Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lonjakan Harga Minyak Pascaserangan ke Iran Tekan APBN dan Picu Inflasi

by dimas
Maret 1, 2026
in Bisnis, Reality
A A
Home Reality Bisnis
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Bisnis – Serangan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) memperuncing ketegangan yang sebelumnya meningkat akibat kebuntuan negosiasi program nuklir Teheran. Lonjakan ini langsung mendorong harga minyak dunia dan menimbulkan kekhawatiran atas stabilitas fiskal serta inflasi domestik.

Ketegangan semakin meningkat setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan tersebut. Peristiwa ini meningkatkan risiko aksi balasan militer dan menambah ketidakpastian di Timur Tengah, yang segera terasa di pasar energi global.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai pasar komoditas kini menghadapi volatilitas harga minyak yang lebih tinggi.

“Tekanan bisa bertambah jika eskalasi atau aksi balasan mengganggu pasokan, terutama melalui Selat Hormuz,” ujar Andry.

Harga minyak mentah Brent melonjak ke 72,8 dolar AS per barel, jauh di atas posisi awal tahun 60,9 dolar AS per barel. Brent menjadi patokan global untuk sekitar dua pertiga pasokan minyak dunia.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Dampak Langsung bagi Indonesia

Sebagai pengimpor minyak, Indonesia langsung merasakan dampaknya. APBN 2026 mengasumsikan harga minyak 70 dolar AS per barel, sementara harga Brent sudah menembus 72 dolar AS per barel. Analisis Bank Mandiri menunjukkan, setiap kenaikan 1 dolar AS menambah beban subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 10,3 triliun, sedangkan tambahan penerimaan pajak dan royalti hanya Rp 3,5 triliun.

Andry memperingatkan, jika harga minyak tetap tinggi, pemerintah mungkin menaikkan harga BBM bersubsidi. Hal ini langsung mendorong inflasi domestik. Kenaikan harga Pertalite 10 persen dapat menambah inflasi 0,27 poin persentase, sementara solar 10 persen menambah 0,05 poin persentase.

Lonjakan harga minyak juga menekan rupiah. Tahun lalu, konflik Iran-Israel mendorong depresiasi rupiah lebih dari 2 persen. Minggu ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.800-17.000 per dolar AS, dengan kemungkinan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.

Tekanan Biaya Logistik

Harga minyak yang naik langsung memengaruhi biaya logistik. Founder Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menjelaskan, transportasi jalan masih menjadi tulang punggung logistik nasional. Biaya truk sangat sensitif terhadap harga solar; kenaikan 10 persen mendorong ongkos angkut 3,5–4 persen, 20 persen menaikkan 7–8 persen, dan 30 persen bisa melonjak 10,5-12 persen.

Kenaikan ongkos truk merambat ke harga barang. Dengan rata-rata biaya logistik 14 persen dari harga produk, separuh berasal dari transportasi jalan. Kenaikan 7-8 persen berpotensi menambah harga barang rata-rata 0,5 persen. Komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi cepat saji paling terdampak karena margin tipis.

Industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi risiko ganda: biaya impor naik akibat harga minyak tinggi, dan distribusi domestik ikut terdorong. Sektor konstruksi dan UMKM pun rentan terhadap lonjakan biaya angkut.

Setijadi menekankan, pemerintah perlu menjaga stabilitas BBM melalui kebijakan fiskal adaptif dan mempercepat diversifikasi energi. Optimalisasi konektivitas multimoda, termasuk angkutan laut dan kereta api, menjadi kunci menurunkan risiko fluktuasi harga solar. Tanpa reformasi logistik, setiap gejolak global langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan melemahkan daya beli masyarakat.

Refleksi

Gejolak di Timur Tengah bukan sekadar berita jauh. Setiap dolar tambahan pada harga minyak terasa langsung di rak pasar, ongkos truk, dan dompet rumah tangga. Jadi, sementara diplomat sibuk di meja negosiasi, masyarakat menyaksikan realitas ekonomi bergerak dengan ritme yang tak kalah brutal. @dimas

Tags: 2026APBNBBMbiayaDomestikEkonomi IndonesiaEnergiGeopolitikGlobalInflasiKenaikanKomoditasLogistikLonjakanNasionalPanganPerang IranRupiahSelat HormuzSeranganTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

by dimas
Juni 9, 2026

Chatib Basri bertemu Prabowo selama dua jam di Istana. Apakah ini sekadar konsultasi ekonomi atau sinyal perubahan di Dewan Ekonomi...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

by teguh
Juni 8, 2026

Investasi menjadi kesejahteraan adalah ujian terbesar yang sedang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ramainya spekulasi reshuffle kabinet, tantangan...

Next Post
KAI Daop 8 Surabaya Sediakan Diskon 30 Persen untuk Tiket Mudik Lebaran

KAI Daop 8 Surabaya Sediakan Diskon 30 Persen untuk Tiket Mudik Lebaran

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id