Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gedung Cerutu, Seabad Cerita Kota yang Tersimpan di Batu Bata

by dimas
Februari 21, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pernahkah kamu berjalan di Jalan Rajawali, Kota Lama Surabaya, dan menoleh ke atas hanya untuk terpaku pada menara berbentuk unik? Dari kejauhan, bentuknya sederhana tapi memikat seperti cerutu yang menjulang ke langit. Warga Surabaya menamai bangunan itu Gedung Cerutu, dan bagi mata yang jeli, ia bukan sekadar landmark estetik. Ia adalah lembaran sejarah yang masih berdiri kokoh, di tengah hiruk-pikuk modernitas kota.

Dari Perdagangan Gula ke Pilar Kolonial

Bangunan ini lahir pada 1916 sebagai kantor Java Sugar Syndicate, perusahaan gula besar di Hindia Belanda. Arsiteknya, N.V. Maatsschappij Tot Exploitatie Van Het Bureau Gebroders Knaud, merancangnya dengan gaya Indische Empire Style, yang kala itu populer di kalangan kolonial Belanda. Pilar tinggi, fasad simetris, jendela besar setiap detail menandai kemewahan abad ke-20. Surabaya kala itu menemukan simbol ekonominya di gedung ini.

Seiring berjalannya waktu, Gedung Cerutu tak berhenti bercerita. Ia berganti fungsi kantor Bridgestone, kantor pribadi Said bin Oemar Bagil, hingga Kantor Bank Bumi Daya pasca kemerdekaan. Kini, setelah lebih dari satu abad, ia menjadi bagian dari aset Bank Mandiri, namun aura sejarahnya tetap menyelimuti.

Saksi Bisu Revolusi

Lokasinya yang berada di sekitar Jembatan Merah menambah lapisan cerita. Di sini Brigadir Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, yang memicu Pertempuran 10 November. Bayangkan tembok-tembok yang hari ini tampak estetik pernah menyaksikan darah, teriakan, dan semangat juang arek-arek Suroboyo. Udara mungkin telah berubah, tapi gema perlawanan tetap menempel di setiap batu bata.

Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2009, Gedung Cerutu mendapat perhatian lebih serius. Meski fungsinya berubah, bentuk asli bangunan tetap terjaga. Ornamen kolonial, fasad simetris, dan jendela besar masih menatap pengunjung, seolah memanggil mereka untuk menyelami masa lalu.

Ini Belum Selesai

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Menyelami Atmosfer Surabaya dari Sudut Berbeda

Orang datang ke sini bukan hanya untuk berfoto di depan menara cerutu yang ikonik, tapi juga untuk merasakan atmosfer kota dari perspektif berbeda. Dari perdagangan gula, masa kolonial, revolusi, hingga era digital sekarang, semua lapis zaman terekam di sini. Setiap sudut mengingatkan bahwa kota ini dibentuk oleh waktu, konflik, dan perdagangan.

Mengunjungi Gedung Cerutu berarti memberi ruang bagi ingatan kolektif kota agar tetap hidup. Di tengah gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan modern, bangunan ini berdiri tenang, mengajarkan satu hal Surabaya tidak dibangun dalam sehari. Dari sindikat gula hingga tembakan yang mengubah jalannya revolusi, semua tersimpan rapi di balik fasad elegan itu.

Sejarah yang Berbisik

Menara cerutu adalah metafora kota yang tak pernah melupakan masa lalunya. Fungsi boleh berubah, cat boleh berganti, tetapi memori kolektif tetap hidup. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar teks di buku ia hidup melalui bangunan, jalan, dan udara yang kita hirup.

Lain kali saat melewati Jalan Rajawali, pandanglah ke atas. Lihat menara cerutu itu menjulang. Dengarkan. Siapa tahu temboknya masih punya cerita untuk dibisikkan tentang gula, revolusi, dan kota yang terus menua dengan anggun. @Sabrina Fidhi – Surabaya

Tags: ArsitekturCagar BudayaKolonialKotaKota LamaNasionalRevolusiSejarahsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Bicara Cara Bertahan

Saat Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Belum Selesai Bertahan

by jeje
Mei 9, 2026

Di tengah harga pangan yang terus naik, pedagang kecil mulai menghadapi dilema paling melelahkan: menaikkan harga jual dan kehilangan pelanggan,...

Next Post
Helm Baja, Nyawa Anak, dan Pertanyaan untuk Aparat

Helm Baja, Nyawa Anak, dan Pertanyaan untuk Aparat

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id