonik bermagnitudo 6,4, Selasa (3/3/2026) siang. Warga berhamburan keluar rumah, sekolah dan perkantoran menghentikan aktivitas sementara, sementara getaran merambat hingga sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan.
Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menyatakan pusat gempa berada di laut, sekitar 69 kilometer tenggara Sinabang, dengan kedalaman 26 kilometer. BMKG menegaskan gempa ini muncul akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kedalaman dangkal membuat guncangan terasa kuat di permukaan.
Getaran Meluas, Warga Panik
BMKG mencatat intensitas gempa mencapai skala IV MMI di Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, dan Simeulue. Pada level ini, banyak orang merasakan getaran di dalam rumah siang hari, dan benda-benda ringan bergoyang.
Di Nias dan Pinangsori, getaran berada pada skala III–IV MMI. Warga di Aceh Selatan, Meulaboh, Blang Pidie, Nias Utara, Medan, Tarutung, Aek Godang, dan Subulussalam melaporkan guncangan skala III MMI. Wilayah Gunungsitoli, Aceh Tengah, Aceh Jaya, dan Gayo Lues merasakan intensitas II–III MMI, sedangkan Bener Meriah, Banda Aceh, dan Aceh Besar hanya merasakan getaran skala II MMI.
Warga panik sesaat, tetapi belum ada laporan kerusakan besar atau korban jiwa. Meski gempa terjadi di laut, BMKG memastikan pusat gempa tidak memicu tsunami.
Tetap Waspada Meski Tanpa Tsunami
BMKG juga mencatat satu kali gempa susulan bermagnitudo 3,2 hingga pukul 12.18 WIB. Getaran susulan ini lebih ringan, tetapi warga tetap diminta waspada. BMKG mendorong masyarakat memeriksa kondisi rumah, khususnya jika terlihat retakan atau kerusakan struktural.
Otoritas meminta warga mengikuti informasi resmi, mengingat daerah Aceh dan Sumatera Utara selalu berisiko gempa. Kesiapsiagaan dan prosedur keselamatan menjadi kunci menghadapi situasi ini.
Dampak bagi Masyarakat
Kelompok yang paling terdampak adalah warga pesisir Aceh dan Kepulauan Nias. Selain efek psikologis, pedagang pasar, pelaku usaha kecil, dan sekolah mengalami gangguan aktivitas. Masyarakat di Medan juga merasakan getaran meski jarak jauh.
Gempa ini menjadi pengingat bahwa tinggal di jalur cincin api memerlukan kesadaran penuh terhadap risiko. Pemerintah dan warga perlu terus memperkuat kesiapsiagaan, dari edukasi kebencanaan hingga pembangunan bangunan tahan gempa. Alam tidak bisa dinegosiasikan yang bisa dilakukan hanyalah bersiap, bukan panik. @dimas





