Tabooo.id: Bisnis – Serangan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) memperuncing ketegangan yang sebelumnya meningkat akibat kebuntuan negosiasi program nuklir Teheran. Lonjakan ini langsung mendorong harga minyak dunia dan menimbulkan kekhawatiran atas stabilitas fiskal serta inflasi domestik.
Ketegangan semakin meningkat setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan tersebut. Peristiwa ini meningkatkan risiko aksi balasan militer dan menambah ketidakpastian di Timur Tengah, yang segera terasa di pasar energi global.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai pasar komoditas kini menghadapi volatilitas harga minyak yang lebih tinggi.
“Tekanan bisa bertambah jika eskalasi atau aksi balasan mengganggu pasokan, terutama melalui Selat Hormuz,” ujar Andry.
Harga minyak mentah Brent melonjak ke 72,8 dolar AS per barel, jauh di atas posisi awal tahun 60,9 dolar AS per barel. Brent menjadi patokan global untuk sekitar dua pertiga pasokan minyak dunia.
Dampak Langsung bagi Indonesia
Sebagai pengimpor minyak, Indonesia langsung merasakan dampaknya. APBN 2026 mengasumsikan harga minyak 70 dolar AS per barel, sementara harga Brent sudah menembus 72 dolar AS per barel. Analisis Bank Mandiri menunjukkan, setiap kenaikan 1 dolar AS menambah beban subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 10,3 triliun, sedangkan tambahan penerimaan pajak dan royalti hanya Rp 3,5 triliun.
Andry memperingatkan, jika harga minyak tetap tinggi, pemerintah mungkin menaikkan harga BBM bersubsidi. Hal ini langsung mendorong inflasi domestik. Kenaikan harga Pertalite 10 persen dapat menambah inflasi 0,27 poin persentase, sementara solar 10 persen menambah 0,05 poin persentase.
Lonjakan harga minyak juga menekan rupiah. Tahun lalu, konflik Iran-Israel mendorong depresiasi rupiah lebih dari 2 persen. Minggu ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.800-17.000 per dolar AS, dengan kemungkinan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.
Tekanan Biaya Logistik
Harga minyak yang naik langsung memengaruhi biaya logistik. Founder Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menjelaskan, transportasi jalan masih menjadi tulang punggung logistik nasional. Biaya truk sangat sensitif terhadap harga solar; kenaikan 10 persen mendorong ongkos angkut 3,5–4 persen, 20 persen menaikkan 7–8 persen, dan 30 persen bisa melonjak 10,5-12 persen.
Kenaikan ongkos truk merambat ke harga barang. Dengan rata-rata biaya logistik 14 persen dari harga produk, separuh berasal dari transportasi jalan. Kenaikan 7-8 persen berpotensi menambah harga barang rata-rata 0,5 persen. Komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi cepat saji paling terdampak karena margin tipis.
Industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi risiko ganda: biaya impor naik akibat harga minyak tinggi, dan distribusi domestik ikut terdorong. Sektor konstruksi dan UMKM pun rentan terhadap lonjakan biaya angkut.
Setijadi menekankan, pemerintah perlu menjaga stabilitas BBM melalui kebijakan fiskal adaptif dan mempercepat diversifikasi energi. Optimalisasi konektivitas multimoda, termasuk angkutan laut dan kereta api, menjadi kunci menurunkan risiko fluktuasi harga solar. Tanpa reformasi logistik, setiap gejolak global langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan melemahkan daya beli masyarakat.
Refleksi
Gejolak di Timur Tengah bukan sekadar berita jauh. Setiap dolar tambahan pada harga minyak terasa langsung di rak pasar, ongkos truk, dan dompet rumah tangga. Jadi, sementara diplomat sibuk di meja negosiasi, masyarakat menyaksikan realitas ekonomi bergerak dengan ritme yang tak kalah brutal. @dimas




