Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ratusan Massa Geruduk Mapolda DIY, Robohkan Pagar dan Teriakkan Keadilan

by dimas
Februari 24, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Jalan menuju Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Selasa (24/2/2026) petang dipenuhi ratusan mahasiswa dan warga. Mereka meninggalkan kampus UPN dan berjalan kaki menuju Mapolda, bukan sekadar untuk berkumpul, tetapi untuk menyalurkan kemarahan yang menumpuk akibat tragedi di Maluku. Bahkan, mereka membawa poster dan spanduk sambil berteriak tuntutan keadilan agar aparat mendengar suara mereka.

Tragedi Maluku Memantik Kemarahan Publik

Di Kota Tual, anggota Brigade Mobil (Brimob), Bripda Mesias Siahaya, menghantam kepala seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), AT (14), hingga tewas. Berita kematian itu memicu gelombang kemarahan di Yogyakarta.

“Ini bentuk kemarahan masyarakat Jogja terkait apa yang terjadi di Maluku. Ada bocah 14 tahun yang nggak salah apa-apa, tiba-tiba dihantam helm kepalanya, terus tewas,” ujar peserta aksi berinisial UDE.

Akibat peristiwa ini, masyarakat menyadari bahwa sistem hukum gagal melindungi anak-anak. Oleh karena itu, aksi kali ini menjadi ekspresi spontan kemarahan publik yang ingin suaranya terdengar.

Aksi Tanpa Panggung dan Rundown

Sejak aksi terakhir pada Agustus tahun lalu, masyarakat menilai reformasi Polri tidak berjalan. Karena frustrasi, mereka bergerak tanpa panggung orasi, tanpa draf tuntutan, dan tanpa alur yang terencana. Massa mengekspresikan kekecewaan dengan mencoret pagar Mapolda menggunakan pylox dan merobohkan tembok di sisi timur. Dengan cara ini, setiap tindakan menjadi ekspresi spontan kemarahan publik.

Ini Belum Selesai

Demo Ricuh di Balai Kota Yogyakarta, HMI Soroti Krisis Sampah

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

Ketegangan di Halaman Mapolda

Ketegangan memuncak ketika massa merangsek ke halaman Mapolda. Petugas memasang kawat berduri dan menyiagakan kendaraan rantis, tetapi sebagian massa berhasil menembus penghalang tersebut. Teriakan dan langkah mereka bergema, menegaskan ketidakpercayaan publik terhadap institusi yang seharusnya melindungi masyarakat, bukan menakutinya.

“Yang busuk itu bukan oknum, tapi seluruh institusinya. Aksi ini adalah upaya meluapkan kemarahan masyarakat Jogja,” tambahnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa yang terdampak bukan hanya keluarga korban di Maluku, tetapi seluruh masyarakat yang merasakan ketidakadilan dari lembaga yang seharusnya menegakkan hukum.

Permintaan Maaf Bripda Mesias, Namun Publik Masih Marah

Bripda Mesias meminta maaf atas kelalaiannya yang menyebabkan kematian AT, dan polisi langsung memecatnya. Namun, pengusiran satu anggota saja tidak mampu meredam amarah publik. Warga dan mahasiswa menilai tragedi ini sebagai pengingat pahit ketika institusi gagal menegakkan keadilan, masyarakat harus mengubah ruang publik menjadi arena tuntutan pertanggungjawaban.

Di tengah puing pagar yang roboh dan cat semprot yang menempel, tersimpan pesan jelas: warga yang terdampak langsung tidak bisa diabaikan. Dalam demokrasi, teriakan di jalan terkadang lebih efektif daripada surat resmi. Akhirnya, kemarahan masyarakat menjadi saksi bisu kegagalan reformasi yang katanya sudah lama dijalankan. @dimas

Tags: Breaking NewsDemoDemokrasiJalananJogjaKeadilanMahasiswaMalukuMassaPolda DIYPolriReformasiSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Demo Ricuh di Balai Kota Yogya, HMI Soroti Krisis Sampah

Demo Ricuh di Balai Kota Yogyakarta, HMI Soroti Krisis Sampah

by dimas
Juli 28, 2026

Ratusan mahasiswa HMI menggelar aksi yang sempat ricuh di Balai Kota Yogyakarta untuk memprotes krisis sampah. Massa mendesak Pemkot menghadirkan...

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

by dimas
Juli 28, 2026

Kasus satpam di Bundaran HI mengungkap mental feodal yang masih mengakar. Saat jabatan mengalahkan martabat, demokrasi menghadapi ujian serius. Tabooo.id...

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

by eko
Juli 28, 2026

Istilah Londo Ireng kembali viral setelah disebut Presiden Prabowo Subianto. Di balik polemiknya, tersimpan sejarah panjang tentang tentara Afrika di...

Next Post
Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi?

Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id