• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Bisnis

Rupiah Naik ke Rp16.744, Efek Kebijakan Trump Mulai Terasa

Februari 26, 2026
in Bisnis, News
A A
Rupiah Naik ke Rp16.744, Efek Kebijakan Trump Mulai Terasa

Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Foto:Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Bisnis – Nilai tukar rupiah menguat saat pembukaan perdagangan Kamis (26/2/2026) ke level Rp16.744 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda naik 56 poin atau sekitar 0,33 persen dibanding posisi sebelumnya.

Pergerakan ini tidak terjadi tanpa sebab. Ekonom menilai faktor global khususnya kebijakan perdagangan AS menjadi pemicu utama perubahan arah rupiah.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan penguatan rupiah berkaitan erat dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menegaskan akan mempertahankan kebijakan tarif perdagangan tinggi. Sikap tersebut justru meningkatkan ketidakpastian pasar global dan membuat permintaan terhadap dolar AS melemah.

“Penguatan ini terkait erat dengan penegasan kembali komitmen Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif, yang meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan AS di masa depan dan meredam permintaan terhadap dolar AS,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Tarif AS Picu Ketidakpastian Global

Pemerintah AS hingga kini belum menunjukkan tanda akan melonggarkan kebijakan tarif. Trump bahkan menyatakan mitra dagang asing kemungkinan akan tetap mengikuti perjanjian perdagangan yang ia buat. Pernyataan tersebut membuka peluang pemerintah AS memanfaatkan tarif sebagai alternatif sumber penerimaan negara, bahkan untuk menggantikan pajak penghasilan.

Sebelumnya, pemerintah AS menaikkan tarif impor sementara dari 10 persen menjadi 15 persen setelah Mahkamah Agung AS membatalkan skema tarif lama. Langkah itu langsung memicu respons pasar keuangan global.

Dalam pidato kenegaraan pada Selasa (24/2/2026) malam waktu AS, Trump mengklaim hampir semua negara dan perusahaan ingin mempertahankan kesepakatan tarif sebelum keputusan Mahkamah Agung keluar. Pernyataan itu mendorong investor global meninjau ulang strategi investasi mereka, termasuk memindahkan sebagian aset dari dolar AS ke instrumen lain.

Efeknya terasa hingga ke Indonesia.

Siapa yang Paling Terdampak?

Penguatan rupiah membawa dampak berbeda bagi setiap kelompok masyarakat.

Importir, pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku luar negeri, serta perusahaan dengan utang dolar menjadi pihak yang paling diuntungkan. Rupiah yang lebih kuat membuat biaya impor dan kewajiban pembayaran lebih ringan.

Sebaliknya, eksportir berpotensi menghadapi tekanan. Nilai tukar yang menguat membuat harga produk Indonesia di pasar internasional relatif lebih mahal.

RelatedPosts

Jubir IRGC Tewas Diserang AS-Israel, Konflik Iran Kian Memanas

Lebaran 2026: Prabowo Undang Ribuan Warga ke Istana Kepresidenan

Bagi masyarakat umum, dampak paling nyata biasanya muncul pada harga barang. Jika tren penguatan bertahan, harga barang impor—seperti elektronik atau bahan baku pangan berpotensi turun. Namun efek tersebut tidak selalu langsung terasa karena faktor distribusi dan kebijakan domestik juga ikut menentukan.

Proyeksi Rupiah Masih Fluktuatif

Analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS. Artinya, penguatan saat ini masih terbatas dan tetap rentan berubah mengikuti sentimen global berikutnya.

Pasar keuangan Indonesia memang sangat sensitif terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Ketika AS mengubah arah, negara berkembang seperti Indonesia ikut menyesuaikan.

Pada akhirnya, nasib rupiah sering kali tidak hanya bergantung pada kondisi ekonomi dalam negeri, tetapi juga keputusan politik di belahan dunia lain. Bagi masyarakat, ukurannya tetap sederhana: kurs boleh naik turun, tetapi harga kebutuhan sehari-hari yang menentukan apakah ekonomi benar-benar terasa membaik atau tidak. @eko

Tags: BisnisDollarRupiahRupiah Menguattrump
Next Post
Ngabuburit Maksimal: Vibes Ramadan di Balai Kota Solo

Ngabuburit Maksimal: Vibes Ramadan di Balai Kota Solo

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.